<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162</id><updated>2012-02-17T01:58:43.580+07:00</updated><title type='text'>PERSPEKTIF</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>25</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-1761448835721514484</id><published>2011-10-18T07:22:00.000+07:00</published><updated>2011-10-18T07:23:35.220+07:00</updated><title type='text'>PKS Layak Dihukum</title><content type='html'>&lt;p class="articleinfo"&gt;&lt;span class="createdby"&gt;Oleh Putra &lt;/span&gt;&lt;span class="createdate"&gt;Minggu, 16 Oktober 2011 03:29 &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="ja-thumbnailwrap thumb-right" style="width: 200px;"&gt;&lt;div class="ja-thumbnail clearfix"&gt;&lt;div class="thumbnail" style="position: relative; z-index: 2;"&gt;&lt;a rel="jagroupgroup" class="fancyboxgroup" href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/29656_1456151854020_1540055019_1131477_2034805_n.jpg" title=""&gt;&lt;img src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/29656_1456151854020_1540055019_1131477_2034805_n.jpg" style="float: left;" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Manuver politik yang dilakukan PKS pada detik-detik terakhir menjelang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reshuffle &lt;/span&gt;Kabinet  Indonesia Bersatu II perlu disikapi secara tegas oleh Presiden SBY.  Pasalnya, manuver tersebut tidak hanya mengganggu konsentrasi Presiden  dalam menata ulang KIB II, tetapi lebih dari itu telah melakukan ancaman  secara tidak langsung kepada Presiden. Ancaman yang bersifat politis  ini adalah bukti ketidakloyalan PKS kepada SBY.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Demikian dikatakan Ketua Umum PP. Pemuda Muhammadiyah, Saleh P. Daulay kepada &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rakyat Merdeka Online &lt;/span&gt;sesaat lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pernyataan sikap PKS dalam merespon &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reshuffle &lt;/span&gt;kabinet  betul-betul sikap perlawanan terhadap SBY. Bayangkan, mereka secara  tegas berani mengancam SBY untuk keluar dari kabinet bila menteri mereka  ada yang diganti. Sikap seperti ini memperlihatkan sikap sombong PKS.  Apalagi bila dibandingkan dengan sikap anggota koalisi lain yang jumlah  suaranya di parlemen jauh lebih besar," tegas Saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut Saleh, sikap PKS ini juga sangat tidak proporsional. Di satu pihak mereka selalu berteriak-teriak kalau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reshuffle &lt;/span&gt;kabinet  itu adalah hak preogratif presiden. Tetapi di pihak lain mereka  mengintervensi hak preogratif itu melalui pernyataan yang mengandung  unsur ancaman kepada SBY. Kalau benar PKS mengakui &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reshuffle &lt;/span&gt;kabinet  adalah hak preogratif presiden, sebaiknya mereka tidak perlu ikut  campur apalagi melakukan intimidasi politik kepada presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain  itu, dalam perjalanan koalisi dalam dua tahun terakhir ini, PKS selalu  saja tidak bersikap kooperatif dengan keinginan SBY. Hal ini terbukti  dengan sikap dan pandangan PKS dalam menyikapi masalah kasus &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bailout &lt;/span&gt;Bank  Century dan pembentukan Panitia Khusus Mafia Pajak di parlemen beberapa  waktu lalu. Sikap politik semacam ini bukanlah sikap politik mitra  koalisi yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di saat SBY butuh dukungan mereka di parlemen, mereka ramai-ramai menolak mendukung. Sementara, di saat SBY mau me-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;reshuffle &lt;/span&gt;kabinet,  mereka seakan-akan hendak menyatakan bahwa merekalah pendukung SBY dari  awal sehingga menteri mereka tidak boleh diganti begitu saja," tambah  Saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi masalah ini, Saleh yang juga dosen FISIP UIN  Syarif Hidayatullah Jakarta ini menyatakan bahwa sudah tepat jika SBY  menggunakan momentum &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reshuffle &lt;/span&gt;ini  untuk menghukum PKS. Ini penting dilakukan SBY sebagai pembelajaran  politik bagi semua komponen bangsa. Tanpa dukungan PKS, pemerintahan SBY  masih tetap solid dan kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya kira SBY bisa menghukum PKS  dengan mengambil 2 kementerian dari 4 kementerian yang mereka punya.  Saya kira, 2 kementerian sudah sangat pas bagi PKS bila dibandingkan  dengan sikap dan perilaku politik mereka selama ini. Bila mereka tidak  menerima, ya SBY harus rela mempersilahkan mereka menonton di luar ring.  Apalagi PKS selalu menyatakan bahwa masih banyak arena pengabdian yang  bisa mereka lakukan selain berkiprah di kabinet," demikian Saleh  mengakhiri.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sumber : http://www.pemuda-muhammadiyah.or.id/component/content/article/318-berita-depan/1809-pks-layak-dihukum.html&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-1761448835721514484?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/1761448835721514484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=1761448835721514484' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/1761448835721514484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/1761448835721514484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2011/10/pks-layak-dihukum.html' title='PKS Layak Dihukum'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-3754540574276416123</id><published>2010-09-11T22:20:00.005+07:00</published><updated>2010-09-11T23:02:43.735+07:00</updated><title type='text'>FILM SANG PENCERAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9jITEpZXM88/TIuf03eJ_TI/AAAAAAAAABo/5hV51_gLqNs/s1600/Film-Sang-Pencerah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 280px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9jITEpZXM88/TIuf03eJ_TI/AAAAAAAAABo/5hV51_gLqNs/s400/Film-Sang-Pencerah.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5515677899237752114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana, Arial, sans-serif; font-size: 11px; color: rgb(51, 51, 51); line-height: 16px; "&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0.5em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.5em; margin-left: 0px; "&gt;&lt;b&gt;Sang Pencerah&lt;/b&gt; merupakan film yang mengangkat kisah dari tokoh besar yang hidup di tahun 1800-an, KH. Ahmad Dahlan. Ya, tidak tanggung-tanggung memang yang dibuat oleh Hanung yang juga duduk sebagai penulis skenario. Tokoh pendiri Muhammadiyah itu coba dibuat oleh Hanung dalam bentuk layar lebar yang siap memberikan tontonan segar tahun ini.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.5em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.5em; margin-left: 0px; "&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0.5em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.5em; margin-left: 0px; "&gt;&lt;b&gt;Sang Pencerah&lt;/b&gt; menceritakan seorang pemuda berusia 21 tahun bernama Darwis (Ihsan Taroreh). Pemuda itu gelisah dengan lingkungannya yang melaksanakan syariat Islam yang melenceng ke arah sesat. Untuk mendalami ajaran agama Islam, Darwis pun pergi ke Mekkah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0.5em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.5em; margin-left: 0px; "&gt;Sepulangnya dari Mekkah, Darwis merubah namanya menjadi Ahmad Dahlan (Lukman Sardi). Ia mendirikan sebuah langgar/surau dan mengawali pergerakannya dengan mengubah arah kiblat yang salah di Masjid Besar Kauman. Tindakannya itu serta merta mengundang kemarahan seorang kyai penjaga tradisi, Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo) yang mengakibatkan surau Ahmad Dahlan dirobohkan karena dianggap mengajarkan aliran sesat.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0.5em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.5em; margin-left: 0px; "&gt;Cobaan Ahmad Dahlan dalam pergerakannya meluruskan syariat Islam pun tidak hanya sampai di situ. Dirinya juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo, bahkan dirinya disebut kafir.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0.5em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.5em; margin-left: 0px; "&gt;Namun semangat Ahmad Dahlan tidak pernah surut. Bersama istri tercinta, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) dan lima murid murid setianya : Sudja (Giring Nidji), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adishwara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif), Ahmad Dahlan terus berjuang. Sampai pada akhirnya ia membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0.5em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.5em; margin-left: 0px; "&gt;Meskipun film ini harus Anda nikmati dengan durasi 112 menit, Anda tidak perlu takut untuk merasa bosan di dalam bioskop. Anda akan dibuat ikut merasakan perjuangan Ahmad Dahlan dalam adegan demi adegan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0.5em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.5em; margin-left: 0px; "&gt;Apalagi tokoh besar Muhammadiyah itu diperankan seorang Lukman Sardi yang di sini semakin menunjukkan kualitas aktingnya yang semakin meningkat. Lukman berhasil menjaga kharismatik dan menggambarkan semangat perjuangan Ahmad Dahlan dengan baik. Kata sempurna sepertinya tidak berlebihan untuk aktor yang telah berperan dengan berbagai karakter ini.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0.5em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.5em; margin-left: 0px; "&gt;Tidak luput juga akting dari para penyanyi yang mampu melirik perhatian mata penonton,  Giring Nidji dan Ihsan Taroreh. Keduanya mampu membuktikan bahwa dirinya tidak hanya menang  di atas panggung saja, namun dengan akting yang dipertontonkan dalam film ini oleh kedua penyanyi tersebut, nampaknya bisa mengawali diri mereka untuk berperan dalam film selanjutnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;margin-top: 0.5em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.5em; margin-left: 0px; "&gt;Terlepas dari para pemain, tentunya setting tempat yang menggambarkan tahun 1800-an juga menjadi nilai plus dari film produksi MVP Pictures ini. Yogyakarta yang dipilih sebagai lokasi, berhasil Hanung sulap menjadi sebuah perkampungan Yogyakarta pada tahun 1800-an. Ia mampu menghidupkan kembali atmosfer pada tahun tersebut dengan mereka-ulang bangunan Masjid Agung Kauman, wilayah keraton, stasiun lempuyangan, bahkan sudut-sudut kota Yogyakarta dengan sangat realistis.&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.5em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.5em; margin-left: 0px; "&gt;sumber : &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.5em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.5em; margin-left: 0px; "&gt;&lt;a href="http://www.21cineplex.com/sang-pencerah,movie,2364.htm"&gt;http://www.21cineplex.com/sang-pencerah,movie,2364.htm&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.5em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.5em; margin-left: 0px; "&gt;&lt;object width="480" height="385"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/L68jlyUEBYc?fs=1&amp;amp;hl=en_US"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/L68jlyUEBYc?fs=1&amp;amp;hl=en_US" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="480" height="385"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.5em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.5em; margin-left: 0px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.5em; margin-right: 0px; margin-bottom: 0.5em; margin-left: 0px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-3754540574276416123?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/3754540574276416123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=3754540574276416123' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/3754540574276416123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/3754540574276416123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2010/09/film-sang-pencerah.html' title='FILM SANG PENCERAH'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9jITEpZXM88/TIuf03eJ_TI/AAAAAAAAABo/5hV51_gLqNs/s72-c/Film-Sang-Pencerah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-416848248471442583</id><published>2009-09-10T17:54:00.002+07:00</published><updated>2009-09-10T18:19:57.224+07:00</updated><title type='text'>Seminar Ekonomi Islam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9jITEpZXM88/SqjgzvyoDAI/AAAAAAAAABY/PCVf5IuaCDg/s1600-h/Untitled-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 275px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9jITEpZXM88/SqjgzvyoDAI/AAAAAAAAABY/PCVf5IuaCDg/s400/Untitled-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5379796934500813826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-416848248471442583?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/416848248471442583/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=416848248471442583' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/416848248471442583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/416848248471442583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2009/09/seminar-ekonomi-islam.html' title='Seminar Ekonomi Islam'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9jITEpZXM88/SqjgzvyoDAI/AAAAAAAAABY/PCVf5IuaCDg/s72-c/Untitled-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-4606692612242025078</id><published>2009-04-17T21:04:00.004+07:00</published><updated>2009-04-17T21:17:42.414+07:00</updated><title type='text'>Tadabur Alam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9jITEpZXM88/SeiPVShNfaI/AAAAAAAAABQ/u6dhWhR7c4Q/s1600-h/Pamflet.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 283px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9jITEpZXM88/SeiPVShNfaI/AAAAAAAAABQ/u6dhWhR7c4Q/s400/Pamflet.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325664155276770722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_9jITEpZXM88/SeiNPoCLrKI/AAAAAAAAABI/3htIMFsQsY0/s1600-h/Pamflet.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-4606692612242025078?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/4606692612242025078/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=4606692612242025078' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/4606692612242025078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/4606692612242025078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2009/04/tadabur-alam.html' title='Tadabur Alam'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9jITEpZXM88/SeiPVShNfaI/AAAAAAAAABQ/u6dhWhR7c4Q/s72-c/Pamflet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-5261620016217880086</id><published>2008-12-23T18:55:00.000+07:00</published><updated>2008-12-23T18:58:01.125+07:00</updated><title type='text'>ETIKA POLITIK IBN TAYMIYYAH</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHendra%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHendra%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHendra%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} h1 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-link:"Heading 1 Char"; 	mso-style-next:Normal; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:justify; 	line-height:150%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:1; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-font-kerning:0pt;} span.Heading1Char 	{mso-style-name:"Heading 1 Char"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Heading 1"; 	mso-ansi-font-size:12.0pt; 	mso-bidi-font-size:12.0pt; 	font-weight:bold;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:612.1pt 792.1pt; 	margin:72.0pt 89.85pt 72.0pt 89.85pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Oleh: Okky Tirtoadhisoerjo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Koord.kelompok studi Kedai Pemikiran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aktivis Nurcholish Madjid Society(NCMS)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendahuluan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Etika atau filsafat moral merupakan bagian teoritis dari filsafat. Filsafat (baca: etika) teoritis ini membicarakan atau menyoal akar keberadaan sesuatu. Dalam pada itu, apa yang dimaksud dengan filsafat moral atau sebut saja etika, sejatinya merupakan suatu bidang keilmuan yang bersifat khusus sebagaimana yang disebut Magnis sebagai “&lt;i style=""&gt;einzelwissen&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;schaften&lt;/i&gt;” (Suseno,2003: 10) dimana topik pembahasannya adalah tema- tema seputar hal-hal atau ideal- ideal yang normatif. Berkenaan dengan itu, apa yang dimaksud dengan etika politik merupakan suatu bagian ilmu politik yang bersifat khusus dan memiliki kekhasannya sendiri sebagaimana ilmu-ilmu selainnya. Apa yang dimaksud dengan etika politik ialah suatu disiplin ilmu yang bersifat teoritis dan juga normatif. Saya katakana demikian sebab memang dalam kapasitasnya sebagai ilmu teoritis, etika politik hanya bermain pada bidang- bidang yang menyoal hal-ha &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang berkenaan dengan politik dalam bingkai normativisme etika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Karakter demikian itu merupakan bagian inheren dan juga immanen dalam diri etika politik sebab memang ia berada dalam ranah normativisme etika yang berbicara dalam kerangka layak dan atau tidak layak, bukan dalam bingkai benar dan atau salah. Artinya bahwa sebagai cabang ilmu pengetahuan, etika politik membahas tentang apa yang seharusnya, apa yang layak, dan apa yang semestinya dilakukan berkenaan dengan dunia politik. Diantara pembahasan pokok yang diangkat ialah perrihal otoritas. Dalam etika politik ,otoritas dimaknai sebagai suatu kewenangan yang terlembaga. Selain itu etika poitik juga mengangkat pembahasan perihal asal muasal kedatangan otoritas tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam hal ini, kita mengenal istilah legitimasi kekuasaan, yang dimaksud adalah pembahasan seputar dari mana datangnya hak kuasa satu phak atas pihak lain dan apa alasan yang melatari sehingga lahir pengakuan terhadap kekuasaan tersebut. Dalam kajian etika politik, terdapat beragam tipologi legitimasi kekuasaan. Ada legitimasi religius kekuasaan, yakni suatu konsep tentang penerimaan kekuasaan satu pihak terhadap pihak lain atas dasar doktrin religiusitas yang bersifat &lt;i style=""&gt;devine&lt;/i&gt;. Magnis meliat bahwa kelemahan dari teori ini adalah rawannya terjadi ”kebocoran” dengan mengklaim bahwa apapun yang dilakukan penguasa merupakan ”mandat langit” sehingga ketika terjadi kesalahan pun sang penguasa tidak berkewajiban menyerahkan pertanggungjawaban(Suseno,2003:48). Menurut saya, ini sangat merugikan bagi pihak yang berada dibawah kekuasaan sebab apapun yang dilakukan penguasa adalah suatu hal yang tak boleh dipertanyakan pertanggungjawabannya, sehingga rawan terjadi malpraktik kekuasaan. Otoritas berubah menjadi otoritarianisme atas nama mandat langit dimana penguasa mengklaim dirinya sebagai &lt;i style=""&gt;zilalillah&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;fil&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;ardh&lt;/i&gt; (bayang-bayang Tuhan di bumi).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pada kesempatan ini saya akan mengetengahkan pandangan Ibn Taymiyyah berkenaan dengan tema etika politik yang mengerucut pada pembahasan seputar legitimasi kekuasaan dalam panadangan Ibn Taymiyyah yang juga merupakan konsep pemikiran politik beliau tentang dasar pendirian suatu negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1&gt;&lt;span style="font-weight: normal;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;h1&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pemikiran Politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dalam peta pemikiran Islam, Ibn Taymiyyah adalah tokoh pemikir yang digolongkan kedalam kategori fundamentalis. Dalam hal pemikiran keagamaan, pola pemikiran beliau yang bercorak &lt;i style=""&gt;rigid&lt;/i&gt; dalam menafsirkan ajaran agama yang tertuang dalam teks-teks suci menunjukkan bahwa beliau ialah tokoh yang merupakan representasi kalangan fundamentalis literal (Isfunlit, meminjam istilah Haidar Bagir) atau skripturalis. Kategorisasi ini benar ketika kita berbicara pemikiran Ibn Taymiyyah dalam hal-hal yang berkenaan dengan doktrin keagamaan semisal &lt;i style=""&gt;fiqh&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;aqidah&lt;/i&gt;, dan lain sebagainya. Namun lain halnya ketika kita berbicara pemikiran beliau dalam domain sosial politik. Dalam ranah kajian ini, beliau tampak sangat ”sekuler”. Namun uniknya sekularitas Ibn Taymiyyah ini justeru lahir dari rahim fundamentalisme literal yang dianutnya, bukan dari liberalisme.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Artinya bahwa pandangan Ibn Taymiyyah dalam bidang politik yang tampak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bercorak sekuler tersebut lahir dari pemahaman beliau terhadap teks suci yang beliau taafsirkan secara &lt;i style=""&gt;rigid&lt;/i&gt;. Dimana letak sekularitas Ibn Taymiyyah? Dalam hal pendirian negara, berbeda dengan pandangan fundamentalis lainnya, Ibn Taymiyyah beranggapan bahwa tidak perlu didirikan negara Islam. Artinya kalau toh pada gilirannya ada sebuah negara Islam yang berdiri, maka itu merupakan buah dinamika sosial politik yang menghendaki negara tersebut berdiri, bukan merupakan hasil dogma agama. Sebab dalam kacamata Ibn Taymiyyah, tidak ada satu &lt;i style=""&gt;nash&lt;/i&gt; pun yang menyuruh mendirikan negara Islam (lihat.Khan,2001:69). Dalam karyanya, Qamaruddin Khan menukil adanya anggapan bahwa terdapat kemiripan antara konsep Ibn Taymiyyah dengan paham politik kaum &lt;i style=""&gt;Khawarij&lt;/i&gt; yang cenderung pada paham anarkisme(tanpa negara).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Menurut Ibn Taymiyyah, kendati pada akhirnya, tegaknya negara Islam dapat membantu Islam itu sendiri, namun mendirikan negara Islam bukan merupakan bagian dari pokok ajaran melainkan hanya hasil dari fenomena atau proses sosiologis. Menurut saya disini letak perbedaan beliau dengan Khawarij. Bahwa Ibn Ttaymiyyah tidak menolak berdirinya suatu negara Islam, hanya saja yang beliau persoalkan adalah problematik legitimasi kekuasaannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;Legitimasi kekuasaan: religius atau moral?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;Di awal pembahasan telah kita singgung sedikit tentang legitimasi kekuasaan. Kekuasaan dapat diartikan sebagai suatu kemampuan unuk mempengaruhi dan menerapkan apa yang kita inginkan atas pihak lain. Sedangkan legitimasi merupakan suatu pembenaran atau alas an penerimaan, dalam hal ini legitimasi kekuasaan dapat diartikan sebagai suatu alasan atau pembenaran penerimaan suatu pihak yang dikuasai atas kekuasaan pihak penguasa sehingga dalam relasinya kekuasaan tersebut &lt;i style=""&gt;legitimate. &lt;/i&gt;Bentuk dari legitimasi kekuasaan ini beragam, sebagaimana telah saya singgung di awal bahwa sedikitnya terdapat dua basis utama legitimasi kekuasaan yakni legitimasi religius dan legitimasi etis yang terbagi lagi kedalam bentuk yang lebih spesifik semisal legitimasi moral etis, legitimasi tradisional, rasional legal, dan lain sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Membahas hal ini, ada yang menarik dari pemikiran Ibn Taymiyyah. Sebagai tokoh yang termasuk dalam kategori fundamentalis, idealnya beliau termasuk pemikir politik Islam yang setuju terhadap konsep legitimasi religius kekuasaan sebagaimana para fundamentalis lain semisal al-Mawardi, al-Maududi, Khomeini, dan lain semacamnya. Dalam pandangan kalangan fundamentalis, penguasa kerap diposisikan sebagai wakil Tuhan di bumi. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ini berarti bahwa kekuasaannya merupakan representasi Ilahiyah yang mengemban tugas- tugas langit. Dalam kapasitas ini, penguasa tidak bisa dibantah, sehingga besar kemungkinan terjadi pembelokan otoritas dari kekuasaan yang suci menjadi otoritarianisme penguasa despotik yang selalu mengatasnamakan Tuhan dalam setiap kebijakannya. Ini telah terjadi pada masa pemerintahan Yazid ibn Mu’awiyah yang memerintah atas nama Ilahi namun sewenang-wenang dalam otoritasnya. Dalam posisi ini, rakyat tidak punya posisi tawar untuk mempertanyakan pertanggungjawaban atas kekuasaan tersebut. Ini disebabkan karena memang konsep legitimasi model religius tersebut tidak mengharuskan adanya pertanggung jawaban penguasa atas rakyatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mengenai hal yang berkenaan dengan legitimasi ini, Ibn Taymiyyah berpandangan bahwa dasar legitimasi kekuasaan dalam suatu pemerintahan atau negara bukanlah doktrin religiusitas. Sebab dalam pandangannya, Islam tidak pernah menyuruh untuk mendirikan negara. Menurut Ibn Taymiyyah, tidak ada satu &lt;i&gt;nash &lt;/i&gt;pun dalam Islam yang memerintahkan ummatnya untuk mendirikan negara Islam. Ini bukan berarti ia menolak negara Islam. Namun kalau toh pada gilirannya negara Islam itu berdiri, maka yang menjadi dasar legitimasinya bukanlah Islam itu sendiri melainkan legitimasi tersebut timbul dari bawah &lt;i style=""&gt;(bottom up).&lt;/i&gt; Kesadaran dan pengakuan ini timbul disebabkan oleh faktor sosial, yakni rakyat merasakan dampak positif dari kekuasaan tersebut dalam bentuk keadaan kehidupan sosial rakyat yang diuntungkan. Singkatnya, semakin rakyat merasa disejahterakan, maka semakin mereka tidak berkeberatan untuk mengakui kekuasaan tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Konklusi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari sini saya coba menarik suatu kesimpulan bahwa dalam pandangan Taymiyyah, legitimasi moral lah yang ia anggap layak diterapkan mengingat itu menguntungkan ummat. Ini tercermin dalam pernyataan beliau yang dikutip Qamaruddin Khan : ”kesejahteraan ummat tidak dapat terwujud melainkan dalam sebuah tatanan sosial dimana setiap orang saling bergantung. Dan oleh karenanya masyarakat membutuhkan seorang untuk mengatur mereka” (Khan,2001:58). Dari pernyataan ini jelas bahwa yang menjadi titik tekan bagi Taymiyyah adalah problem sosial, ini menunjukkan bahwa tanggung jawab sosial harus ada dan karenanya pemikirannya lebih cenderung pada legitimasi etis moral kekuasaan yang bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat.&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-5261620016217880086?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/5261620016217880086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=5261620016217880086' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/5261620016217880086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/5261620016217880086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/12/etika-politik-ibn-taymiyyah.html' title='ETIKA POLITIK IBN TAYMIYYAH'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-1994718759056143650</id><published>2008-11-20T17:46:00.000+07:00</published><updated>2008-11-20T17:47:55.020+07:00</updated><title type='text'>Ruang - Ruang Kehidupan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ahmad Fikri Adriansyah&lt;br /&gt;Anggota Departemen Dakwah dan Ukhuwah Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah&lt;br /&gt; Tebet Timur&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan sebuah artikel bagus tentang “Manajemen Waktu” di komputer kantor saya. Saya modifikasi sedikit di beberapa bagian dan kini saya sajikan untuk Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari seorang ahli manajemen waktu berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis. Ia tidak berceramah panjang lebar tentang manajemen waktu, tetapi ia memilih untuk menunjukkan sebuah ilustrasi sederhana. Ilustrasi itu begitu luar biasa sehingga tidak akan dengan mudah dilupakan para siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia berdiri di hadapan siswanya dia berkata, “Baiklah, sekarang waktunya kuis.” Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran satu galon yg bermulut cukup lebar dan meletakkannya di atas meja. Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu ke dalam toples.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika batu-batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yang bisa masuk ke dalamnya, dia bertanya, “Apakah toples ini sudah penuh?” Semua siswanya serentak menjawab, “Sudah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia berkata, ” Benarkah? Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat di antara celah-celah batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi, “Apakah toples ini sudah penuh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini para siswanya hanya tertegun, “Mungkin belum", salah satu dari siswanya menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus!” jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ahli kembali meraih ke bawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong di antara kerikil dan bebatuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi dia bertanya, “Apakah toples ini sudah penuh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum!” serentak para siswanya menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi dia berkata, “Bagus!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sang ahli manajemen waktu ini memandang para siswanya dan bertanya, “Apakah maksud dari ilustrasi ini?” Seorang siswanya yang antusias langsung menjawab, “Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain ke dalamnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan", jawab sang ahli, “Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa : Kalau kamu tidak meletakkan batu besar itu sebagai yang pertama, kamu tidak akan pernah bisa memasukkannya ke dalam toples sama sekali. Apakah “batu-batu besar” dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, pendidikanmu, mimpi-mimpimu, dan hal-hal lain yang kamu anggap paling berharga dalam hidupmu. Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar ini sebagai yang pertama atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk melakukannya. Jika kamu mendahulukan hal-hal kecil (“kerikil” dan “pasir”) dalam waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal kecil; kamu tidak akan punya waktu berharga yg kamu butuhkan untuk melakukan hal-hal besar dan penting dalam hidupmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, sudahkah kita mengetahui “batu-batu besar”, “kerikil”, “pasir”, dan “air” yang akan mengisi ruang-ruang kehidupan kita? Sudahkah kita mendahulukan “batu-batu besar” dan mengakhirkan “air” untuk mengisi ruang-ruang itu? Semoga kita bisa segera menjawabnya dengan tegas: YA!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-1994718759056143650?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/1994718759056143650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=1994718759056143650' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/1994718759056143650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/1994718759056143650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/11/ruang-ruang-kehidupan.html' title='Ruang - Ruang Kehidupan'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-3423427249892760212</id><published>2008-10-26T13:35:00.001+07:00</published><updated>2008-10-26T13:38:06.177+07:00</updated><title type='text'>Telaah Dinar dan Dirham Sebagai Mata Uang </title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Andhika Saputra&lt;br /&gt;Ketua Umum&lt;br /&gt;Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah&lt;br /&gt;Tebet Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHendra%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="Edit-Time-Data" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHendra%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:relyonvml/&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHendra%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHendra%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves&gt;false&lt;/w:TrackMoves&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	text-align:justify; 	line-height:50%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-link:"Footnote Text Char"; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0in; 	text-align:justify; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} span.MsoFootnoteReference 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	vertical-align:super;} a:link, span.MsoHyperlink 	{mso-style-priority:99; 	color:blue; 	mso-themecolor:hyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	color:purple; 	mso-themecolor:followedhyperlink; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:.5in; 	mso-add-space:auto; 	text-align:justify; 	line-height:50%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpFirst, li.MsoListParagraphCxSpFirst, div.MsoListParagraphCxSpFirst 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:.5in; 	mso-add-space:auto; 	text-align:justify; 	line-height:50%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpMiddle, li.MsoListParagraphCxSpMiddle, div.MsoListParagraphCxSpMiddle 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:.5in; 	mso-add-space:auto; 	text-align:justify; 	line-height:50%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} p.MsoListParagraphCxSpLast, li.MsoListParagraphCxSpLast, div.MsoListParagraphCxSpLast 	{mso-style-priority:34; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:.5in; 	mso-add-space:auto; 	text-align:justify; 	line-height:50%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} span.FootnoteTextChar 	{mso-style-name:"Footnote Text Char"; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Footnote Text"; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	text-align:justify; 	line-height:50%;}  /* Page Definitions */  @page 	{mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/Hendra/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fs; 	mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/Hendra/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fcs; 	mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/Hendra/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") es; 	mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/Hendra/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:218825207; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1030005828 67698699 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	font-family:Wingdings;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:auto; 	mso-para-margin-left:0in; 	text-align:justify; 	line-height:50%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:f&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/o:lock&gt;&lt;v:shape id="Picture_x0020_4" spid="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style="width: 451.5pt; height: 109.5pt; visibility: visible;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHendra%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_image001.png" title=""&gt; &lt;/v:imagedata&gt;&lt;/v:shape&gt;&lt;/v:path&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:f&gt;&lt;/v:formulas&gt;&lt;/v:stroke&gt;&lt;/v:shapetype&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.5in; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;(QS at-Taubah: 34)&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Saat ini, perekonomian dunia sedang mengalami reses dan krisis berkelanjutan. Volatilitas dan ketidakstabilan menjadi fenomena yang mengganggu perekonomian berbagai Negara. Depresiasi dan inflasi yang tak terkawal menjadi kenyataan yang destruktif terhadap perekonomian dunia. Ini membuktikan kegagalan dari system ekonomi konvensional (kapitalisme) dalam menciptakan &lt;i style=""&gt;Welfare &lt;/i&gt;(kesejahteraan) ekonomi dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebenarnya akar pokok ketidakstabilan dan inflasi yang tidak menentu, adalah system mata uang yang dzalim dan tidak adil. Dunia saat ini, menggunakan mata uang semu (kertas) yang tanpa control dan &lt;i style=""&gt;back up&lt;/i&gt; biasa disebut dengan fiat money. Sejak berakhirnya system Bretton Woods yang mengaitkan dollar dengan emas pada tahun 1970-an. Maka saat itu pula dolar tidak ditopang lagi dengan emas dan hanya karena kepercayaan serta pemaksaan yang menjadikan dolar sebagai mata uang yang kuat didunia ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebenarnya uang kertas memiliki kelemahan mendasar, selain selalu terkena inflasi permanen (Hamidi, 2007), uang kertas jauh dari nilai keadilan (Fairness) lantaran nilai intrinsiknya tidak sama dengan nilai nominalnya.&lt;/span&gt; Sebenarnya &lt;span style="" lang="IN"&gt;untuk mencetak uang 1 dollar AS diperlukan biaya hanya 4 sen dollar AS. Maka jika dicetak uang 100 dolar AS, berapa biaya yang diperlukan? Pastinya akan semakin kecil biaya produksinya. Umar Ibrahim Vadillo (1998) manyatakan bahwa dunia saat ini dibanjiri terlalu banyak dolar. Dalam pasar uang saja terdapat sekitar 80 trilyun dolar AS pertahun. Padahal transaksi perdagangan dunia hanya sekitar 4 trilyun dolar AS pertahun. Kemana 76 trilyun dolar AS? Wajar saja bila ekonomi dunia saat ini amat memprihatinkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Perlu kita perhatikan secara seksama, total &lt;i style=""&gt;out standing &lt;/i&gt;utang AS dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 1998 jumlahnya mencapai 5,5 trilyun dolar AS dan meningkat menjadi 6,2 trilyun dolar As di akhir tahun 2002. Jelas ini jumlah yang luar biasa bila dibandingkan dengan utang Negara tercinta kita Indonesia yang “hanya” 120 miliar dolar A&lt;/span&gt;S&lt;span style="" lang="IN"&gt; pada tahun 1998 dan turun menjadi 98 miliar dolar AS pada tahun 2002. Bahkan ketika ditotalkan jumlah utang dari 52 negara termiskin dunia mencapai 375 miliar dolar AS&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 50%; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Berarti utang AS masih 16,5 kali lebih besar!! AS yang dikenal sebagai Negara Kreditor terbesar saat ini “banting stir” menjadi Negara debitor sepanjang masa. Tapi, bila Negara&lt;/span&gt; – Negara &lt;span style="" lang="IN"&gt;debitor melunasi utangnya harus berjuang sendirian, AS bisa mendapatkan solusi yang lebih elegan dan fleksibel yakni dengan melibatkan warga dunia (pemakai dolar) membayar inflasi yang ditimbulkan dolar. Bagaimana AS mengatasi masalah ini? AS tinggal mencetak dolar sebanyak-banyaknya lalu mengalihkan beban inflasinya ke segala pihak yang memegang uang dolar diseluruh dunia (Hamidi, 2007) dan ini bisa dilakukan oleh anak yang duduk di bangku sekolah. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi yang muncul akan bersifat semu (bubble economy) dan ancaman kolaps hanya tinggal menunggu waktu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sudah jelas sekali bahwa mata uang kertas yang berbasis ekonomi konvensional ternyata sangat labil dan mudah terserang penyakit kronis. Sebenarnya system ini bersifat &lt;i style=""&gt;self-destructive&lt;/i&gt;, yakni yang menghancurkan system ini adalah dirinya sendiri. Tegasnya, system ribawi itulah yang membuat perekonomian dunia terus terpuruk dan tidak pernah stabil. Bagaimana ekonomi akan berjalan dengan baik bila system ini masih berkuasa?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;Prospek dinar dan dirham&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;Bila kita menengok kembali sejarah, emas telah dipakai di kalangan orang Arab sebelum Islam datang. Allouche (1994:56) melaporkan ada dua jenis mata uang yang diterbitkan, yaitu jenis emas dan perak yang keduanya dipakai secara luas diantara para pedagang dan masyarakat sebagai media transaksi pembayaran. Ketika Islam tersebar luas, mata uang ini tetap digunakan Rasulullah SAW untuk bertransaksi bahkan Al-Qur’an menyebut kata emas (&lt;i style=""&gt;dzahab&lt;/i&gt;) dan perak (&lt;i style=""&gt;fidhdhah&lt;/i&gt;) masing – masing di delapan dan tujuh ayat&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 50%; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;span style=""&gt; &lt;span lang="IN"&gt;Kedua mata uang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;ini&lt;span style="" lang="IN"&gt; diimpor, Dinar dari Romawi dan Dirham dari Persia.&lt;/span&gt; Baru ketika masa khalifah Utsman bin Affan r.a kedua mata uang ini dimodifikasi sesuai dengan cirri dan karakter umat Islam dengan adanya simbol-simbol Islami pada mata uang tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;Mata uang dinar dan dirham (Islam) berbeda dengan mata uang kertas (kapitalisme). Dwilogam ini terbukti sengat kecil sekali inflasinya. Pada masa Rasulullah SAW, dengan 1 dinar (4,25 gr emas) orang dapat membeli seekor kambing dan dengan uang 1 dirham (2,975 gr perak) dapat dibeli seekor ayam. Pada tahun 2007, dengan 1 dinar orang masih dapat membeli kambing dan 1 dirham dapat membeli ayam. Berarti lebih dari 1400 tahun yang lalu dengan yang sekarang hampir tidak ada perubahan dalam hal nilai mata uang dinar dan dirham.dengan mata uang ini, nilai nominal dan nilai intrinsic dari dwilogam akan menyatu. Artinya, tidak perubahan dari kedua nilai tersebut dan tidak dipengaruhi oleh daya tukar terhadap mata uang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;Prospek mata uang dinar dan dirham&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;Telah terbukti bahwa mata uang dinar dan dirham lebih stabil dan konsisiten disbanding dengan mata uang dolar. Jika dinar dan dirham memperkokoh ekonomi karena dapat menahan inflasi, dolar AS justru akan merapuhkan ekonomi lantaran rentan inflasi. Disamping itu, jika system kapitalis membiarkan sector moneter lebih berkuasa dari sector real, sedang ekonomi Islam adalah ekonomi berbasis sector real. Keuntungan hanya diperoleh melalui jerih payah dalam produksi barang dan jasa bukan dari penanaman modal saham yang selalu berfluktuatif.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;Berikut ini penulis paparkan beberapa keunggulan dan kemaslahatan mata uang dinar dan dirham:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-indent: -0.25in; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Dapat mewujudkan stabilitas ekonomi makro dan mikro. Sehingga ekonomi kita tidak mengalami volatilitas. Hasil penelitian Esquivel dan Larrain (2002) menunjukkan bahwa volatilitas sangat berpengaruh terhadap penurunan ekspor dan investasi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent: -0.25in; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Dapat mengurangi secara signifikan tindakan spekulatif (&lt;i style=""&gt;gharar&lt;/i&gt;). Karena danya keseimbangan antara nilai intrinsic dan nominal dari mata uang logam tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent: -0.25in; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Penerapan dinar dan dirham menjadi kontribusi nyata system moneter syariah yang ikut memperkuat system perekonomian nasional.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent: -0.25in; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Sehingga Indonesia tidak mudah digoyang perekonomiannya oleh produsen dolar AS.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-indent: -0.25in; line-height: normal;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;Ø&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Penerapan mata uang ini akan menyulitkan masyarakat untuk melalukan tindakan pemalsuan uang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;Saat ini, emas hanya digunakan umat Islam sebagai Mahar perkawinan dan untuk membayar zakat maal. Ini cukup memprihatinkan, dimana Indonesia merupakan penduduk yang paling banyak muslimnya di seluruh dunia. Kapan kita bisa “berbuat” jangan hanya sebagai “budak” bagi Negara lain. Kita harus punya sikap untuk menyelamatkan bangsa ini dari krisis multidimensi. Berdasarkan kajian serta fakta empiris tadi, dinar dan dirham memiliki keunggulan sebagai alat tukar terbaik yang dapat meredam spekulasi, manipulasi dan menekan inflasi secara signifikan. Sehinga dapat dijadikan sebagai instrument stabilitas moneter yang ampuh. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;Gold dinar, M.Luthfi Hamidi, MA, Jakarta: senayan publishing,2007&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;Mata uang islami, Dr Ahmad Hasan, Jakarta; Rajawali Press, 2005&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, Euis Amalia, Jakarta, Granada Press, 2007&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;a href="http://www.e-dinar.com/"&gt;www.e-dinar.com&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;www.islamhariini.com&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr size="1" width="33%" align="left"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 50%; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i style=""&gt;Make Poverty History: Drop The Debt. &lt;/i&gt;&lt;a href="http://www.waronwant.org/?lid=9823"&gt;Http://www.waronwant.org/?lid=9823&lt;/a&gt;, 14 januari 2006&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 50%; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Untuk emas dalam ayat berikut: 3:91; 7:148; 9:34-35; 17:93; 18:31; 43:53. Sedang untuk perak dalam ayat&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;berikut: 9:34-35; 43:33-34; 70:8; 76:15-16.&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt; &lt;br /&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Hendra/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-2.jpg" alt="" /&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Hendra/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-3.jpg" alt="" /&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Hendra/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-4.jpg" alt="" /&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Hendra/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-5.jpg" alt="" /&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Hendra/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-6.jpg" alt="" /&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Hendra/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-7.jpg" alt="" /&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Hendra/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-8.jpg" alt="" /&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/Hendra/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-9.jpg" alt="" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-3423427249892760212?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/3423427249892760212/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=3423427249892760212' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/3423427249892760212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/3423427249892760212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/10/telaah-dinar-dan-dirham-sebagai-mata.html' title='Telaah Dinar dan Dirham Sebagai Mata Uang '/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-5009762376686283574</id><published>2008-10-26T13:29:00.004+07:00</published><updated>2008-11-20T17:44:42.716+07:00</updated><title type='text'>Quo Vadis Keislaman Kita</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Publisher.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Publisher 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHendra%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} b\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if pub]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;b:publication type="OplPub" oty="68" oh="256"&gt;   &lt;b:ohprintblock priv="30E"&gt;281&lt;/b:OhPrintBlock&gt;   &lt;b:nudefaultunits priv="1004"&gt;1&lt;/b:NuDefaultUnits&gt;   &lt;b:dptlpagedimensions type="OplPt" priv="1211"&gt;    &lt;b:xl priv="104"&gt;7772400&lt;/b:Xl&gt;    &lt;b:yl priv="204"&gt;10058400&lt;/b:Yl&gt;   &lt;/b:DptlPageDimensions&gt;   &lt;b:dxldefaulttab priv="1504"&gt;359410&lt;/b:DxlDefaultTab&gt;   &lt;b:ohgallery priv="180E"&gt;259&lt;/b:OhGallery&gt;   &lt;b:ohfancyborders priv="190E"&gt;261&lt;/b:OhFancyBorders&gt;   &lt;b:ohcaptions priv="1A0E"&gt;257&lt;/b:OhCaptions&gt;   &lt;b:ohquilldoc priv="200E"&gt;276&lt;/b:OhQuillDoc&gt;   &lt;b:ohmailmergedata priv="210E"&gt;262&lt;/b:OhMailMergeData&gt;   &lt;b:ohcolorscheme priv="220E"&gt;279&lt;/b:OhColorScheme&gt;   &lt;b:dwnextuniqueoid priv="2304"&gt;1&lt;/b:DwNextUniqueOid&gt;   &lt;b:identguid priv="2A07"&gt;0``````````````````````&lt;/b:IdentGUID&gt;   &lt;b:dpgspecial priv="2C03"&gt;5&lt;/b:DpgSpecial&gt;   &lt;b:ctimesedited priv="3C04"&gt;1&lt;/b:CTimesEdited&gt;   &lt;b:nudefaultunitsex priv="4104"&gt;1&lt;/b:NuDefaultUnitsEx&gt;   &lt;b:ohimpositionengine priv="440E"&gt;285&lt;/b:OhImpositionEngine&gt;  &lt;/b:Publication&gt;  &lt;b:printerinfo type="OplPrb" oty="75" oh="281"&gt;   &lt;b:ohcolorsepblock priv="30E"&gt;282&lt;/b:OhColorSepBlock&gt;   &lt;b:opmoutsideprintmode priv="B04"&gt;1&lt;/b:OpmOutsidePrintMode&gt;   &lt;b:finitcomplete priv="1400"&gt;False&lt;/b:FInitComplete&gt;   &lt;b:dpix priv="2203"&gt;0&lt;/b:DpiX&gt;   &lt;b:dpiy priv="2303"&gt;0&lt;/b:DpiY&gt;   &lt;b:dxloverlap priv="2404"&gt;0&lt;/b:DxlOverlap&gt;   &lt;b:dyloverlap priv="2504"&gt;0&lt;/b:DylOverlap&gt;  &lt;/b:PrinterInfo&gt;  &lt;b:colorseperationinfo type="OplCsb" oty="79" oh="282"&gt;   &lt;b:plates type="OplCsp" priv="214"&gt;    &lt;b:oplcsp type="OplCsp" priv="11"&gt;     &lt;b:ecpplate type="OplEcp" priv="213"&gt;      &lt;b:color priv="104"&gt;-1&lt;/b:Color&gt;     &lt;/b:EcpPlate&gt;    &lt;/b:OplCsp&gt;   &lt;/b:Plates&gt;   &lt;b:dzloverprintmost priv="304"&gt;304800&lt;/b:DzlOverprintMost&gt;   &lt;b:cproverprintmin priv="404"&gt;243&lt;/b:CprOverprintMin&gt;   &lt;b:fkeepawaytrap priv="700"&gt;True&lt;/b:FKeepawayTrap&gt;   &lt;b:cprtrapmin1 priv="904"&gt;128&lt;/b:CprTrapMin1&gt;   &lt;b:cprtrapmin2 priv="A04"&gt;77&lt;/b:CprTrapMin2&gt;   &lt;b:cprkeepawaymin priv="B04"&gt;255&lt;/b:CprKeepawayMin&gt;   &lt;b:dzltrap priv="C04"&gt;3175&lt;/b:DzlTrap&gt;   &lt;b:dzlindtrap priv="D04"&gt;3175&lt;/b:DzlIndTrap&gt;   &lt;b:pctcenterline priv="E04"&gt;70&lt;/b:PctCenterline&gt;   &lt;b:fmarksregistration priv="F00"&gt;True&lt;/b:FMarksRegistration&gt;   &lt;b:fmarksjob priv="1000"&gt;True&lt;/b:FMarksJob&gt;   &lt;b:fmarksdensity priv="1100"&gt;True&lt;/b:FMarksDensity&gt;   &lt;b:fmarkscolor priv="1200"&gt;True&lt;/b:FMarksColor&gt;   &lt;b:flinescreendefault priv="1300"&gt;True&lt;/b:FLineScreenDefault&gt;  &lt;/b:ColorSeperationInfo&gt;  &lt;b:textdocproperties type="OplDocq" oty="91" oh="276"&gt;   &lt;b:ohplcqsb priv="20E"&gt;278&lt;/b:OhPlcqsb&gt;   &lt;b:ecpsplitmenu type="OplEcp" priv="A13"&gt;    &lt;b:color&gt;134217728&lt;/b:Color&gt;   &lt;/b:EcpSplitMenu&gt;  &lt;/b:TextDocProperties&gt;  &lt;b:storyblock type="OplPlcQsb" oty="101" oh="278"&gt;   &lt;b:iqsbmax priv="104"&gt;1&lt;/b:IqsbMax&gt;   &lt;b:rgqsb type="OplQsb" priv="214"&gt;    &lt;b:oplqsb type="OplQsb" priv="11"&gt;     &lt;b:qsid priv="104"&gt;1&lt;/b:Qsid&gt;     &lt;b:tomfcopyfitbase priv="80B"&gt;-9999996.000000&lt;/b:TomfCopyfitBase&gt;     &lt;b:tomfcopyfitbase2 priv="90B"&gt;-9999996.000000&lt;/b:TomfCopyfitBase2&gt;    &lt;/b:OplQsb&gt;   &lt;/b:Rgqsb&gt;  &lt;/b:StoryBlock&gt;  &lt;b:colorscheme type="OplSccm" oty="92" oh="279"&gt;   &lt;b:cecp priv="104"&gt;8&lt;/b:Cecp&gt;   &lt;b:rgecp type="OplEcp" priv="214"&gt;    &lt;b:oplecp priv="F"&gt;Empty&lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="111"&gt;     &lt;b:color&gt;39372&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="211"&gt;     &lt;b:color&gt;10079436&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="311"&gt;     &lt;b:color&gt;6723993&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="411"&gt;     &lt;b:color&gt;13421772&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="511"&gt;     &lt;b:color&gt;3381555&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="611"&gt;     &lt;b:color&gt;26265&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="711"&gt;     &lt;b:color&gt;16777215&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;   &lt;/b:Rgecp&gt;   &lt;b:ischeme priv="304"&gt;65&lt;/b:IScheme&gt;   &lt;b:szschemename priv="618"&gt;Tuscany&lt;/b:SzSchemeName&gt;  &lt;/b:ColorScheme&gt;  &lt;![if pub11]&gt;  &lt;![endif]&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if pub]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;b:page type="OplPd" oty="67" oh="265"&gt;   &lt;b:ptlvorigin type="OplPt" priv="511"&gt;    &lt;b:xl&gt;22860000&lt;/b:Xl&gt;    &lt;b:yl&gt;22860000&lt;/b:Yl&gt;   &lt;/b:PtlvOrigin&gt;   &lt;b:oid priv="605"&gt;(`@`````````&lt;/b:Oid&gt;   &lt;b:ohoplwebpageprops priv="90E"&gt;266&lt;/b:OhoplWebPageProps&gt;   &lt;b:ohpdmaster priv="D0D"&gt;263&lt;/b:OhpdMaster&gt;   &lt;b:pgttype priv="1004"&gt;5&lt;/b:PgtType&gt;   &lt;b:ptlvoriginex type="OplPt" priv="1111"&gt;    &lt;b:xl&gt;110185200&lt;/b:Xl&gt;    &lt;b:yl&gt;110185200&lt;/b:Yl&gt;   &lt;/b:PtlvOriginEx&gt;  &lt;/b:Page&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */ @font-face 	{font-family:Calibri; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 536871071 0;} @font-face 	{font-family:"Franklin Gothic Book"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	panose-1:2 11 5 3 2 1 2 2 2 4; 	mso-font-signature:647 0 0 0 536871071 -539557888;}  /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin-right:0pt; 	text-indent:0pt; 	margin-top:0pt; 	margin-bottom:6.0pt; 	line-height:129%; 	text-align:left; 	font-family:"Franklin Gothic Book"; 	mso-default-font-family:"Franklin Gothic Book"; 	mso-ascii-font-family:"Franklin Gothic Book"; 	mso-latin-font-family:"Franklin Gothic Book"; 	mso-greek-font-family:"Franklin Gothic Book"; 	mso-cyrillic-font-family:"Franklin Gothic Book"; 	mso-armenian-font-family:Sylfaen; 	mso-hebrew-font-family:"Times New Roman"; 	mso-arabic-font-family:"Times New Roman"; 	mso-devanagari-font-family:Mangal; 	mso-bengali-font-family:Vrinda; 	mso-gurmukhi-font-family:Raavi; 	mso-oriya-font-family:Kalinga; 	mso-tamil-font-family:Latha; 	mso-telugu-font-family:Gautami; 	mso-kannada-font-family:Tunga; 	mso-malayalam-font-family:Kartika; 	mso-thai-font-family:"Angsana New"; 	mso-lao-font-family:DokChampa; 	mso-tibetan-font-family:"Microsoft Himalaya"; 	mso-georgian-font-family:Sylfaen; 	mso-hangul-font-family:Batang; 	mso-kana-font-family:"MS Mincho"; 	mso-bopomofo-font-family:PMingLiU; 	mso-han-font-family:SimSun; 	mso-halfwidthkana-font-family:"MS Mincho"; 	mso-yi-font-family:"Microsoft Yi Baiti"; 	mso-syriac-font-family:"Estrangelo Edessa"; 	mso-thaana-font-family:"MV Boli"; 	mso-sinhala-font-family:"Iskoola Pota"; 	mso-ethiopic-font-family:Nyala; 	mso-cherokee-font-family:"Plantagenet Cherokee"; 	mso-canadianabor-font-family:"Euphemia Regular CAS"; 	mso-khmer-font-family:DaunPenh; 	mso-mongolian-font-family:"Mongolian Baiti"; 	mso-latinext-font-family:"Franklin Gothic Book"; 	font-size:9.0pt; 	color:black; 	mso-font-kerning:14.0pt; 	mso-char-tracking:100%; 	mso-font-width:100%;} ol 	{margin-top:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:-2197in;} ul 	{margin-top:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:-2197in;} @page 	{mso-hyphenate:auto;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults ext="edit" spidmax="3075" fill="f" fillcolor="white [7]" strokecolor="black [0]"&gt;   &lt;v:fill color="white [7]" color2="white [7]" on="f"&gt;   &lt;v:stroke color="black [0]" color2="white [7]"&gt;    &lt;o:left ext="view" color="black [0]" color2="white [7]"&gt;    &lt;o:top ext="view" color="black [0]" color2="white [7]"&gt;    &lt;o:right ext="view" color="black [0]" color2="white [7]"&gt;    &lt;o:bottom ext="view" color="black [0]" color2="white [7]"&gt;    &lt;o:column ext="view" color="black [0]" color2="white [7]"&gt;   &lt;/v:stroke&gt;   &lt;v:shadow color="#ccc [4]"&gt;   &lt;v:textbox inset="2.88pt,2.88pt,2.88pt,2.88pt"&gt;   &lt;o:colormenu ext="edit" fillcolor="#c90 [1]" strokecolor="black [0]" shadowcolor="#ccc [4]"&gt;  &lt;/o:shapedefaults&gt;&lt;o:shapelayout ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap ext="edit" data="1"&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 129%; font-family: Calibri; font-weight: bold;" lang="en-US"&gt;Ahmad Fikri Adriansyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 8.3pt; line-height: 129%; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Anggota Departemen Dakwah dan Ukhuwah Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 8.3pt; line-height: 129%; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tebet Timur&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Publisher.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Publisher 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CHendra%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} b\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if pub]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;b:publication type="OplPub" oty="68" oh="256"&gt;   &lt;b:ohprintblock priv="30E"&gt;281&lt;/b:OhPrintBlock&gt;   &lt;b:nudefaultunits priv="1004"&gt;1&lt;/b:NuDefaultUnits&gt;   &lt;b:dptlpagedimensions type="OplPt" priv="1211"&gt;    &lt;b:xl priv="104"&gt;7772400&lt;/b:Xl&gt;    &lt;b:yl priv="204"&gt;10058400&lt;/b:Yl&gt;   &lt;/b:DptlPageDimensions&gt;   &lt;b:dxldefaulttab priv="1504"&gt;359410&lt;/b:DxlDefaultTab&gt;   &lt;b:ohgallery priv="180E"&gt;259&lt;/b:OhGallery&gt;   &lt;b:ohfancyborders priv="190E"&gt;261&lt;/b:OhFancyBorders&gt;   &lt;b:ohcaptions priv="1A0E"&gt;257&lt;/b:OhCaptions&gt;   &lt;b:ohquilldoc priv="200E"&gt;276&lt;/b:OhQuillDoc&gt;   &lt;b:ohmailmergedata priv="210E"&gt;262&lt;/b:OhMailMergeData&gt;   &lt;b:ohcolorscheme priv="220E"&gt;279&lt;/b:OhColorScheme&gt;   &lt;b:dwnextuniqueoid priv="2304"&gt;1&lt;/b:DwNextUniqueOid&gt;   &lt;b:identguid priv="2A07"&gt;0``````````````````````&lt;/b:IdentGUID&gt;   &lt;b:dpgspecial priv="2C03"&gt;5&lt;/b:DpgSpecial&gt;   &lt;b:ctimesedited priv="3C04"&gt;1&lt;/b:CTimesEdited&gt;   &lt;b:nudefaultunitsex priv="4104"&gt;1&lt;/b:NuDefaultUnitsEx&gt;   &lt;b:ohimpositionengine priv="440E"&gt;285&lt;/b:OhImpositionEngine&gt;  &lt;/b:Publication&gt;  &lt;b:printerinfo type="OplPrb" oty="75" oh="281"&gt;   &lt;b:ohcolorsepblock priv="30E"&gt;282&lt;/b:OhColorSepBlock&gt;   &lt;b:opmoutsideprintmode priv="B04"&gt;1&lt;/b:OpmOutsidePrintMode&gt;   &lt;b:finitcomplete priv="1400"&gt;False&lt;/b:FInitComplete&gt;   &lt;b:dpix priv="2203"&gt;0&lt;/b:DpiX&gt;   &lt;b:dpiy priv="2303"&gt;0&lt;/b:DpiY&gt;   &lt;b:dxloverlap priv="2404"&gt;0&lt;/b:DxlOverlap&gt;   &lt;b:dyloverlap priv="2504"&gt;0&lt;/b:DylOverlap&gt;  &lt;/b:PrinterInfo&gt;  &lt;b:colorseperationinfo type="OplCsb" oty="79" oh="282"&gt;   &lt;b:plates type="OplCsp" priv="214"&gt;    &lt;b:oplcsp type="OplCsp" priv="11"&gt;     &lt;b:ecpplate type="OplEcp" priv="213"&gt;      &lt;b:color priv="104"&gt;-1&lt;/b:Color&gt;     &lt;/b:EcpPlate&gt;    &lt;/b:OplCsp&gt;   &lt;/b:Plates&gt;   &lt;b:dzloverprintmost priv="304"&gt;304800&lt;/b:DzlOverprintMost&gt;   &lt;b:cproverprintmin priv="404"&gt;243&lt;/b:CprOverprintMin&gt;   &lt;b:fkeepawaytrap priv="700"&gt;True&lt;/b:FKeepawayTrap&gt;   &lt;b:cprtrapmin1 priv="904"&gt;128&lt;/b:CprTrapMin1&gt;   &lt;b:cprtrapmin2 priv="A04"&gt;77&lt;/b:CprTrapMin2&gt;   &lt;b:cprkeepawaymin priv="B04"&gt;255&lt;/b:CprKeepawayMin&gt;   &lt;b:dzltrap priv="C04"&gt;3175&lt;/b:DzlTrap&gt;   &lt;b:dzlindtrap priv="D04"&gt;3175&lt;/b:DzlIndTrap&gt;   &lt;b:pctcenterline priv="E04"&gt;70&lt;/b:PctCenterline&gt;   &lt;b:fmarksregistration priv="F00"&gt;True&lt;/b:FMarksRegistration&gt;   &lt;b:fmarksjob priv="1000"&gt;True&lt;/b:FMarksJob&gt;   &lt;b:fmarksdensity priv="1100"&gt;True&lt;/b:FMarksDensity&gt;   &lt;b:fmarkscolor priv="1200"&gt;True&lt;/b:FMarksColor&gt;   &lt;b:flinescreendefault priv="1300"&gt;True&lt;/b:FLineScreenDefault&gt;  &lt;/b:ColorSeperationInfo&gt;  &lt;b:textdocproperties type="OplDocq" oty="91" oh="276"&gt;   &lt;b:ohplcqsb priv="20E"&gt;278&lt;/b:OhPlcqsb&gt;   &lt;b:ecpsplitmenu type="OplEcp" priv="A13"&gt;    &lt;b:color&gt;134217728&lt;/b:Color&gt;   &lt;/b:EcpSplitMenu&gt;  &lt;/b:TextDocProperties&gt;  &lt;b:storyblock type="OplPlcQsb" oty="101" oh="278"&gt;   &lt;b:iqsbmax priv="104"&gt;1&lt;/b:IqsbMax&gt;   &lt;b:rgqsb type="OplQsb" priv="214"&gt;    &lt;b:oplqsb type="OplQsb" priv="11"&gt;     &lt;b:qsid priv="104"&gt;2&lt;/b:Qsid&gt;     &lt;b:tomfcopyfitbase priv="80B"&gt;-9999996.000000&lt;/b:TomfCopyfitBase&gt;     &lt;b:tomfcopyfitbase2 priv="90B"&gt;-9999996.000000&lt;/b:TomfCopyfitBase2&gt;    &lt;/b:OplQsb&gt;   &lt;/b:Rgqsb&gt;  &lt;/b:StoryBlock&gt;  &lt;b:colorscheme type="OplSccm" oty="92" oh="279"&gt;   &lt;b:cecp priv="104"&gt;8&lt;/b:Cecp&gt;   &lt;b:rgecp type="OplEcp" priv="214"&gt;    &lt;b:oplecp priv="F"&gt;Empty&lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="111"&gt;     &lt;b:color&gt;39372&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="211"&gt;     &lt;b:color&gt;10079436&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="311"&gt;     &lt;b:color&gt;6723993&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="411"&gt;     &lt;b:color&gt;13421772&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="511"&gt;     &lt;b:color&gt;3381555&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="611"&gt;     &lt;b:color&gt;26265&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;    &lt;b:oplecp type="OplEcp" priv="711"&gt;     &lt;b:color&gt;16777215&lt;/b:Color&gt;    &lt;/b:OplEcp&gt;   &lt;/b:Rgecp&gt;   &lt;b:ischeme priv="304"&gt;65&lt;/b:IScheme&gt;   &lt;b:szschemename priv="618"&gt;Tuscany&lt;/b:SzSchemeName&gt;  &lt;/b:ColorScheme&gt;  &lt;![if pub11]&gt;  &lt;![endif]&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if pub]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;b:page type="OplPd" oty="67" oh="265"&gt;   &lt;b:ptlvorigin type="OplPt" priv="511"&gt;    &lt;b:xl&gt;22860000&lt;/b:Xl&gt;    &lt;b:yl&gt;22860000&lt;/b:Yl&gt;   &lt;/b:PtlvOrigin&gt;   &lt;b:oid priv="605"&gt;(`@`````````&lt;/b:Oid&gt;   &lt;b:ohoplwebpageprops priv="90E"&gt;266&lt;/b:OhoplWebPageProps&gt;   &lt;b:ohpdmaster priv="D0D"&gt;263&lt;/b:OhpdMaster&gt;   &lt;b:pgttype priv="1004"&gt;5&lt;/b:PgtType&gt;   &lt;b:ptlvoriginex type="OplPt" priv="1111"&gt;    &lt;b:xl&gt;110185200&lt;/b:Xl&gt;    &lt;b:yl&gt;110185200&lt;/b:Yl&gt;   &lt;/b:PtlvOriginEx&gt;  &lt;/b:Page&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */ @font-face 	{font-family:Calibri; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 536871071 0;} @font-face 	{font-family:"Franklin Gothic Book"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	panose-1:2 11 5 3 2 1 2 2 2 4; 	mso-font-signature:647 0 0 0 536871071 -539557888;}  /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin-right:0pt; 	text-indent:0pt; 	margin-top:0pt; 	margin-bottom:6.0pt; 	line-height:129%; 	text-align:left; 	font-family:"Franklin Gothic Book"; 	mso-default-font-family:"Franklin Gothic Book"; 	mso-ascii-font-family:"Franklin Gothic Book"; 	mso-latin-font-family:"Franklin Gothic Book"; 	mso-greek-font-family:"Franklin Gothic Book"; 	mso-cyrillic-font-family:"Franklin Gothic Book"; 	mso-armenian-font-family:Sylfaen; 	mso-hebrew-font-family:"Times New Roman"; 	mso-arabic-font-family:"Times New Roman"; 	mso-devanagari-font-family:Mangal; 	mso-bengali-font-family:Vrinda; 	mso-gurmukhi-font-family:Raavi; 	mso-oriya-font-family:Kalinga; 	mso-tamil-font-family:Latha; 	mso-telugu-font-family:Gautami; 	mso-kannada-font-family:Tunga; 	mso-malayalam-font-family:Kartika; 	mso-thai-font-family:"Angsana New"; 	mso-lao-font-family:DokChampa; 	mso-tibetan-font-family:"Microsoft Himalaya"; 	mso-georgian-font-family:Sylfaen; 	mso-hangul-font-family:Batang; 	mso-kana-font-family:"MS Mincho"; 	mso-bopomofo-font-family:PMingLiU; 	mso-han-font-family:SimSun; 	mso-halfwidthkana-font-family:"MS Mincho"; 	mso-yi-font-family:"Microsoft Yi Baiti"; 	mso-syriac-font-family:"Estrangelo Edessa"; 	mso-thaana-font-family:"MV Boli"; 	mso-sinhala-font-family:"Iskoola Pota"; 	mso-ethiopic-font-family:Nyala; 	mso-cherokee-font-family:"Plantagenet Cherokee"; 	mso-canadianabor-font-family:"Euphemia Regular CAS"; 	mso-khmer-font-family:DaunPenh; 	mso-mongolian-font-family:"Mongolian Baiti"; 	mso-latinext-font-family:"Franklin Gothic Book"; 	font-size:9.0pt; 	color:black; 	mso-font-kerning:14.0pt; 	mso-char-tracking:100%; 	mso-font-width:100%;} ol 	{margin-top:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:-2197in;} ul 	{margin-top:0in; 	margin-bottom:0in; 	margin-left:-2197in;} @page 	{mso-hyphenate:auto;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:shapedefaults ext="edit" spidmax="3075" fill="f" fillcolor="white [7]" strokecolor="black [0]"&gt;   &lt;v:fill color="white [7]" color2="white [7]" on="f"&gt;   &lt;v:stroke color="black [0]" color2="white [7]"&gt;    &lt;o:left ext="view" color="black [0]" color2="white [7]"&gt;    &lt;o:top ext="view" color="black [0]" color2="white [7]"&gt;    &lt;o:right ext="view" color="black [0]" color2="white [7]"&gt;    &lt;o:bottom ext="view" color="black [0]" color2="white [7]"&gt;    &lt;o:column ext="view" color="black [0]" color2="white [7]"&gt;   &lt;/v:stroke&gt;   &lt;v:shadow color="#ccc [4]"&gt;   &lt;v:textbox inset="2.88pt,2.88pt,2.88pt,2.88pt"&gt;   &lt;o:colormenu ext="edit" fillcolor="#c90 [1]" strokecolor="black [0]" shadowcolor="#ccc [4]"&gt;  &lt;/o:shapedefaults&gt;&lt;o:shapelayout ext="edit"&gt;   &lt;o:idmap ext="edit" data="1"&gt;  &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Pada suatu sesi pengajian Ramadhan 1427 H, penceramah yang juga seorang wirausahawan, KH. Toto Tasmara, menyampaikan pertanyaan yang menggelitik ketika beliau memulai ceramahnya. Dengan santai beliau bertanya kepada peserta pengajian, “Yang hadir di sini, semuanya muslim?” Kontan saja, sebagian besar hadirin menyunggingkan senyum dan tergelak mendengar pertanyaan sang ustadz. Mereka kemudian menjawab dengan kompak, “Yaa…”. Tawa-tawa kecil pun ikut meramaikan jawaban tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Pertanyaan sang ustadz menjadi unik karena terkesan sekedar guyonan. Pasalnya, dapat dipastikan bahwa semua yang hadir di sesi pengajian Ramadhan itu beragama Islam, minimal tertera kata “ISLAM” di KTP mereka. Namun, “dugaan” para peserta pengajian tersebut tampaknya tidak sepenuhnya benar. Ustadz Toto menyambung pertanyaan pertama itu dengan bertanya lagi kepada para peserta, “Siapa yang bilang Anda itu muslim?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Pertanyaan yang kedua pada intinya mengajak seluruh yang hadir di sesi pengajian itu untuk merenungkan kembali label muslim yang mereka kenakan. Ustadz Toto kemudian menjelaskan bahwa yang menyebut diri kita muslim, yang menyebut bahwa diri kita adalah orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, adalah diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Kemudian, beliau bertanya lagi, “Apakah kita yakin bahwa Allah juga bilang bahwa kita adalah muslim?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Saudaraku,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Kita harus optimis, tetapi kita sama sekali tidak bisa menjamin bahwa segenap predikat positif yang melekat pada diri kita adalah demikian adanya menurut Allah swt. Begitu pula, ketika kita menyebut diri kita orang yang berislam dan beriman. Kebenaran keislaman dan keimanan kita pada akhirnya kembali kepada penilaian mutlak dari Allah swt, bukan dari siapapun selain-Nya, apalagi dari kata “ISLAM” yang tertera pada kartu identitas kita. Oleh karena itu, sangatlah tidak layak bagi kita untuk merasa “sombong” dengan keislaman kita, merasa diri kita paling benar dalam keislaman kita, apalagi sampai menilai keislaman orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam konteks ini, predikat sebagai muslim bukan sekedar bagaikan lencana yang kita pakai lantas otomatis orang lain mendefinisikan diri kita sesuai makna lencana itu, tetapi predikat ini haruslah berkolerasi dengan ikhtiar terus menerus untuk membuktikan bahwa kita pantas disebut sebagai muslim, dan pada akhirnya ditujukan agar Allah berkenan mengakui keislaman kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Kondisi yang kemudian mengemuka adalah bukan dari sisi pengertian kita terhadap konsepsi “kebenaran mutlak” mengenai keislaman dan keimanan kita itu. Artinya, sebenarnya kita sudah mengakui bahwa hanya Allah yang bisa menilai apakah memang benar kita berislam dan beriman. Kita pun sudah dan terus berikhtiar untuk memperbarui syahadat kita sebagai gerbang penyerahan diri kita kepada Allah. Namun, kondisi yang akhirnya memunculkan masalah di tubuh umat Islam adalah pada saat kita terjebak dalam atribut keislaman kita, yakni ketika kita terlena dengan sebutan “muslim” dan merasa cukup dengan “pakaian luar” keislaman kita. Hal ini selanjutnya menjadikan kita lengah dan, tanpa kita sadari, membuat ucapan dan prilaku kita ditafsirkan sebagai upaya untuk menilai keislaman orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Keterlenaan kita dengan sebutan “muslim” dan perasaan cukup dengan “pakaian luar” keislaman sebenarnya adalah isu klasik yang sudah sangat sering diangkat di berbagai forum pengajian. Hal-hal yang termasuk di dalamnya antara lain: Pertama, kita mengakui bahwa Islam adalah the way of life, tetapi dalam pelaksanaannya, masih terliht berbagai fenomena yang menunjukkan bahwa Islam masih sebatas the way of worship; Kedua, simbol-simbol keislaman menjadi parameter favorit untuk menstratifikasi “tingkat keshalihan” seseorang sementara aspek-aspek substansialnya seringkali terlupakan atau mungkin sengaja dilupakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Islam sebagai the way of life berada pada tataran idealisme yang mungkin tidak selalu mudah untuk diimplementasikan, tetapi pasti menjadi cita-cita kita semua. Sementara itu, islam sebagai the way of worship justru menjadi hal yang sangat mudah untuk dicerna dan dipahami karena notabene terlihat oleh mata kepala (seperti ritual shalat, zakat, haji, dll). Islam sebagai the way of worship pada hakikatnya adalah konsepsi yang berada di konstelasi Islam sebagai the way of life. Orang yang menjadikan Islam sebagai the way of life secara otomatis telah mendudukkan Islam sebagai the way of worship, tetapi tidak sebaliknya. Orang yang menjadikan Islam sebatas the way of worship adalah mereka yang hanya berorientasi pada ibadah yang bersifat ritual. Sebagai contoh sederhana, kita tak pernah absen shalat lima waktu, tetapi sebagian dari kita pun seringkali absen kuliah tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, telat datang ke kantor atau kampus, malas belajar, malas bekerja, malas berprestasi, tidak profesional dan hal-hal negatif lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Paradigma yang hanya mengorientasikan Islam sebagai the way of worship selanjutnya mempengaruhi persepsi kita terhadap pemakaian simbol-simbol keislaman. Kita cenderung mudah untuk mengatakan atau minimal beranggapan bahwa orang yang sering memakai baju koko, wanita yang berjilbab dengan baik, orang yang selalu membawa mushaf al-Quran kemana-mana (kecuali ke kamar kecil), orang yang sering berdzikir dan mengaji di masjid&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;sebagai orang-orang yang shalih (atau seringkali disebut “alim”). Hal ini sama sekali tidak salah dan sangat amat wajar serta relevan. Namun, berawal dari kesan wajar inilah kita kadangkala terlena sampai akhirnya terjebak di dalam pakaian luar keislaman kita sehingga di antara kita ada yang sampai men-cap bahwa orang-orang yang tidak seperti mereka adalah muslim yang tidak shalih. Pada titik inilah, kita, baik sadar maupun tidak, telah menstratifikasi “tingkat keshalihan” seseorang, padahal hanya Allah yang memiliki hak stratifikasi itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Satu fenomena lagi yang kerap membuat saya prihatin dan geram terkait dengan stratifikasi keshalihan adalah kebiasaan penggunaan sapaan “ikhwan” dan “akhwat”. Kedua istilah ini memiliki akar makna yang sama, yakni ”saudara”. Namun, saya mengamati kecenderungan bahwa sebutan “ikhwan” dan “akhwat” masing-masing telah menjadi monopoli muslim dan muslimah yang berafiliasi dengan institusi atau lembaga dakwah Islam. Seolah-olah, para muslim dan muslimah yang berada di luar lingkaran komunitas itu tidak berhak disebut “ikhwan” atau “akhwat”. Seolah-olah, seorang muslim harus aktif di organisasi dakwah terlebih dahulu kalau mau disebut “ikhwan”; seolah-olah, seorang muslimah harus berjilbab dengan sempurna terlebih dahulu kalau mau disebut “akhwat”. Seolah-olah, sebutan “ikhwan” dan “akhwat” menjadi representasi status sosial&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;yang tidak serta merta dimiliki oleh setiap pribadi yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat. Padahal, selama seseorang mengaku muslim dan beriman, berarti dia adalah saudara kita sesama muslim dan berarti pula kita berhak menunjukkan semangat persaudaraan kita dengan menyapa “wahai, akhii” atau “wahai, ukhtii” kepadanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Perkara penyebutan “ikhwan” dan “akhwat” di atas memang hal kecil dan terkesan sepele, tetapi tidak sepenuhnya demikian menurut saya. Jika kita tidak berhati-hati dengan hal kecil tersebut, saya khawatir hal itu secara perlahan akan semakin mengeksklusifkan para aktivis dakwah di masyarakat. Keeksklusifan ini pada gilirannya akan menjadi bumerang bagi efektivitas aktivitas dakwah itu sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Saudaraku,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Jika kita terlena di balik pakaian luar keislaman kita, maka mungkin kita akan lupa untuk memberikan apresiasi positif kepada para muslim yang selalu tepat waktu, muslim yang profesional, muslim yang bekerja keras dan cerdas, terlebih lagi jika mereka tidak selalu akrab simbol-simbol keislaman. Boleh jadi, mereka lebih suka memakai kemeja dan mencukur jenggotnya dibandingkan mengenakan koko dan memanjangkan rambut di dagu; boleh jadi, jilbab mereka tetap menutup aurat dengan baik meskipun ujungnya tidak sampai segaris dengan lutut. Bahkan, mungkin mereka baru saja belajar memakai jilbab di tengah desakan hebat tren jilbab modis yang sedikit-banyak mengaburkan pemahaman sebagian muslimah mengenai syariat penutupan aurat wanita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Saudaraku,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Uraian singkat yang dikemukakan pada baris demi baris di atas, insya Allah, sama sekali tidak diniatkan untuk menyudutkan atau mendiskreditkan para muslim dan muslimah yang akrab dengan simbol-simbol keislaman, tetapi semoga menjadi salah satu bahan untuk merefleksikan kembali jati diri keislaman kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Simbol-simbol keislaman, bagaimanapun, adalah sarana pertama yang paling mudah bagi orang untuk mencitra kepribadian kita sebagai muslim atau muslimah. Lebih jauh, sebagian besar simbol-simbol itu pun adalah bentuk aktualisasi dari perintah Allah dan rasul-Nya. Beragam ibadah ritual pun sudah semestinya menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam keseharian kita. Namun, hal-hal tersebut tentu saja belum cukup. Yang jauh lebih penting dan tentu saja lebih berat adalah mengimplementasikan nilai-nilai ruhiyyah yang kita raih darinya di dalam kehidupan bermasyarakat (hablum min an-naas). Dalil yang menjadi landasan semangat kita untuk kaaffah dalam berislam sangat banyak kita temukan di al-Quran. Salah satunya yang sangat populer adalah pernyataan Allah yang disebut berulang kali di dalam Kitab-Nya: “Orang-orang yang beriman dan beramal shalih”… Saya memahami “amal shalih” secara luas sebagai implementasi terbaik dari nilai-nilai keimanan yang terpatri di dalam hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Dengan demikian, semoga Allah menganugerahkan kekuatan kepada kita untuk berikhtiar terus menerus agar Islam benar-benar menjadi the way of life kita, menjadi kepribadian kita, dan tidak sekedar pakaian belaka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Islam sebagai the way of life adalah cita-cita kita semua. Dalam perjalanan kita menuju cita-cita itu, tak terhitung badai godaan yang menerjang kita. Salah satu godaan yang mungkin jarang kita sadari adalah kecenderungan untuk tergesa-gesa menilai keislaman orang lain dari aspek lahiriyah baik secara langsung maupun tidak langsung, sadar maupun tidak. Semoga Allah memberikan kekuatan bagi kita untuk menyelamatkan diri daripadanya. Salah satu senjata yang Allah anugerahkan kepada kita adalah perenungan terhadap ayat-ayat pamungkas dari surat Al-Ghasyiyah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Tetapi orang yang berpaling dan kafir,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab (menilai) mereka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Pada akhirnya, semoga refleksi terhadap jati diri keislaman kita menjadi bekal untuk menjawab dengan tegas dan tepat pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini: Quo Vadis, Keislaman Kita? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Wallahu a’lam…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 8.3pt; line-height: 129%; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 8.3pt; line-height: 129%; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-5009762376686283574?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/5009762376686283574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=5009762376686283574' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/5009762376686283574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/5009762376686283574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/10/quo-vadis-keislaman-kita.html' title='Quo Vadis Keislaman Kita'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-3515633056516542188</id><published>2008-09-05T18:54:00.001+07:00</published><updated>2008-10-26T13:40:58.370+07:00</updated><title type='text'>IKHLAS ITU DINAMIS, BERGERAK &amp; PRESTATIF</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:12;"  lang="en-US"&gt;Ahmad Fikri Adriansyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span  lang="en-US" style="font-size:10;"&gt;Anggota Departemen Dakwah dan Ukhuwah Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Tebet Timur&lt;/span&gt;&lt;span  lang="en-US" style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="en-US"&gt; &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Adalah suatu anugerah yang luar biasa, ketika kesempatan untuk menelisik ruang-ruang rahasia kehidupan hadir di hadapan kita. Aku pun berlomba agar Tuhanku berkenan mencurahkan anugerah itu, meskipun aku sadar bahwa hati yang kesat cemerlang menjadi syaratnya. Itulah yang tampaknya berat bagiku. Kuakui, masih jauh kecemerlangan itu dari hati ini. Ketika kita memiliki hati yang bersih, kita bisa merasakannya, dan ketika kita memiliki hati yang kotor, kita pun tak mampu mendustainya. Sebab hati adalah raja diri. Ia lah pemimpin yang “menuntun” langkah ke jalan yang lurus atau berbelok. Ia lah yang menyambut tamu agung berupa hidayah-Nya, atau menerima ajakan berperang raja-raja negeri syaithan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Saudaraku,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Sebuah ungkapan sarat makna mengemuka dalam pembelajaran tentang hati. Ungkapan itu berbunyi “seolah-olah ilmu tentang hati hanya berbicara tentang keikhlasan.” Sedemikian pentingnya keikhlasan, sampai-sampai ia menjadi primadona dalam konstelasi ilmu hati. Lantas, apa yang ada dalam benak kita tentang keikhlasan?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Meskipun begitu banyak literatur yang menerangkan tentang keikhlasan, tak bisa kita pungkiri bahwa begitu sering kita dicekoki oleh pemahaman yang mempersepsikan keikhlasan secara salah. Ikhlas seringkali disetarakan dengan “rela.” Penyetaraan ini menjadi tidak tepat karena sebenarnya “kerelaan” hanyalah salah satu aspek dalam makna ikhlas. Pada kesempatan lain, ikhlas sering juga dipersepsikan dengan makna “sedikit”. Persepsi ini acapkali kita jumpai dalam aktivitas pemberian sedekah. “Berilah sedekah seikhlasnya,” demikian ungkapan yang akhirnya diterjemahkan sebagai “berilah sedekah meskipun sedikit.” Persepsi lain yang kurang tepat adalah ikhlas dipahami sebagai sikap mental yang menunjukkan ketidaksungguhan. Kita mungkin pernah mendengar pernyataan “Silakan bantu/kerjakan seikhlasnya.” Pernyataan ini sama saja dengan izin (atau bahkan menjadi sumber motivasi negatif) dari si pembuat pernyataan kepada orang yang dituju untuk “membantu” atau “mengerjakan” secara sembarangan atau tidak optimal. Dengan demikian, penambahan imbuhan “se-nya” pada kata “ikhlas” telah benar-benar mendegradasi makna ikhlas itu sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Terlepas dari persepsi-persepsi yang kurang tepat seputar keikhlasan, entitas ini memang berada dalam ranah transendental yang definisinya tak selalu mudah dipraktikkan sehingga persepsi-persepsi itu hadir—mungkin—sebagai “solusi praktis” dalam menerjemahkan istilah “ikhlas.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Akar kata dari “ikhlas” bermakna “bening, tidak ada noda yang tercampur sedikitpun”. Selanjutnya, secara istilah ”ikhlas” diartikan sebagai pengharapan terhadap ridha Allah semata dan tidak mengiringinya dengan pengharapan terhadap ridha dari selain Allah, apalagi hanya mengharap ridha dari selain Allah. Oleh karena itu, wajarlah jika lawan dari sifat ikhlas disebut juga syirik kecil, yakni ketika kita menyandingkan makhluk sejajar dengan Allah sebagai pihak yang dimintai keridhaannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Saudaraku,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;Ada sebuah pertanyaan mendasar terkait dengan pengharapan terhadap ridha Allah : seperti apa aktivitas ”mengharap ridha Allah”?. Jawaban yang paling mudah adalah kita berdoa kepada Allah agar dihindarkan dari sifat riya/pamer dan hanya mengharapkan pahala dari Allah semata. Selanjutnya kita pun berulang-ulang kali membangun persepsi dan memotivasi diri sambil berkata dalam hati : ”Saya melakukan ini hanya karena Allah, bukan karena ingin dilihat atau dipuji orang lain.” Dalam rangka mendukung ikhtiar ini, kita yang belajar ikhlas pun berusaha semaksimal mungkin untuk menyembunyikan kebaikan yang kita lakukan agar tak diketahui khalayak ramai.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="times new roman" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Semoga kita tidak puas hanya dengan berdoa dan menyembunyikan kebajikan yang kita lakukan. Semoga kita tidak memisahkan konstelasi ikhlas dari konsep ikhtiar, yakni bersungguh-sungguh, berprestasi, dan profesional dalam beramal. Ha inilah yang tampaknya perlu disemarakkan lebih baik lagi dalam konteks belajar mengikhlaskan hati. Ikhlas harus pula identik dengan upaya bekerja keras dan cerdas sebagai efek positif dari niat yang lurus karena demikianlah yang dituntunkan Allah swt. Ikhlas itu bukan sekedar pasrah, sekedar bersembunyi ketika mengerjakan kebaikan, dan sekedar berdoa, lalu berdiam diri sembari menunggu hujan emas turun dari langit.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Bekerja keras dan cerdas secara profesional sesuai dengan karakter amal yang kita lakukan adalah juga sumber keridhaan Allah swt sehingga aspek-aspek ikhtiar ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari makna ikhlas itu sendiri. Seorang guru boleh jadi belum sempurna ikhlasnya, apabila ia tidak menyiapkan materi dan silabus pengajaran dengan sebaik-baiknya. Seorang pembantu rumah tangga boleh jadi belum sempurna ikhlasnya, ketika ia tidak berupaya memisahkan pakaian yang luntur dari pakaian yang tidak luntur pada saat mencuci pakaian. Seorang pegawai boleh jadi belum sempurna ikhlasnya ketika tidak berupaya optimal untuk mencapai target pekerjaan yang telah ditetapkan. Seorang pelajar boleh jadi belum sempurna ikhlasnya, apabila ia bermalas-malasan dalam mengerjakan tuga-tugas sekolah. Jadi, ikhlas itu sesuatu yang dinamis, bergerak, dan prestatif.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Terkait dengan kedinamisan implementasi keikhlasan, tampaknya kita perlu sedikit membahas perihal keutamaan menyembunyikan amal kebajikan. Menyembunyikan amal memang menjadi bentuk upaya mengikhlaskan hati. Namun, hal ini tidak serta merta menghadirkan logika bahwa jika tidak menyembunyikan amal, berarti tidak ikhlas. Muhammad bin Shalih Al-Munajjid dalam bukunya yang berjudul ”Silsilah Amalan Hati” mengutip pendapat Ibnu Qudamah dan kemudian merincikan prinsip-prinsip dalam memperlihatkan dan menyembunyikan amal sebagai berikut :&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;- &lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Amal perbuatan yang dianjurkan oleh sunnah untuk dikerjaka&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;n &lt;/span&gt;secara rahasia hendaknya &lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;dikerjakan secara&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;rahasia. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;- &lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Amal perbuatan yang dianjukan oleh sunnah untuk dikerjakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan terang-terangan, &lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;hendaknya dikerjakan dengan cara terang-terangan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;- &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Amal perbuatan yang dapat dilakukan, baik secara rahasia maupun terang-terangan, jika orang &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;yang bersangkutan termasuk orang yang kuat menanggung pujian orang lain atau celaan mereka, &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;maka bagi dia boleh dilakukan secara terang- terangan. Akan tetapi, jika dia termasuk orang yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;tidak kuat menyangga hal tersebut, maka hendaklah dia mengerjakannya dengan sembunyi-&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;sembunyi. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa jika jiwa seseorang kuat untuk &lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;menghindar dari riya’, tidaklah mengapa baginya jika menonjolkan amalnya, karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sesungguhnya dalam keadaan seperti itu hal yang lebih baik&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;adalah dengan menonjolkannya,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;agar dapat diteladani oleh yang lain. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Dari paparan Al-Munajjid di atas, kita bisa memahami bahwa memperlihatkan atau menyembunyikan amal bukanlah parameter absolut keberhasilan kita dalam mengikhlaskan hati, melainkan tetap hanya sebagai usaha untuk meraih keikhlasan itu sendiri. Oleh karena itu, tak selayaknya kita merasa cukup seolah-olah berada dalam zona aman ketika kita sudah ”berhasil” menyembunyikan amal kita. Jika kita demikian, jadilah kita pribadi yang statis dan belum tentu juga Allah menilai kita sebagai manusia yang ikhlas. Kita harus bergerak, melatih diri, dan terus berusaha agar semakin hari semakin kuat menanggung pujian atau celaan sehingga niat yang hadir sejak awal tetap lurus ketika memberikan contoh teladan yang baik melalui sebagian amal kita.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Keteladanan yang dapat kita contohkan melalui amal-amal kita adalah poin prestasi tingkat berikutnya dari implementasi keikhlasan karena hal ini menunjukkan kita tidak sedang memikirkan diri sendiri, tetapi juga sedang memberikan manfaat bagi orang lain. Adalah prestasi yang lebih hakiki, ketika kita menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan kita, daripada sekedar menjadi pribadi yang berprestasi untuk kepentingan diri sendiri.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Saudaraku,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: times new roman;"&gt;Di atas semua rangkaian kata yang terjalin ini, Al-Munajjid menuturkan bahwa sesungguhnya ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hamba-Nya, tiada yang mengetahuinya, baik malaikat pencatat amal perbuatan maupun syaithan yang berupaya merusak amal sang hamba. Bahkan, kita pun mungkin tidak yakin seratus persen bahwa setiap niat yang terbetik sejak sebelum amal, pada saat beramal, dan setelah amal, benar-benar terjaga kemurniannya. Inilah jua yang menjadi pelajaran bagi kita dalam konteks dinamika dan progresivitas keikhlasan, yakni tiada alasan bagi kita untuk ”puas” dan merasa ikhlas. Kita harus terus berlatih untuk meraih keikhlasan yang lebih baik. Anggaplah kehidupan ini sebagai sarana untuk berlatih ikhlas sepanjang masa, sehingga kita kita terus bergerak, dinamis, dan prestatif. Aamiin.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-3515633056516542188?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/3515633056516542188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=3515633056516542188' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/3515633056516542188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/3515633056516542188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/09/ikhlas-itu-dinamis-bergerak-prestatif.html' title='IKHLAS ITU DINAMIS, BERGERAK &amp; PRESTATIF'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-8675874346646267557</id><published>2008-09-05T18:52:00.003+07:00</published><updated>2008-09-05T19:02:55.261+07:00</updated><title type='text'>PANACEA OF STATE-OWNED ENTERPRISES ILLNESSES; PRIVATIZATION?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 110%; font-family: Calibri; font-weight: bold;" lang="en-US"&gt;Zaki Mubarak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; line-height: 110%; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Sekretaris Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Jakarta Selatan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10.5pt; line-height: 110%; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:13;" lang="EN-US" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:13;" lang="EN-US" &gt;Backgrounds&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:13;" lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;In 1945, Indonesia proclaimed its independence. It was not an ultimate struggle; but rather a new chapter of long series to realize what society dreams; independence from any colonialism, peace, fairness, better life and welfare. As a new country, bundles of problems are waiting to be solved, from sovereignty to social and economic crises. One of the important problems in the integrity areas is West Papua’s claim. Besides that, colonialist companies still have deep influenced in national economic activities. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Those problems are closely related because they are covered in agreements in Round Table Conference. Indonesia wants to solve West Papua problem using diplomacy. One of the clauses was government of Indonesia must respect the legality of foreign companies existence, especially Dutch companies.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;As time goes by, negotiation became worst, so did the relationship between Indonesia and Netherland. In November 1957, President Soekarno announced West Papua integration to Indonesia, because United Nation failed to make resolution to appeal Dutch to make negotiation with Indonesia for the problem (Moeljono, 2004: 3). On December 1&lt;/span&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;st&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt; 1957, government of Indonesia officially announced 24 hours strike against Dutch companies in Indonesia. This action was the beginning of a massive nationalization of Dutch companies (Kanumoyoso, 2001: 31).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;In order to develop national economic, government started to establish some companies to overcome Dutch companies domination as well as taking over Dutch companies which have related to public utilities. Its process was also an implementation of political sovereignty that has already been reached (Kanumoyoso, 2001: 45). State-Owned Enterprises (SOEs) taken over came from UK, Malaysia and Singapore companies (Diah, 2003: 10). According to Oey Beng To, besides taking over, anti Dutch was also implemented by Dutch citizen eviction. In early December, Minister of Justice announced that 50.000 Dutch citizens would be evicted or returned in three steps (Kanumoyoso, 2001: 65).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Up to now, there have been two perspectives in evaluating background and process of Dutch companies taking over. First, an opinion according to Audrey R. Kahim and George McT. Kahim, which states that taking over phenomenon of Dutch companies is a case which is unplanned before. This perspective followed with no government regular programs in the actions. Second, is according to Paul F. Gardner, starting that government was behind the action. A scenario was arranged, where angry people were taken away by force whereas the facilities later on placed under the government in protection. Quoted from Louis Fischer, this perspective was strengthened by President Soekarno stating, that those take over were initiated by people themselves (Kanumoyoso, 2001: 68-69). The strongest support to take over came from labour class. Moreover, there has appraisal that actions not to distinct as nationalization action because it showed vague attitude from government (Kanumoyoso, 2001: 80).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;According to Bisuk Siahaan, those companies, then, were grouped according to the mission. The companies that deem important for public was taken over by central government (Kanumoyoso, 2001: 94). With the new companies, state began to take more parts to determine the way of economic life. But the action did not guaranty to fix the economic directly, because the challenge was quite big. Nation Planning Bureau reports about five years development realization showed national income decreased up to 12,9% in 1958 (Kanumoyoso, 2001: 99-100).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Basically, SOEs were established as implementation of The Constitution of 1945 article 33 about national economic system. The certainty in The Constitution article 33 about national economic system was reflection of nationalism and curiosity of the nation based on spirit and original culture of the nation (Diah, 2003: 60). The Constitution of 1945 state that national economic actors consist of three business forms; private, SOEs and cooperative (Moeljono, 2004: 1). The aim was to make social welfare based on national economic systems that run with spirit of family atmosphere without individual monopoly except state monopoly of public utilities. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;The man behind the scene of that article was Mohammad Hatta. According to Ruslan Abdulgani, as Indonesia independence proclaimer with Bung Karno, Mohammad Hatta formulated The Constitution 45… Especially article 33 was his thought and formulation… (Diah, 2003: 77). The characteristic of Indonesia economic system that has the quality of socialism was stated in his speech in Bukit Tinggi in 1932 (Diah, 2003: 78). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;In 1969, at Soeharto’s regime, the government issued Decree number 9 which groups the SOEs into three forms:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;State Corporation (PERJAN) is SOEs which operate in public services supply. The capitalization includes in National Budget and managed by related Department and also the status has correlation to public law &lt;i style=""&gt;Indonesische Bedrijven Wet&lt;/i&gt; (IBW) and &lt;i style=""&gt;Indonesische Compabliteits Wet&lt;/i&gt; (ICW).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Public Corporation (PERUM) is SOEs which operate in services supply to public utilities and also to gain profit. All capitalization from state rich came from the state’s wealth that is separated and also legal body status of the firm and arranged based on Decree.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Limited Liability Company (PERSERO) is profit oriented SOEs, operated in many fields propelled grow of private sectors or cooperative, outside of State Corporation (PERJAN and Public Corporation (PERUM) fields. All capital or some from state rich came from the state’s wealth that is separated and divided from shares and also civil legal status of the firm which is Limited Liability Company (PERSERO) formed (Diah, 2003: 184-185).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;In 2003, government issued Decree number 19 which groups the SOEs into two forms; Public Corporation (PERUM) and Limited Liability Company (PERSERO). According to Cristianto Wibisono, basically, the growth of SOEs is divided into four periods:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Before Independence&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;In this period, SOEs are managed by IBW and ICW regulations. This period has 20 SOEs submitting to IBW that operate in many economic fields including electricity, coal, lead, harbor,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pawnshop, salt, plantation, limited liability company, railway and topography.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;1945-1960&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Besides SOEs above, in this period there were some SOEs that include State Bank Industry, Sera, Vaksin, PT. Natour Ltd. Considering the important of SOEs existence in development and West Papua liberation from Dutch colonialism, based on Government Regulation number 23 year 1958 was nationalization action to ex Dutch private companies in Indonesia. Companies that nationalized were operated in almost state economic sectors including banking, plantation, trade and service.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;1960-1969&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;As result of nationalization, in 1960-1969 all SOEs totally 822 companies. That total was rearranged, until 1989 the decrease became around 200 companies.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;1969 until present&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;After 1969, SOEs have the role to support National Development more and to increase the development activity since five years development (PELITA) I… (Diah, 2003: 186-187). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Phases were through by SOEs in order to adapt the world dynamics. The government has made some policies to make ideal SOEs form to make them involve and give significant contribution in development process that spur with world changes.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;The changes in the world have been influenced by human being activities. The growth of technology makes everything easy now: transportation, communication, economic transaction, etc. The effect is that the world become borderless and economic activities more aggressive. Some classic economic theories have transformed to new methods in order to adapt to globalization era. Battles of two mainstream ideologies, socialism and capitalism, have done along with collapse of Soviet Union. The collapse of Soviet Union and almost all socialist countries was a sign that the capitalism was single choice for world economic system, such statement is accordance with Francis Fukuyama premise in 1992 (Moeljono, 2004: 52).&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;The globalization of the economy propelled government all over the world to resort to structural adjustments at the political level. Various measures toward liberalization, deregulation and privatization aim at facilitating the shrinkage of the state on the other hand, and empowering of citizens on the other. The purpose of these reforms is to shift the focus from a bureaucratic model of public management to a market model (Gupta, 2000: 2).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Privatization can be defined broadly as relying more on the private institutions of society and lees on government to satisfy people’s needs. It is the act of reducing the role of government or increasing the role of the other institutions of society in producing goods and services and in owning property (Savas, 2000: 3). The intellectual for privatization was laid by Milton Freidman. Privatization was first suggested in 1969 (and the word, in the form reprivatize, was first used) by the Austrian-born American management professor Peter&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;F. Drucker (Savas, 2000: 15).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;The elections of Margaret Thatcher as prime minister of Britain and Ronald Reagan as president of the United States, in 1979 and 1980 respectively, gave high visibility and a pronounced ideological impetus to what became the privatization movement (Savas, 2000: 15). In the 1980s many industrialized Western nations, stimulated by the British example, embarked on privatization programs and so did many developing nations, the latter pushed in part by Western donor nations and by international agencies that had grown impatient with the poor performance of state-owned enterprises that they had previously financed (Savas, 2000: 16). The same very instructions are now keeping on developing countries to privatize their public sector enterprises before applying for loans (Gupta, 2000: 4-5). In this case, Indonesia is one of developing countries which bagging and did what the instruction to get some loans from International Monetary Fund (IMF), World Bank, Asian Development Bank (ADB), etc. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;In 1996, Indonesia government debt reached US$ 55,3 billion, increase by 75,5% from government debt in 1986 (US$ 31,5 billion). President Soeharto was driven some ideas to pay it. One of his ideas was make good use of SOEs. He said that Indonesia shouldn’t worry with the international debts because SOEs values were bigger than government debts (Moeljono, 2004: 8). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Privatization is one familiar word in the last two decades in SOEs management in many countries including Indonesia. Because of those reason above, privatization policy invited many polemic and resistant in the society. In fact, government already did it in many strategic SOEs and still arrange to the other. Under President Megawati Soekarnoputri government was issued Decree number 19 years 2003 about SOEs… It was first Decree in Indonesia which gave explicit basic law to privatization implementation (Rais, 2008: 188). Like possessed by an evil spirit, signs of SOEs privatization in 2008 are more real. SOEs privatization committee already made list of 44 SOEs are going to sale… (Rais, 2008: 226). It does not make sense, how could the government take the policy?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Based on the illustration, privatization is a policy which betrays the aim and spirit of The Constitution article 33. Next questions are; why did government did it and still does it? What are the objectives behind the policy? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:13;" lang="EN-US" &gt;A Bundle of Problems &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Our history showed how our founding fathers were very concerned to realize the purpose of the state, fair and wealth society, through their thought and heroic actions. By SOEs establishment, every strategic source of public utilities must be managed under state management and use it for the society prosperity. Besides that, the aim is to avoid monopoly by private or foreign company that lead the make society suffer because the orientation is profit to enrich individual or group. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;The world dynamic and the reality have been weakening the purposes. SOEs management was not capable at bringing and giving the best service to society and gaining profit for state treasury. In fact, many SOEs become the state’s burden with the subsidies and debts because of the failure of the management. More than three decades from national independence in the growing world, enterprises which owned by state already was made confused of subsidy cost, burden for the government. SOEs that made loan to international market substantially increasing whole national debts (Wahyuni, …: 6). There are some factors which caused it, such as management failure, intervention and corruption.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;From the beginning, there have been a lot of management problems from recruitment mechanism, red tape, accountability, corporate culture, etc. In management, human resource is key factor in order to improve the companies. Quality and quantity influence the achievement of vision and mission. What if it is weak? Surely, vision and mission of the enterprise never been reached. Ironically, many of new employees accept to work in SOEs without proper mechanism. They become employee by recommendation from their relatives or the senior official government that already work there. They joined without test even though it has just formality. So the enterprises had no idea of their own employees capability. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Red tape was one of many management problems that gave bad influence to SOEs. Because of it, there have a lot of inefficient and ineffective work that made low performance. Bureaucracy chain also made any policy hard to implement because it must go through many mechanism. That’s why SOEs are often late to take decision to adapt to the environmental changes and to compete in tight competition. Besides that, innovation could not grow because the mechanism inhibits it. With that performance, it is impossible for SOEs to gain amount of profit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;To make SOEs compete and grow to be multinational enterprises, one of the key is accountability. It is obligatory in globalization era to reach people’s trust. In the past, even nowadays, people haven’t had access about information the SOEs profit or loss. They just knew that SOEs always get subsidy from state for operational budget or they have loan to international organization. It also prevents from and avoids SOEs from corruption.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Besides vision and mission, a good enterprise, in this case SOEs, must have corporate or enterprise culture and some SOEs already have it like BRI, Telkom, etc. Based on it, whole activities in the enterprise must relate to it. According to Lawrence E. Harrison and Samuel &lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;P. Huntington, culture determine progress of every society, state, and nation in the world, either consider from politic, social or economic, without exception (Moeljono, 2004: 78). Generally, corporate culture is philosophy question, functioning as pursuit which fasten the employees because formally it is formulated in every company regulation and stipulation (Moeljono, 2004: 80). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Corporate culture is one of the important factors for a company, in this case SOEs, to reach productive performance (Diah, 2000: 173). Long bureaucracy chain and feudalism are still formal structure in SOEs environment (Diah, 2000: 174). That’s why SOEs are hard to get maximum performance. That culture grows in the former regime and is integrated in SOEs employee and management paradigm and attitude then become characteristic. The core of corporate culture is a guidance to act in order to reach vision and support the mission. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Moving from some SOEs management problems, next problem are intervention and corruption. It comes from the regime which manages the state. Those tends to break the rules, for individual or group interest and later on weaken SOEs. With the power that they have, government and political party where they come from, misuse it and make SOEs as their cash cows. Automatically, the authority of SOEs management was hijacked by them and made SOEs weak day by day. The worst was in the privation policy. They involved and used their power to gain profit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;For instance, an analysis of privatization programs and policies in ASEAN (Thailand, Philippines, Indonesia, Malaysia, and Singapore) reveals the role played by the government in changing the pattern of the ownership in these societies. In these countries more and more politicians got into the business of privatization, and business terminology began to permeate the political horizon. Privatization became a means toward personal enrichment. For instance, we find an alliance between the political leaders and conglomerates in Indonesia – the former supplying licenses, import monopolies and contracts to the letter (Gupta, 2000: 7).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;According to the GOPAC Handbook on Controlling Corruption, corruption is seen as the abuse of public position for private, individual or group to whom one owes allegiance. It occurs when public official accepts, solicits, or extorts payments, or when private agents offer a payment to circumvent the law for competitive or personal advantage (Rais, 2008: 178). …corruption type which super destructive and state scale is state-captured corruption. It runs by state, the state pawning to foreign corporate power by the government that in charge (Rais, 2008: 180).&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Foreign enterprise was intervened made of any blueprint script of Decree, Governmental Regulation, Presidential Regulation, etc. That is the most sophisticated way and does not seem vulgar because they are rarely detected by public or mass media… Once again, this is what called state-captured corruption (Rais, 2008: 214). Revrisond Baswir said “That the majority of our Decrees are created by them. For instance Decree of Oil and Natural Gas, there clearly shows the role of World Bank, Decree of SOEs in which Price Waterhouse Cooper plays part, Decree of Electricity – here again we can be find Asian Development Bank’s part. Here, they also play part (Rais, 2008: 214). Ironically, SOEs was interventions by government and the government was interventions by international power, either organizations or corporations.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Basically, privatization policy was IMF, World Bank and WTO recommendation that known as Washington Consensus. According to John Williamson, he formulated the similarity of that view into ten steps of economic improvement to countries which have crisis and then those steps or the recommendation known as Washington Consensus. Ten economic recommendations which popular as Washington Consensus (Rais, 2008: 15):&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;free trade&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;stock market liberalization&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;flow exchange rate&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;interest nominal determined by market&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;market deregulation&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;transfer asset from public sector to private sector&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;tight focus in public expenditure in many social development target&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;8.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;balanced budget&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;9.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;tax reformation&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;10.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;protection of proprietary rights and creation rights&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Now we know why government did privatization program and still does that. What about the objectives behind the policy?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;If the privatization program was conducted in a right and proper way, it could make significant change to better off SOEs management. But the fact is very terrible. Privatization become the way to reach individual or group interest, enrichment, international acknowledgement in international relation, prove the loyalty to international economic mainstream or the worst it is just as a servant of global economic and politic power.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Fuad Bawazier shows our less of intelligence, which is: foreignization process impression as globalization and modernization achievement (Rais, 2008: 160). Government realizes that as a developing country, especially as a country that has a lot of debts to international donor, Indonesia must ponder and obey the rule and requirement to get another loan.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;How could it happen? It means the government runs and strengthens that policy which already has betrayed society mandate and The Constitution 1945. The result is that government sells the state gradually from SOEs to foreign company. Tragically, the target of the privatization is strategic and prospective SOEs that manage public utilities and state needs. That has an opportunity to harm the society life and sovereignty of the state.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:13;" lang="EN-US" &gt;Paradigm and Work Frame Change&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;The establishment of SOEs has been through a long process until now. Our founding fathers took over colonialist companies and changed them to SOEs to avoid monopoly and domination of foreign companies in public utilities. So they are managed only by the state. SOEs also established to gain profit to treasury state. Those aims also support The Constitution of 1945 especially article 33. With all instruments, state must fulfill society needs of goods and services. Above of all, SOEs established as instrument to realize welfare society and state and also to avoid capitalism effect.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;As time goes by, the aim of SOEs become blurred because of many factors: like management failure, intervention and corruption. Every regime couldn’t develop SOEs to professional enterprise but use it as their money machine. The result is SOEs management become worst and state burden. Tragically, President Soeharto said that SOEs can be used to pay state debts.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;After economic crisis, Indonesia wound of debts to international donor. The donor (IMF, World Bank, WTO, known as Washington Consensus) have some criteria and requirements to give loan for every country, including Indonesia. One of that is privatization program. Beginning from that, many prospective and strategic SOEs already sold to foreign company in irrational price without limitation of share owning. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Besides the loss the SOEs, state sovereignty was ripped because government has not had the authority to take of a decision and manage the state. All conditions must be appropriate to the donor economic formulation to cure the crises. Besides selling the SOEs, government must stop subsidy for some vital commodities and liquidate Logistic Body (BULOG). After few years, the result was disappointing, social and economic sectors never cure even worst.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Privatization is committing of treason of The Constitution article 33. From the beginning, Decree number 19 year 2003 was made to support liberalization and globalization trade that agreed by international community, including Indonesia, such as agreement of WTO, ASEAN Free Trade Area (AFTA), ASEAN Framework Agreement on Service and Asia Pacific Economic Cooperation (APEC). In Chapter One, Article Two, Point One states that all or at least 51% shares of SOEs in limited liability company (PERSERO) firm is state own. But in point twelve stated that privatization is sells of limited liability company (PERSERO) share, even a part or all to other side in order to increase the performance and the corporate value… also to spread the share ownership to society.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Privatization by salling SOEs share is without limit and irrational prices are not the only solution to cure SOEs illnesses. If we take example from development countries, the society is already wealthy so they can buy the share. But for Indonesian, it is impossible because the society must survive from the crises. That’s why SOEs share bought by foreign company. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Tragically, political elites have different perspective of privatization. They though by sell the majority share of SOEs, the ownership change to foreign company that absolutely has many expert and better management than local company. That is clearly astray thought. The case of Indosat and Telkomsel is factual prove. The government sold it to Tamasek, Singapore’s company, with low price on the other side those company in good performance and very strategic for telecommunication and state defend. They promised that they would bring it to become better company with good management and would local employees take training in Singapore to increase they ability. The fact, Tamasek makes monopoly telecommunication price, the management never changes to become a good management and never sends employees to take training in Singapore.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Government must be wise and not be in hurried to take decision. Like a doctor, government must diagnose the illnesses, find the cause, categorize the illnesses and then give the prescription. After that, the government explains how to use the dose that must be consumed and it also monitors the progress. That action must cure the SOEs illnesses with less cost rather than trust and obey the psychopath doctor from Washington.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;It shouldn’t happen if the government implements serious and has professional paradigm to managed SOEs. Radical way to change that condition its a must. As we discussed previously, there are three main SOEs illnesses that already diagnosed: management failure, intervention and corruption. To cure the illnesses SOEs in management failure is change of old management with implement good corporate governance which is include the structure, system, infrastructure, human resources, technology, culture, etc. The government also can hire some expert to help the management to improve performance. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Good corporate governance already proved empirically to improve company performance in many countries. The frame work of good corporate governance is effective, efficient, transparent and professional to reach the goal. So, the management failure could solve it if the government serious, strict and consistent in implement it. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;For intervention problem, even from inside or outside the state, the government must take resolute step for it. First of all, the government must have good political will and brave hart to face all intervention form. Exactly, it comes from leadership quality from first man in this country with his related minister and all political elites in Indonesian Legislative Assembly (DPR) which produce the decrees. Besides that, the government and Indonesian Legislative Assembly (DPR) should make strict regulation or decree that clearly arrange the indicators of intervention and the punishment for that action, including foreign side. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;In order to restore state credibility and sovereignty, government must be brave and firm to any intervention from foreign sides, even a company, state or donor. By doing so, government has authority to take the best policy in order to develop society and state to become developed and prestigious country.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Corruption is problem that already became a culture. Like intervention problem, this problem must take serious action and good political will from all elements that related with SOEs. To eliminate it, SOEs must have strict regulation to control finance circulation. In order to prove the validity of finance report, it must investigate by Finance Investigation Bureau (BPK). It is prevented action to avoid corruption because the main action to cure this illness is prevention. Besides that, SOEs must make cooperation with Corruption Abolishment Commission (KPK) as super body to investigate and to get the evidence of corruption indication, even in the past. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;If all run well, SOEs could reach people’s trust and get the credibility back. The important one, SOEs would grow and can compete in global competition. On top of that, SOEs can give the best goods and services to society and also become the source of the state treasury. When it all becomes reality, our founding fathers spirit would smile and be proud because their struggle will already pay off.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;References:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12;"  lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Asha Gupta, &lt;i style=""&gt;Beyond Privatization&lt;/i&gt;, London: Macmillan Press Ltd, 2000.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:130%;" lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12;"  lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Bondan Kanumoyoso, &lt;i style=""&gt;Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia&lt;/i&gt;, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2001.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:130%;" lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12;"  lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Djokosusanto Moeljono, &lt;i style=""&gt;Reinvensi BUMN&lt;/i&gt;, Jakarta: PT. Alex Media Komputindo, 2004.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:130%;" lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12;"  lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Erma Wahyuni, et.al., &lt;i style=""&gt;Kebijakan dan Manajemen Privatisasi BUMN/BUMN&lt;/i&gt;, Yogyakarta: YPAPI, …&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:130%;" lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12;"  lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;E.S. Savas, &lt;i style=""&gt;Privatization and Public-Private Partnerships&lt;/i&gt;, New York: Seven Bridges Press, 2000.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:130%;" lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12;"  lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Marwah M. Diah, &lt;i style=""&gt;Restrukturisasi BUMN di Indonesia (Privatisasi atau Korporisasi)&lt;/i&gt;, Jakarta: Literata Lintas Media, 2003.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:130%;" lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Symbol;font-size:12;"  lang="EN-US" &gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;Mohammad Amien Rais, &lt;i style=""&gt;Agenda Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia!&lt;/i&gt;, Yogyakarta: PPSK Press, 2008.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:130%;" lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:12;" lang="EN-US" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-8675874346646267557?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/8675874346646267557/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=8675874346646267557' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/8675874346646267557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/8675874346646267557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/09/panacea-of-state-owned-enterprises.html' title='PANACEA OF STATE-OWNED ENTERPRISES ILLNESSES; PRIVATIZATION?'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-8718156823366217664</id><published>2008-07-22T19:09:00.000+07:00</published><updated>2008-07-22T19:10:39.599+07:00</updated><title type='text'>PROTESIKLIK</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Ahmad Fikri Adriansyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Anggota Departemen dakwah dan Ukhuwah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Tebet Timur&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hmmmpppphh…Huuufff….&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Menarik napas panjang dan melepaskannya sambil melemaskan badan hampir setiap hari kita lakukan. Maksudnya bukan untuk olahraga atau pun bermalas-malasan, tetapi merupakan ekspresi fisik dari ruhani kita yang prihatin. Prihatin merenungi dosa-dosa sendiri dan prihatin melihat orang-orang yang senangnya bermain saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kita melihat para pemimpin negara yang senangnya bermain dengan kekuasaan. Sebelum terpilih, mereka meyakinkan diri dengan slogan-slogan penuh semangat, seolah berusaha menghangatkan rakyat dengan cahaya ketulusan hati mereka. Mereka yakin, sebagian rakyat pun yakin, sebagian lagi meragukan, dan sebagian lagi apatis alias masa bodoh. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kita tak boleh berburuk sangka kepada mereka, dengan terburu-buru menganggap janji-janji mereka hanya dagelan semata. Namun, boleh jadi kita merasa lelah, karena sudah berulang kali kita menelan pil janji pendahulu mereka yang terasa pahit. Karena itulah, mari kita doakan saja mereka agar tak melupakan kata-kata mereka sendiri. Meski berat, ayo kita kuatkan langkah mereka dengan doa dan kepercayaan kita. Semoga itu menjadi setitik harapan agar Allah swt menjaga mereka dalam amanah dan menerangi jalan mereka dengan cahaya petunjuk-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Demikianlah kecenderungan fisik manusia. Manusia semakin lapar ketika semakin banyak makan dan semakin haus ketika semakin banyak minum,…dan semakin miskin ketika semakin banyak harta yang dimiliki. Ketidakpuasan, inilah satu-satunya frase yang dikenal oleh aspek tanah diri manusia. Aspek tanah ini tak pernah mengenal kepuasan. Kepuasan hanyalah dimiliki oleh aspek langit dalam diri manusia. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa fenomena pergeseran aspek langit ke aspek tanah dalam diri manusia telah lama menjangkiti manusia, mulai dari rakyat biasa hingga para pemimpin mereka. Karena para pemimpin yang sering tampil di depan publik, maka fenomena pergeseran itu lebih sering dikaitkan dengan tingkah laku mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebelum menjadi apa-apa, ketika masih berlomba meraih kemenangan, dan pada momen-momen awal setelah sumpah jabatan itu terucap, (mungkin) hanya aspek langit-lah yang menyelimuti jiwa dan raga mereka. Seiring waktu berjalan, para syaithan semakin gencar mengadu domba antara aspek tanah dan langit dalam diri mereka. Sebagian dari mereka takluk hingga aspek tanah yang disponsori syaithan berhasil menginjak-injak aspek langit. “Dunia” mereka telah berbalik, bukan lagi “tanah yang beratapkan langit”, tetapi “langit yang berlangitkan tanah”. Langit mereka tidak lagi berhiaskan bintang, tetapi malah berhiaskan binatang tanah. Mulai saat itulah, berbagai penyimpangan tinggal menunggu waktu untuk dikuak, diprotes oleh mahasiswa, dihujat, dan dijebloskan ke penjara (kalo hakimnya tidak “kasihan” sama mereka). Kasihan para pemimpin, karena tidak ada yang mengasihani mereka setelah itu…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Saya jadi berpikir, betapa “membosankan”-nya realita itu. Saat muda dan masih mahasiswa, mereka mengumbar idealisme putih dan panji-panji kebenaran. Saat mapan dalam kekuasaan, idealisme itu luruh perlahan dan panji kebenaran pun jatuh dari genggaman tangan. Kemudian, mereka diprotes oleh anak-anak muda yang tak lain, adalah gambaran diri mereka di masa lampau. Apakah nanti anak-anak muda yang memprotes mereka akan juga diprotes oleh para mahasiswa masa depan? Pertanyaan yang menyedihkan ini seolah menjadi penegas bahwa rantai siklus protes (protesiklik) adalah suatu keniscayaan. Si A akan diprotes oleh “anak”nya yang bernama Si B. Kemudian, Si B akan diprotes oleh “anak”nya yang bernama Si C. Demikianlah seterusnya hingga hari kiamat tiba. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mungkinkah kita memutus rantai protesiklik?? Sebelum menjawab ini, saya mencoba memosisikan diri sebagai pihak yang melakukan protes dan pihak yang diprotes. Jika saya menjadi pihak yang melakukan protes, maka kehidupan saya relatif “lurus”, apa adanya, dan tidak disibukkan dengan berbagai polemik, siasat, dan kepentingan sana-sini yang bernilai ratusan juta rupiah atau bahkan lebih. Singkatnya, saya tidak perlu berpusing-pusing ria dengan segala fitnah yang membuat mata menjadi “hijau”. Saya pun merasa bisa menjaga diri dengan kadar keimanan yang “segini” dan kalaupun berbuat dosa, umumnya tidak sampai terjerembab ke jurang korupsi dan kolusi yang merugikan rakyat banyak serta bermewah-mewahan seraya berdiri di atas kepala kaum dhuafa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hmm… selanjutnya saya membayangkan jika saya menjadi pihak yang diprotes. Otak saya tidak hanya penuh dengan janji-janji dan program-program yang begitu mulia, tetapi berseliweran pula di sekelilingnya, lintasan-lintasan hati yang berwujud jutaan lembar kertas persegi panjang bergambar George Washington atau Ki Hajar Dewantara. Aahh…berat sekali rasanya otak ini. Godaannya sungguh ruaarrr biasa. Saya pun membatin: Kalau saya masih punya kadar keimanan yang cuma “segini” dan tetap “segini” saja, mampukah saya mempertahankan janji dan program-program mulia itu di otak saya? Mampukah saya menahan diri agar tidak tergiur dengan jutaan rupiah dan dolar itu? Tidaaaak, tidak mungkin! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebelum saya menjadi penguasa, mungkin nilai godaan itu cuma 5 dalam skala 10 dan keimanan saya pun kira-kira bernilai 5 sehingga kondisinya cukup ‘aman’. Namun, saat ini, ketika pangkat dan kekuasaan bertumpuk di pundak saya, nilai godaan itu melesat hingga 10, dan keimanan saya masih bernilai 5 atau bahkan turun drastis setelah kalah telak dalam perang melawan syaithan. Secara matematis saja, jelas tidak mungkin bagi saya untuk mempertahankan idealisme saya sendiri. Lebih lagi, perkara godaan dan iman sebenarnya tidak bisa di-matematiskan sehingga mungkin nilai godaan itu jauh lebih besar dan keimanan itu jauh lebih rendah lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dari sinilah saya memikirkan dua hal terkait dengan upaya memutus rantai protesiklik. Pertama, bahwa kita harus lebih arif dalam mengkritisi dan memprotes para penguasa/pejabat. Ketika mengkritik atau memprotes, maka sebenarnya tanggung jawab terbesar dari kritik dan protes itu kembali ke diri kita sendiri: apakah kita mampu menjaga diri agar TIDAK menjadi SEPERTI MEREKA pada saat kita mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan mereka kelak? Pertanyaan ini secara logis sangat mudah dijawab oleh kita. Kebanyakan kita pasti menjawab “SUDAH” atau “YA” saat ini, tetapi nanti? Apakah kita tetap menjawab dengan jawaban yang sama? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kedua, bahwa kesadaran kita untuk memegang dan menjaga amanah kepemimpinan dan kekuasaan tidaklah berada dalam konstelasi logika. Siapa di antara para penguasa itu yang belum tahu bahwa korupsi itu adalah suata dosa? Kemudian, siapakah di antara mereka yang tidak diajari oleh ibu kandung mereka bahwa “mencuri itu tidak boleh”? Selanjutnya, adakah di antara mereka yang ketika kuliah diperkenankan oleh dosen mereka untuk saling mencontek saat ujian? Dan, berapa banyak di antara mereka yang belum mengikuti penataran/pendidikan/pelatihan mengenai kepemimpinan yang baik dan benar? Meskipun mereka cerdas, intelek, dan bahkan ada juga yang pintar ilmu agama, ternyata itu semua tidak menjamin bahwa mereka tidak akan mengkhianati kepercayaan rakyat. Jelas sudah, bahwa kekuatan logika bukanlah satu-satunya kekuatan, bahkan seringkali tak berdaya, dalam membangun kesadaran menjaga amanah. Akal yang mengharamkan pengkhianatan tidak akan berdaya dan akhirnya menunduk patuh pada Hati yang memerintahkan kita untuk berkhianat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Lantas, konstelasi apakah yang melingkupi dan mengendalikan kesadaran untuk menjaga amanah? Saya yakin Anda dan kita semua sudah tahu, dialah konstelasi keimanan. Konstelasi keimanan terkait dengan rendah atau tingginya keimanan dalam hati kita. Ketika iman kita sedang rendah, maka peluang berbuat dosa pun semakin besar. Sebaliknya, saat keimanan kita memuncak, maka pintu perbuatan dosa semakin merapat dan amal shalih pun mudah tercipta. Karena itu lah, kita semua yang akan menjadi pemimpin-pemimpin masa depan, berkewajiban mengorientasikan diri agar grafik keimanan kita terus menaik positif. Keimanan adalah nutrisi bagi pohon diri kita yang terus tumbuh tinggi menjulang agar tetap lurus ke atas dan kuat menahan angin godaan yang semakin kencang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jadi, mungkinkah kita memutus protesiklik? Mungkin saja, jika kita bertanggung jawab atas kritik dan protes yang keluar dari mulut kita sendiri. Refleksi dari tanggung jawab itu adalah sejauh mana kita merapatkan diri selalu dalam konstelasi keimanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Saudaraku,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kita harus terus berlatih untuk sadar bahwa keimanan berada di hati. Hati adalah raja diri, tempat segala keputusan akhir mengenai tingkah laku kita bermuara. Apapun yang diminta oleh Akal dan yang dihasut oleh Syahwat, hanya akan terbukti dalam perbuatan setelah Hati memberikan atau tidak memberikan “cap” persetujuan. Kita lah yang memilih siapa yang akan menggerakan Hati kita, apakah keimanan atau syaithan. Semoga kita dimudahkan oleh Allah SWT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Wallahu a’lam...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-8718156823366217664?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/8718156823366217664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=8718156823366217664' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/8718156823366217664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/8718156823366217664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/07/protesiklik.html' title='PROTESIKLIK'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-4168931383908824201</id><published>2008-07-22T19:08:00.000+07:00</published><updated>2008-07-22T19:09:53.631+07:00</updated><title type='text'>KEKUATAN DOA</title><content type='html'>&lt;p class="style3" style="text-align: center;" align="center"&gt;Oleh:&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span class="style2"&gt;&lt;b&gt;Ir. Naba Aji Notoseputro .&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;(&lt;/strong&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="style2"&gt;Direktur Akademi- akademi BSI&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Suatu waktu ada sebuah pesawat tempur dengan 2 (dua) orang pilot yang sedang terbang di atas laut tiba-tiba saja mengalami kerusakan mesin. Secara cepat pilot kemudian berupaya mencari pulau terdekat untuk mendaratkan pesawat tersebut. Akhirnya dengan susah payah, pesawat tersebut berhasil mendarat di laut dan kedua pilot berenanglah menyelamatkan diri menuju pulau kecil yang tidak berpenghuni. &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Kedua pilot yang selamat tersebut tak tahu apa yang harus dilakukan karena seluruh peralatan yang ada telah rusak terendam air. Namun keduanya yakin dan percaya bahwa tidak ada yang dapat dilakukan kecuali berdoa kepada Allah. Untuk mengetahui doa siapakah yang paling ‘&lt;em&gt;makbul&lt;/em&gt;’ (dikabulkan), kemudian mereka sepakat untuk untuk saling berpisah menjauh menuju sisi-sisi pulau yang saling berseberangan. &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Setelah beberapa hari menunggu di sisi-sisi pulau yang saling berjauhan dan menunggu bantuan atau tim penolong tiba, mereka mulai merasakan lapar dan haus yang amat sangat. Kemudian pilot pertama mulai berdoa agar ia diberikan makanan. Tanpa disangka keesokan harinya, begitu pilot pertama bangun ia telah mendapatkan sebuah pohon yang penuh dengan buah. Tetapi, nun jauh disisi pulau yang lain pilot kedua tidak merasakan hal tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Setelah mengetahui bahwa Allah maha mengabulkan, kemudian pilot pertama mulai berdoa memohon untuk diberikan makanan, pakaian, rumah dan segala macam yang ia butuhkan. Keesokan harinya, seperti ada keajaiban saja, maka semua yang ia minta telah tersedia dihadapnya. Sedangkan pilot yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Akhirnya, dengan sangat khusyu bercampur haru pilot pertama mulai berdoa agar ia diselamatkan dari pulau tersebut untuk dapat berkumpul kembali dengan keluarganya. Pagi harinya ia telah mendapatkan sebuah sampan tertambat di sisi pantai, lengkap dengan perbekalannya.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Segera saja pilot pertama segera naik ke atas sampan dan bersiap-siap berlayar untuk meninggalkan pulau tersebut. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan temannya (pilot kedua) di pulau tersebut.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Menurut pilot pertama, memang temannya tersebut (pilot kedua) tidak pantas menerima pemberian Allah, karena doa-doanya tidak pernah dikalbulkan. Begitu pilot pertama hendak berangkat, ia mendengar suara menggema dari langit. “Wahai pilot pertama, mengapa engkau tega meninggalkan temanmu di pulau ini?”. Kemudia pilot pertama menjawab, “Berkah-Mu hanyalah untukku, ya Maha Agung, karena hanya doakulah yang Engkau kabulkan. Doa-doa temanku itu tidak pernah Engkau kabulkan, maka ia tidak pantas untuk mendapatkan apa-apa”.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;"&gt;Kemudian pilot pertama kembali berujar, “Katakanlah ya Allah, doa macam apa yang ia panjatkan kepada-Mu, sehingga aku harus berbagi keberkahan dan ridho-Mu atas semua ini kepadanya?”. Kemudian terdengar suara menggema, “&lt;em&gt;&lt;b&gt;Teman mu, hanya berdoa agar semua doa mu dikabulkan&lt;/b&gt;&lt;/em&gt;”.&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: arial;"&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;em style="font-family: arial;"&gt;Jadi kesombongan dan keserakahan macam apakah yang memuat kita menganggap bahwa hanya doa-doa kita yang terkabulkan oleh-Nya?. Tak selayaknyakah? kita mengabaikan peran orang lain, yang selalu dengan ikhlas berdoa untuk kesuksesan kita&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;. (Renungan Ramadhan).&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-4168931383908824201?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/4168931383908824201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=4168931383908824201' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/4168931383908824201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/4168931383908824201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/07/kekuatan-doa.html' title='KEKUATAN DOA'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-8659656664902764024</id><published>2008-07-22T19:07:00.000+07:00</published><updated>2008-07-22T19:08:36.953+07:00</updated><title type='text'>ILMU DAN IMAN</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center;" class="MsoTitle"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mardanih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoTitle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kader Pimpinan Cabang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoTitle"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pemuda Muhammadiyah Jagakarsa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align: left;" class="MsoTitle"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;lmu dan iman merupakan suatu kesatuan yang seharusnya tidak terpisahkan, karena apabila suatu ilmu tidak disertai dengan iman maka hal tersebut akan cenderung melampaui batas, salah satu contohnya ialah ketika Darwin mencetuskan suatu teori tentang asal usul manusia yaitu pada asalnya manusia itu berasal dari kera, hal tersebut jelas-jelas apabila dilihat dari kaca mata iman merupakan suatu penyimpangan yang melampaui batas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa telah menciptakan fitrah yang bersih dan mulia di dalam diri setiap manusia, kemudian melengkapinya dengan bakat dan sarana pemahaman yang baik yang memungkinkan untuk manusia mengetahui kenyataan-kenyataan besar di jagat raya ini. Ilmu yang diperoleh manusia semestinya dapat membuahkan penanaman aqidah dan pendalaman keimanan yang tulus kepada Allah SWT. Keimanan merupakan kebutuhan fitrah setiap manusia di dunia ini disamping merupakan kebutuhan akal manusia. Manusia tidak dapat lepas dari kebutuhan ini karena ia telah ditanamkan di dalam dirinya, dan manusia sendiri diciptakan dengan fitrah itu dan tidak hanya manusia yang di ciptakan dengan fitrah tersebut tetapi seluruh alam raya ini diciptakan dengan fitrah keimanan kepada Allah SWT.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalil atau ayat yang berkaitan dengan hal tersebut terdapat di dalam surat Al-A’raf:172 dan surat Al-Isra: 44:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 27pt; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu? “mereka menjawab, ‘’Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Tuhan).” (QS Al-A’raf: 172)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah SWT. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (QS Al-Isra’:44)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-left: 0cm; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;Hakikat hubungan antara ilmu dan iman adalah ilmu diikuti oleh iman secara langsung tanpa jeda, dan iman diikuti oleh gerakan hati yang tunduk dan khusyuk kepada Allah SWT. Dengan demikian ilmu akan membuahkan keimanan dan keimanan akan membuahkan kekhusyukan dan sikap taat dan tunduk kepada-Nya. Islam sendiri memerintahkan kepada manusia untuk berfikir (menggali ilmu sebanyak-banyaknya), tapi tentu saja tidak melampaui batas kemampuan manusia itu sendiri, hal tersebut dikarenakan kemampuan manusia terhadap ilmu atau segala sesuatunya ada batasannya atau sedikit, karena yang maha sempurna dan maha mengetahui tentang segala sesuatu di jagat raya ini hanyalah Allah SWT.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-left: 0cm; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu adalah urusan Tuhanku dan kamu tidak diberi ilmu kecuali sedikit” (QS Al-Isra’:85)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-left: 0cm; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakan kepada para malaikat lalu berfirman, ”Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” Mereka berkata, “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain yang telah Engkau ajarkan kepada kami, Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Allah berfirman, “Hai Adam beritahukan kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya nama-nama benda itu, Allah berfirman, “Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” (QS Al-Baqarah:31-33)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-left: 0cm; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;Di dalam Al-Qur’an sendiri banyak sekali ungkapan-ungkapan yang berbentuk pertanyaan-pertanyaan yang menandakan bahwasanya umat islam diwajibkan untuk berfikir untuk mencari tahu segala sesuatu yang tentu saja tidak melampaui batas kemampuan manusia itu sendiri, salah satu contohnya ialah di dalam Al-Qur’an banyak sekali ungkapan-ungkapan yang berbentuk pertanyaan, seperti tidakkah kalian berpikir? Tidakkah kalian memikirkan? Tidakkah kalian perhatikan? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;" lang="EN-US"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;idakkah mereka memperhatikan? Tidakkah mereka berpikir? Ada juga ungkapan seperti bagi kaum yang memikirkan, bagi kaum yang mengetahui, dan bagi kaum yang berpikir. Tidak diragukan lagi bahwasanya Al-Qur’an dengan anjuran untuk memperhatikan dan berpikir yang diulanginya beberapa kali menjadikan aktifitas studi dan penelitian dalam berbagai bidang sebagai sebuah keharusan bagi umat Islam, selain itu juga Rasulullah SAW bersabda bahwasanya mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Oleh karena itulah Islam mewajibkan kepada umat untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya seperti peribahasa yang telah diungkapkan oleh Rasulullah SAW “Tuntutlah ilmu walau harus ke negeri China”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-left: 0cm; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;Apabila saat ini umat manusia dapat menyeimbangkan antara ilmu dan iman maka tentu saja kehidupan sekarang ini bisa dipastikan akan menjadi lebih baik dibanding dengan sekarang ini. Tetapi yang terjadi saat ini adalah tidak seperti yang diharapkan, kesenjangan ekonomi dimana-mana, penindasan terhadap sesama manusia dimana-mana dan masih banyak lagi yang lainnya, sedangkan para penguasa yang notabenenya merupakan orang-orang yang berpendidikan (berilmu) lebih mementingan nafsu duniawinya (kepentingan individunya) dari pada kemaslahatan umat pada umumnya. Padahal jabatan atau kekuasaan yang dimilikinya merupakan amanat umat yang harus dijalaninya dengan sebaik-baiknya dan harus amanat, hal tersebut terjadi karena ilmu yang dimiliki oleh para pemegang kekuasaan tersebut tidak dibarengi dengan keimanan, yang menyebabkan kebejatan moral para penguasa tersebut yang hanya memikirkan kepentingan individu dan golongannya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-left: 0cm; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;Oleh sebab itulah ilmu dan iman harus terus berjalan berdampingan, agar tidak melampaui batas, dan agar tercipta keseimbangan, karena apapun bentuknya apabila tidak diiringi dengan kekuatan iman maka akan melampaui batas yang tidak hanya merugikan satu orang saja tapi juga akan membawa kemudharatan bagi umat…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-left: 0cm; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;Semoga kita semua senantiasa dapat memadukan ilmu dan iman yang kita miliki agar senantiasa tercipta keseimbangan diantara keduanya, yang Insya Allah dapat membawa kemaslahatan kepada diri kita sendiri dan umat pada umumnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Amin Allahuma Amin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;… &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-left: 0cm; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-left: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;Referensi :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent3" style="margin-left: 9pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-style: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;Al-Qur’an&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;Nulkarim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: left;" class="MsoTitle"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-8659656664902764024?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/8659656664902764024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=8659656664902764024' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/8659656664902764024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/8659656664902764024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/07/ilmu-dan-iman.html' title='ILMU DAN IMAN'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-5416496287202248458</id><published>2008-06-23T23:11:00.001+07:00</published><updated>2008-06-23T23:13:04.889+07:00</updated><title type='text'>Dialog Dua Hati</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri; font-weight: bold;" lang="en-US"&gt;Ahmad Fikri Adriansyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 110%; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Anggota Departemen Dakwah dan Ukhuwah Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 110%; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Tebet Timur&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 110%; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pagi itu tak seperti biasanya. Adalah seorang ibu yang duduk di atas kursi kayunya, memandangi dengan seluruh jiwa dan raga, putra satu-satunya. Ada yang berbeda dari pandangan itu. Sebuah harapan terpancar dari raut muka ibunda, yang senyumnya menghangatkan kening sang putra, seorang pemuda yang tengah berlari, menuju kedewasaan akal dan hatinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibu, apakah yang seharusnya paling diharapkan seorang manusia, sepertiku?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Anakku sayang, setiap manusia, tidak hanya engkau, memiliki harapan-harapan yang sama… Wujudnya boleh jadi berbeda, tetapi hakikatnya sama saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apakah itu, Ibu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Engkau, Ibu sendiri, dan siapapun yang hadir di dunia ini mengharapkan dua kebahagiaan. Kebahagiaan pertama adalah ketika engkau mendapatkan karunia dari Tuhanmu, sementara Dia mencintai dan ridha kepadamu sehingga Dia memberikannya dengan penuh cinta dan kerahiman-Nya. Engkau pun menyadari bahwa pemberian itu adalah tanda cinta-Nya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Anakku, bisakah kau bayangkan bagaimana engkau diberikan emas dan perak seukuran bumi, lalu ditambah lagi seukuran bumi. Namun, yang memberikan emas dan perak itu terlebih dahulu menginjak-injak kepalamu sebagai syarat atasmu. Apakah engkau akan menerimanya ataukah engkau menerimanya dengan sepenuh hati, atau bahkan engkau tak peduli sebab injakan itu segera diganti emas dan perak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apakah itu yang lebih baik, ataukah jika suatu hari engkau berjalan di siang hari yang terik. Dahagamu tak tertahankan lagi, menunggu sejuknya air untuk membasahi kerongkonganmu sementara pundi-pundi airmu telah kosong dan uangmu tak bersisa. Lalu datang seseorang yang iba padamu. Ia lantas memberikan segelas air untuk kau minum. Ia tersenyum kepadamu penuh keikhlasan. Engkau meneguk air itu dengan semangat sampai rona merah kembali menghiasi wajahmu. Tak lama kemudian, apakah hanya dahaga di sepanjang kerongkonganmu yang hilang? Tidakkah hilang dahaga di hatimu, berganti kegembiraan atas senyuman dan pancaran keikhlasan yang engkau terima?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Anakku sayang, jika demikian, apakah emas dan perak itu lebih berharga daripada segelas air yang kau minum? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibu, jika demikian, tentu segelas air lebih berharga bagiku meski emas dan perak lebih mahal jika dijual di pasar-pasar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(Sang ibu tersenyum) Anakku…memang begitulah. Tidak sedikit manusia yang menilai dari apa yang tampak, apa yang berwujud. Inilah yang membuat mereka tak kuasa menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang diuji. Mereka tak sadar bahwa kaki-kaki mereka berpijak di dalam lingkaran fitnah. Anakku, emas dan perak memang mahal, tetapi apalah artinya itu semua jika diberikan dengan penghinaan dan berbalut kebencian. Anakku sayang, berlindunglah kepada Allah agar engkau tidak termasuk orang-orang yang dianugerahi perhiasan dunia yang dengan perhiasan itu Allah bermaksud mengazab mereka. Sesungguhnya Allah telah berfirman mengenai orang-orang yang munafik :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk mengazab mereka dalam kehidupan dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(At-Taubah 55)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Anakku sayang, betapa sengsaranya orang-orang yang ditipu oleh harta dan keturunan mereka, sementara Allah tidak menyukai mereka. Semburat bahagia dan gelak tawa hampir tiap hari mewarnai wajah mereka, tetapi engkau tidak tahu apakah hati mereka juga bahagia, apakah hati mereka juga tertawa. Kalau tidak hari ini hati mereka menangis, maka suatu hari mereka akan menangis di atas tumpukan harta dan di dalam pelukan anak-anak mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibuku, apakah salah menjadi manusia yang kaya dan banyak keturunannya? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(Sang ibu tersenyum). Tidak anakku, tidak salah menjadi orang kaya dan tidak salah pula memiliki banyak keturunan. Bukankah mustahil bagimu untuk berjihad dengan harta, ketika tiada sepeserpun yang kau punya. Tidakkah sejuk hatimu, ketika anak-anakmu menjadi &lt;i style=""&gt;qurratu a’yun&lt;/i&gt; yang meneruskan perjuanganmu. Anakku, manusia bersalah ketika ia melupakan Dia Yang Menganugerahinya harta dan anak-anak. Anakku sayang, betapa indahnya suasana ketika Allah memberikan dengan penuh cinta dan ridha kepadamu. Sedikit atau banyak tetap penuh keberkahan. Sedikit atau banyak tetap penuh dengan mashlahat. Dan betapa semakin indahnya, ketika engkau pun menyadari bahwa pemberian itu tanda cinta-Nya sehingga engkau tetap waspada dalam kesyukuran dan penghambaan, tenang dalam persangkaan baik kepada-Nya, dan semakin kencang engkau berlari meraih sebagian karunia-Nya. Dan puncaknya, betapa bahagianya dirimu ketika Allah memuliakanmu dengan sebutan ”hamba-Ku” lalu menghadiahi kebahagiaan akhirat kepadamu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibu, aku telah memahami nasihatmu, tetapi apakah salah ketika aku merasa, berat sekali meraih kebahagiaan pertama ini, bukan aku tak ingin, tetapi karena syaithan jin dan syaithan manusia tak pernah berhenti menggodaku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Anakku, sesungguhnya Ibu pun merasakan hal yang sama. Tiada yang bisa meringankan, tiada yang bisa memudahkan, selain Allah. Semoga kita selalu mengabdi dan memohon pertolongan hanya kepada-Nya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibu, lantas apa kebahagiaan yang kedua? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(Sang ibu menghela napas) Anakku sayang, kebahagiaan yang kedua adalah ketika engkau mampu memberi dengan penuh cinta dan keikhlasan kepada orang-orang di sekitarmu sehingga engkau menjadi manusia yang bermanfaat dan tak ternilai. Sedikit atau banyak yang kau beri, tidaklah menjadi ukuran kebahagiaanmu, tetapi keikhlasan dan rasa cinta yang mengiringinya, itulah yang menjadikan kebahagiaanmu berlipat ganda. Tahukah engkau anakku, berapa harga sepiring nasi rames yang kau hidangkan kepada sang tamu yang bertandang ke rumah kita?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hmmm...kalau dihitung-hitung, harganya enam ribu rupiah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(Sang ibu tersenyum) Anakku, jika sang tamu membayar enam ribu rupiah kepadamu. Apakah akan engkau terima? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hihi...ibu bisa saja nih...ya enggak saya terima dong, bu. Kan, rumah kita bukan warteg. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bagaimana jika ia membayar lima puluh ribu rupiah, engkau tertarik anakku? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Emmm...sepertinya tetap tidak tertarik, bu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tampaknya masih kurang ya, bagaimana kalau satu juta rupiah untuk sepiring nasi rames? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibu ada-ada saja. Sepiring nasi rames itu kan, bukan untuk diganti dengan uang, bu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Anakku, jika engkau tak mengharapkan uang, bagaimana jika sang tamu menggantinya dengan satu unit mobil Jaguar terbaru? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;He..he...kalau dikasih mobil Jaguar sih mau banget, tapi kalau ada embel-embel bahwa mobil itu sebagai pengganti nasi rames, rasanya aneh aja, bu. Entah mengapa, aku pikir itu tidak pantas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Anakku, engkau tidak mau menerima uang dan engkau pun segan menerima Jaguar itu sebagai pengganti sepiring nasi rames. Lalu, apa yang sebenarnya engkau harapkan? Jika sang tamu bertanya kepadamu apa yang engkau inginkan sebagai pengganti nasi rames, bagaimana jawabanmu? Waduh...aku bingung harus jawab apa jika ditanya seperti itu. Aku jadi berpikir, apa kira-kira maksud Ibu memberikan permisalan ini? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(Sang Ibu tersenyum) Anakku, semua orang yang normal pasti merasakan hal yang sama jika mereka berada di posisimu. Engkau tidak mau menerima enam ribu rupiah, lima puluh ribu rupiah, satu juta rupiah, bahkan mobil Jaguar sekalipun sebagai pengganti sepiring nasi rames karena harga nasi rames itu sudah tak ternilai lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apakah yang membuat nasi rames itu tak ternilai, bu? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bukan karena kelezatannya, bukan karena kandungan gizi di dalamnya, dan bukan pula karena banyaknya. Nasi rames itu tak ternilai karena merupakan pemberian darimu yang penuh cinta dan keikhlasan. Sekecil dan sesedikit apapun yang engkau berikan, ketika diberikan dengan cinta dan keikhlasan, maka seketika itu pula tiada satu makhluk pun yang mampu menilai apa yang engkau berikan, bahkan dirimu sendiri. Seketika itu pula, nilai fisik pemberianmu seolah-olah menjadi tak berarti. Seketika itu pula, hanya Allah yang mampu menilainya secara hakiki dan...siapa yang lebih baik dari Allah dalam menilai dan membalas amal hamba-hamba-Nya? Maka tidaklah heran jika engkau tidak menerima sebesar apapun pembayaran atas pemberianmu, karena tak akan sanggup menyamai nilai apa-apa yang engkau berikan. Anakku, bahkan sebenarnya engkau bisa memberikan yang tak ternilai tanpa perlu mengeluarkan uang sepeserpun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apakah itu, Ibu? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Senyumanmu. Ya, tersenyumlah kepada mereka yang berjumpa denganmu. Dengan senyum itu, semoga terbetik sedikit kedamaian di hati yang melihatnya atas izin Allah. Dengan senyum itu, semoga hati yang terbakar amarah menjadi tenang kembali atas kehendak-Nya. Dengan senyum itu, semoga menjadi washilah hidayah Allah untuk hati yang terpapar penyakit atau hati yang keras membatu. Masihkah ada yang lebih berharga daripada kedamaian, ketenangan, dan hidayah dari Allah? Anakku, betapa bahagianya engkau jika bisa memberikan sesuatu yang tidak ternilai. Seorang milyuner bisa memberikan segudang emas dan perak, sesuatu yang tetap saja ternilai. Bukankah engkau sejatinya lebih kaya dari milyuner itu, jika engkau bisa memberikan yang tak ternilai? Dan bukankah engkau lebih berbahagia darinya sebab yang engkau berikan jauh lebih berharga, bahkan kau pun tak sanggup menghargakannya? Dan tidaklah seseorang memberikan sesuatu yang tak ternilai, kecuali ia menjadi pribadi yang tak ternilai pula. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Anakku sayang, betapa indah balasan dari Allah bagi pribadi-pribadi yang tak ternilai... (Tanpa terasa air mata terderai, membasahi pipi sang ibu. Tersedu-sedu sang ibu ketika melanjutkan kembali kata-katanya) Betapa.....kebahagiaan pribadi yang tak ternilai tak hanya berlimpah di dunia, tetapi juga berujung pada kebahagiaan di akhirat kelak, seperti halnya kebahagiaan pertama. Allah berfirman dalam al-Quran: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan .Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; . (Al-Insaan 8-11)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(Kini, giliran sang putra yang menitikkan air mata) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Anakku sayang...mengapa engkau menangis? Apakah karena engkau melihat air mata di pipi Ibu? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibu, aku menangis karena memikirkan diriku... Selama ini, boleh jadi aku belum memberikan dengan ikhlas, boleh jadi aku belum memberikan dengan cinta...sehingga apa yang kuberikan, mungkin saja tak bernilai sama sekali di sisi Allah...&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Anakku, cinta dan keikhlasan kita adalah rahasia Allah. Tiada satupun makhluk di langit dan bumi yang dapat mengetahuinya kecuali Allah mengizinkan. Jangan menyerah anakku sayang. Tugasmu, tugas Ibu, dan tugas kita semua adalah hanyalah berusaha terus dan terus berusaha untuk menggapai cinta dan keikhlasan itu...kemudian, cukuplah Allah menjadi penolong kita dan Allah adalah sebaik-baik pelindung. Semoga Allah merahmati kita semua. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ibuku, ada lagi yang ingin aku tanya, tapi.... sebenarnya aku malu... &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Anakku sayang, mengapa harus malu dengan ibumu sendiri? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Baiklah, bagaimana pendapat Ibu tentang seorang pendamping hidup? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(Sang ibu tersenyum melihat putranya yang agak menunduk) Anakku, Ibu yakin engkau sudah tahu bagaimana perihal seorang pendamping yang tepat untukmu. Ibu yakin, engkau pun paham bahwa yang bersatu di dalam mahligai bukan hanya engkau dengannya, tetapi juga Ibu dengan ibunya, ayahmu dengan ayahnya, saudara kandungmu dengan saudara kandungnya, kerabatmu dengan kerabatnya. Anakku sayang, setelah engkau paham semua itu, Ibu hanya ingin mengingatkan satu hal. Semoga pendamping hidupmu adalah sosok yang mampu menjagamu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Maksud Ibu? Bukankah aku yang harus menjaganya? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;(Sang ibu tersenyum lagi) Anakku, bukanlah karena dia wanita, lantas dia tak wajib menjagamu. Engkau menjaganya adalah hal biasa, tetapi ketika ia mampu menjagamu, itu adalah...hal yang mungkin luar biasa. Aku semakin tidak mengerti Ibu. Apakah maksudnya menjaga kehormatan dan hartaku? Menjaga amanat sebagai &lt;i style=""&gt;ummun wa rabbatul bait&lt;/i&gt; dan menjaga kehormatan serta hartamu adalah memang kewajiban pendamping hidupmu. Namun, menurut hemat Ibu, semua itu bermula dari kemampuan untuk menjaga tingkah lakunya agar tak menjadi fitnah bagimu. Engkau pun wajib menjaga tingkah lakumu agar tak menjadi fitnah baginya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Anakku sayang, tabiat lisan seringkali menceritakan tingkah laku. Ketika lisanmu tidak menjadi telaga yang sejuk baginya, maka mana mungkin kau bisa menghilangkan dahaga kasih sayangnya. Begitu pula dirinya, pendamping hidupmu. Jika lisannya begitu mudah untuk menyebarkan rahasiamu atau rahasia orang lain, menikmati pembicaraan yang belum tentu benar dan salahnya, maka bagaimana mungkin ia mampu menjaga amanatmu, bagaimana mungkin ia mampu menjadi &lt;i style=""&gt;ummun warabbatul bait&lt;/i&gt;, bagaimana mungkin ia mampu menjaga kehormatan dan hartamu, sementara ia tak mampu menjaga “kehormatannya” sendiri. Kalaupun ia berhijab dengan sempurna, maka hijabnya tak kan mampu menutupi ketajaman lisannya. Bahkan tak mustahil, nak, lisannya yang tajam itu akan mengoyak-ngoyak hijabnya sehingga seolah-olah dia tak berhijab lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Semoga Allah melindungi kita dari keganasan lisan kita sendiri. Semoga Allah merahmati lisan kita sehingga tabiatnya senantiasa menyejukkan. Semoga Allah berkenan menjadikannya tempat peraduan orang-orang yang merindu kasih sayang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Terimakasih Ibu... Temani aku selalu dengan doa dan keridhaanmu. Ya Allah, ampunilah dosaku, dan dosa kedua orang tuaku. Rahmatilah keduanya, ya Allah, sebagaimana mereka mendidikku semasaku kecil...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 110%; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 110%; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;span style="" lang="en-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-5416496287202248458?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/5416496287202248458/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=5416496287202248458' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/5416496287202248458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/5416496287202248458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/06/dialog-dua-hati_23.html' title='Dialog Dua Hati'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-2095786792643741629</id><published>2008-06-23T23:06:00.000+07:00</published><updated>2008-06-23T23:07:36.563+07:00</updated><title type='text'>103 TAHUN SYARIKAT ISLAM VS 100 TAHUN BOEDI OETOMO: KEBANGKITAN NASIONAL ATAU KEBANGKRUTAN NASIONAL ???</title><content type='html'>&lt;p class="MsoSubtitle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;Oleh : Mardhani &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoSubtitle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;Kader &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoSubtitle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-style: normal;"&gt;Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Jagakarsa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Setiap tanggal 20 Mei selalu diperingati sebagai hari kebangkitan nasional oleh bangsa kita yang ditandai oleh lahirnya organisasi Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, Boedi Oetomo menurut versi sejarah yang dipelajari di sekolah-sekolah hingga sekarang merupakan organisasi modern pertama di Indonesia yang menjadi organisasi pelopor pergerakan dan cikal bakal persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk melawan kolonialisasi belanda pada saat itu, padahal kalau kita hendak mempelajari dan mencermati secara seksama organisasi nasional pertama yang mengidam-idamkan kemerdekaan Indonesia dari kolonialisasi Belanda dan organisasi pelopor pergerakan pertama di Indonesia yang menyatakan perlawanan terhadap kolonialisasi Belanda terhadap Indonesia ialah Syarikat Dagang Islam yang kemudian berubah menjadi nama Syarikat Islam (SI) yang berdiri pada tanggal 16 Oktober 1905, atau tiga tahun lebih dulu berdiri dibandingkan dengan Boedi Oetomo. Jadi Boedi Oetomo sebagai organisasi pertama yang menjadi pelopor pergerakan kemerdekaan dan perlawanan bangsa Indonesia terhadap kolonialisasi Belanda pada saat itu adalah suatu kekeliruan sejarah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ada beberapa argumentasi dan fakta yang dapat membuktikan hal tersebut, yakni: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Syarikat Dagang Islam yang kemudian berubah menjadi Syarikat Islam (SI) berdiri pada 16 Oktober 1905 oleh Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto, yang mana ini membuktikan bahwasanya Syarikat Islam (SI) tiga tahun lebih dulu berdiri dibandingkan dengan Boedi Oetomo yang berdiri pada 20 Mei 1908.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Boedi Oetomo dipimpin oleh para &lt;i&gt;ambtenaar&lt;/i&gt; yakni para pegawai negeri yang setia kepada pemerintah Belanda sedangkan Syarikat Islam keanggotaannya murni dari masyarakat Indonesia yang anti Belanda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Syarikat Islam bercita-citakan kemerdekaan Islam Raya dan Indonesia Raya, sedangkan Boedi Oetomo hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Syarikat Islam bersikap non-kooperatif dan anti terhadap kolonialisasi Belanda, sedangkan Boedi Oetomo bersikap menggalang kerja sama dengan Belanda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Syarikat Islam berjuang melawan kolonialisme Belanda yang bertujuan untuk kemerdekaan Islam Raya dan Indonesia Raya sehingga banyak anggotanya yang masuk penjara dan ditembak mati oleh Belanda, dan banyak anggotanya yang dibuang ke Digul sedangkan Boedi Oetomo berjuang untuk Jawa dan Madura dan bersifat kooperatif dengan Belanda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Syarikat Islam bersifat kerakyatan (tidak hanya kaum ningrat tapi juga rakyat jelata) dan terbuka bagi seluruh rakyat Indonesia (tidak hanya Jawa dan Madura) sedangkan Boedi Oetomo seperti yang kita ketahui organisasi yang sempit yang bersifat feodal dan keningratan karena anggotanya hanya dari kalangan priyayi, bahkan lebih sempit lagi hanya untuk kalangan Jawa dan Madura saja (terlalu chauvinis, Betawi sekalipun tidak boleh) selain itu Boedi Oetomo juga bersikap anti Islam yang mana hal tersebut mendapat pembenaran dari sejarawan Hamid Algadrie dan Dr. Radjiman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;7.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dalam setiap rapatnya dan tulisan dalam anggaran dasarnya Syarikat Islam berbahasa Indonesia, sedangkan Boedi Oetomo dalam setiap rapat dan anggaran dasarnya berbahasa Belanda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;KH Firdaus AN (mantan Ketua Majelis Syuro Syarikat Islam) pernah mengatakan, :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“&lt;i&gt;Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran dasar organisasi Boedi Oetomo menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. Tidak pernah sekalipun rapat Boedi Oetomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki nasib golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang dianggapnya menjadi batu sandungan bagi upaya mereka.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bukan itu saja belakangan terdapat fakta yang mencenggangkan, yaitu banyak tokoh-tokoh Boedi Oetomo yang ternyata merupakan anggota aktif &lt;i&gt;Freemasonry&lt;/i&gt;. Di dalam buku Dr.T.H. Stevens (seorang sejarawan Belanda) yang berjudul “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” disebutkan bahwasannya beberapa tokoh Boedi Oetomo yang dilengkapi dengan foto-foto eksklusif sebagai buktinya adalah merupakan anggota aktif &lt;i&gt;Freemasonry&lt;/i&gt;, antara lain: Sultan Hamengkubuwono VIII, RAS. Soemitro Kolopaking Poerbonegoro, Paku Alam VIII, RMAA. Tjokroadikoesoemo, DR. Radjiman Wedyodiningrat, dan banyak pengurus lainnya, bahkan ketua pertamanya yakni Raden Adipati Tirtokusumo (Bupati Karanganyer) adalah seorang anggota &lt;i&gt;Freemasonry.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hal-hal di atas telah jelas-jelas membeberkan fakta bahwa telah terjadi suatu kesalahan atau penyelewengan sejarah di negeri ini, yang seharusnya cepat-cepat diverivikasi dan dibenahi oleh Pemerintah demi kebenaran dan kejelasan sejarah yang terjadi pada perjuangan bangsa Indonesia ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada hakekatnya cita-cita yang diidam-idamkan oleh Syarikat Islam yaitu kemerdekaan Indonesia dari pihak kolonial akhirnya membuahkan hasil ketika Soekarno dan Moh. Hatta memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia pada pukul 10.00 WIB. yang bertepatan pada hari Jumat tanggal 11 Agustus 1945 yang menandakan bahwasannya mulai saat itu bangsa Indonesia merupakan bangsa yang merdeka dan berdaulat. Beberapa waktu yang akan datang yang tepatnya tanggal 16 Oktober kita akan memperingati hari yang bersejarah itu yaitu hari lahirnya Syarikat Islam yang ke 103 tahun, namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah bangsa kita sekarang ini sudah benar-benar merdeka?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Satu abad lebih sudah Syarikat Islam lahir dan sebentar lagi kita juga akan memperingati hari kemerdekaan negara kita yang ke 63 tahun, namun hingga saat ini bangsa kita masih belum sepenuhnya merdeka. Segala macam permasalahan masih terus menyelimuti bangsa ini, baik permasalahan ekonomi, sosial, politik, budaya, keamanan, kedaulatan, dsb. Kemiskinan masih melanda negeri ini, pengangguran semakin banyak, anak putus sekolah terus berlangsung, KKN semakin menggila, ancaman disintegrasi semakin marak, budaya kitapun semakin terpinggirkan akibat masuknya budaya asing, dsb. Sedangkan para elit senantiasa sibuk atas kepentingan individu dan golongannya tanpa memikirkan kepentingan rakyat secara keseluruhan, pemerintah selalu ragu-ragu dalam setiap pengambilan kebijakan yang jarang berpihak kepada kepentingan rakyat banyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Selain itu rakyatpun semakin menderita atas kenaikan harga BBM yang berdampak kepada naiknya harga-harga kebutuhan pokok yang semakin melambung tinggi. Asumsi kenaikan BBM tersebut dikarenakan harga minyak dunia yang semakin melambung tinggi yang sekarang sudah mencapai 135 US dollar per&lt;i style=""&gt;barrel&lt;/i&gt;, sedangkan pemerintah pada tahun 2007 dalam APBNP ketika itu hanya menganggarkan subsidi 55-60 US dollar per&lt;i style=""&gt;barrel&lt;/i&gt; terhadap BBM yang kemudian pada perkembangannya diubah menjadi 95 US dollar per&lt;i style=""&gt;barrel &lt;/i&gt;yang dikarenakan harga minyak dunia yang mulai merangkak naik. Kegelisahanpun terjadi di masyarakat dan pemerintah, dengan dalih untuk mengurangi dampak dari kenaikkan harga BBM, disalurkan bantuan langsung tunai (BLT) yang akan disalurkan kepada 19,1 juta rakyat miskin perkepala keluarga yang mana mendapatkan bantuan senilai Rp.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;100.000/bulan selama 6 bulan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dapat kita bayangkan langkah yang diambil oleh pemerintah begitu instan dan tidak mendidik, dapat kita katakan langkah tersebut dapat kita golongkan sebagai salah satu upaya “suap” pemerintah terhadap rakyat untuk melegalkan kebijakan yang diambilnya. Padahal kondisinya Indonesia merupakan negeri yang kaya akan SDA dan Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak di dunia tetapi karena aset-aset kita telah dikuasai oleh asing maka kita tidak dapat memaksimalkan kekayaan yang kita miliki itu untuk kepentingan bangsa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Padahal SDA yang kita miliki memungkinkan untuk pemerintah berpikir kreatif dan imajinatif, agar tidak senantiasa selalu mengandalkan minyak bumi sebagai bahan bakar atau bahan energi, salah satu contohnya adalah pengembangan energi alternatif atau energi lain selain minyak bumi, seperti yang kita ketahui negeri kita kaya akan gas, batu bara. Tanah kita juga sangat subur untuk dapat kita tanami tumbuh-tumbuhan yang dapat diolah menjadi bahan energi penganti minyak bumi. Selain itu, negara kita merupakan negara tropis yang hanya memiliki 2 musim saja, yaitu musim panas dan musim hujan dimana energi gratis telah diciptakan oleh Allah SWT yaitu energi matahari dan angin yang semestinya juga dapat menjadi inspirasi pemerintah. Tetapi hal tersebut kurang menjadi perhatian pemerintah, padahal dengan cadangan minyak bumi kita yang hanya tinggal sekitar 80 milyar &lt;i style=""&gt;barrel&lt;/i&gt;, tentu kita harus bersiap diri untuk mencari energi alternatif penganti minyak bumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Dilain sisi, pemerintah sepertinya tidak mau belajar dari pengalaman. Pemerintah bukan hanya menetapkan kebijakan untuk menaikan harga BBM tetapi yang lebih parah lagi pemerintah hendak akan memprivatisasi 44 BUMN yang kita miliki padahal semestinya pemerintah seharusnya berusaha untuk mengambil kembali BUMN yang telah dijual pada masa sebelumnya atau menasionalisasikan aset. Apabila nasionalisasi aset terlalu ekstrim, hendaknya pemerintah mengadakan renegosiasi kembali aset-aset kita agar kitapun menikmati keuntungan. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya, padahal sudah jelas-jelas negara dirugikan atas kebijakan tersebut. Privatisasi pada dasarnya mengarah pada konsep &lt;i&gt;“one-size-fits-all golden straits jacket”&lt;/i&gt; ala Thomas L. Friedman. Menurutnya, sebagai pembela globalisasi yang diilhami oleh neoliberalisme dan neokonservatisme, jaket pengaman emas buat ekonomi yang cocok untuk segala ukuran (tidak perduli negara besar atau kecil, negara maju atau terbelakang, negara industri atau pertanian) itu mencakup: upah buruh direndahkan untuk menekan laju inflasi, privatisasi BUMN dan memasukan BUMN ke dalam pasar sekuritas global, menghapus tarif dan kuota agar barang bisa bergerak bebas menerobos batas-batas negara, memprioritaskan produksi barang-barang ekspor, dan membuka seluruh bidang ekonomi bagi kepemilikan asing. Hal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tersebut tentu saja akan sangat merugikan negara lemah. Salah satu contoh yang konkret adalah perpanjangan kontrak Freeport Indonesia yang diperpanjang hingga tahun 2041 dan pengoperasian blok Cepu oleh Exxon Mobil hingga tahun 2036, padahal negara hanya mendapatkan royalty sebesar 1-3.5 % dari Freeport sedangkan 96.5 - 99 % keuntungan masuk ke kantong Freeport sendiri.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah semakin hari semakin menyengsarakan rakyat, memberikan kesan bahwasanya Pemerintah kita tidak beradab, padahal bangsa kita adalah bangsa yang beradab. Seorang profesor yang berasal dari Brasil yaitu Prof. Santos telah melakukan sebuah penelitian geologi dan beliau menyatakan bahwasanya benua atlantis (negeri atlantis) yang merupakan benua yang hilang yang memiliki peradaban yang maju di zaman dahulu berada di samudera pasifik dan beliau juga menyatakan bahwasanya Indonesia adalah benua/negeri atlantis tersebut, hal tersebut adalah merupakan salah satu alasan mengapa fosil manusia purba tertua di temukan di Indonesia yaitu &lt;i style=""&gt;Pithecanthropus Erectus&lt;/i&gt;, apabila penelitian yang dilakukan oleh Prof. Santos benar adanya dapat kita bayangkan dahulu kita adalah bangsa yang besar, maju dan merdeka tetapi mengapa sekarang bangsa kita bisa seperti sekarang ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Enam Presiden telah memimpin negeri ini tetapi belum ada seorangpun yang dapat mewujudkan Indonesia yang merdeka dalam arti yang sesungguhnya sesuai dengan cita-cita para &lt;i&gt;Founding Fathers &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;dan&lt;i&gt; Founding Mothers&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; kita. Kedepan, semoga para pemimpin kita selalu mau belajar dari pengalaman / sejarah karena merupakan guru yang sangat berharga. George Santayana, seorang filosof Spanyol berpendidikan AS (1863-1952), pernah memperingatkan bahwa mereka yang gagal mengambil pelajaran dari sejarah dipastikan akan mengalami atau mengulangi pengalaman sejarah itu. Nabi Muhammad SAW. pernah mengatakan mengenai pentingnya belajar dari pengalaman atau kesadaran sejarah, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;b&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;eliau berkata:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm; line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Barang siapa memiliki masa sekarang yang lebih bagus dari masa lalunya, ia tergolong orang yang beruntung, bila masa sekarangnya sama dengan masa lalunya, ia termasuk orang yang merugi, bila masa sekarangnya lebih buruk dari masa lampaunya, ia tergolong orang yang bangkrut.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lantas yang menjadi pertanyaan sekarang adalah termasuk kebagian yang manakah bangsa kita sekarang ini? Kemudian apakah keadaan bangsa Indonesia yang sekarang ini dapat dikatakan merupakan suatu kebangkitan nasional atau kebangkrutan nasional? &lt;i style=""&gt;Wallahu a’lam bi ash-shawwaab&lt;/i&gt;... &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Daftar pustaka:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;Headline News, MetroTV.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;&lt;a href="http://faisalman.wordpress.com/"&gt;http://faisalman.wordpress.com&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin-left: 31.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tjatur Sapto Edy&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; dalam Dialog Energi Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; Jakarta, 14 April 2008&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="text-indent: 0cm; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Thomas L. Friedman&lt;i&gt;, The Worl&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;d&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;is Flat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;, London: Penguins Books&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;2006&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="EN-US"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-2095786792643741629?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/2095786792643741629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=2095786792643741629' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/2095786792643741629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/2095786792643741629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/06/103-tahun-syarikat-islam-vs-100-tahun.html' title='103 TAHUN SYARIKAT ISLAM VS 100 TAHUN BOEDI OETOMO: KEBANGKITAN NASIONAL ATAU KEBANGKRUTAN NASIONAL ???'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-2526758198758240089</id><published>2008-06-23T23:03:00.001+07:00</published><updated>2008-06-23T23:06:12.200+07:00</updated><title type='text'>A SOCIAL CRITIC; SOCIETY PARADIGM OF EDUCATION</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; Zaki Mubarak, S.ip&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;Ketua&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; Tebet Timur&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" hspace="0" vspace="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0cm;" align="left" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: 43.9pt; page-break-after: avoid; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-size: 59.5pt;" lang="EN-US"&gt;H&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;uman being are said to lead and manage the world. Their thoughts and actions influence their surrounding since they have special instrument: brain, giving them the highest position among other creatures. Their brains are keys to fulfill their needs and develop the civilization. Such view is supported by Alfred North Whitehead, history of all Western philosophy is footnote series from two Greek great thinkers, Plato and Aristoteles (Suhelmi, 2007). That’s why their thought and action gave guidance and direction to make history of human being and gave deep influence until now.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Equipped with their amazing ability of their brain and inspired by their dream, people determine to change their lives. In doing so, they need education to help them plan and prevent them from alienation in competitive era. Education provides people with knowledge on how to build paradigm and attitude to conquer the world.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;As a developing country, Indonesia has many education problems from colonial until now. Our founding fathers realized that to reach independence they had to establish organizations to organize massive movement from intellectuals who have diplomacy which had significant power to gain international support. The problem was only few people could reach high education because the Dutch colonial prohibited people to have access to education. With limited well-educated people, Indonesia could proclaim the independence and defend it with diplomacy strategies. Many great thinkers and intellectuals were born and had international reputation like, Soekarno, Hatta, M. Natsir, Hamka, Tan Malaka, etc. Like in India, Middle East, Philippines, Indonesia, China and another countries – where intellectual group were promoted the independence – their contribution were conspicuous (Alatas, 1988). In that time, education was something that almost impossible for ordinary people to get. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;In globalization era, education is not only instrumental part of human life but also an agent of change. To adapt to the environment, people must have good educational background to prevent them from being marginalized in a tight competition, like what Thomas Hobbes said, humans become wolf to others (&lt;i style=""&gt;homo homini lupus&lt;/i&gt;). The higher education level people have, more expert and competent they are. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;In Islam, education is a must for everyone and is called lifelong education. According to John Dewey, education is renewal process of experiences sense through process of incidental transmission and intentional. Educated person is realized that they are subject not object in this world. According to Paulo Freire, conscientization is dimension basis of human reflection act which is expressing knowing process, that suppressed individual become subject or a process that human being is getting consciousness which is more deeper about culture reality which covered their life and ability to change the reality. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;It has significant correlation among individual, nation, and international level. More well-educated people in one country, it is a guaranty to accelerate the development. When one country has success development, automatically bargaining position will be increase in international politics. Like what N. Syam said, because of education, society would progress. Likewise, advance education take places only in progress society.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;Now the questions are; how important is education for people? What will they do with their knowledge that they have got from education institutions? How far is their passion to education? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Analysis of the Condition&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;History proves that education could make a nation or a country have a great civilization. Many education institutions were established, such as university, prove to became an integral part in a society. It caused the citizen to be more well educated, more civilized and became example for another. They were written in world history and have influenced to next generation, like Greek, Roman and Persia civilization. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;As time goes by, Indonesia’s social condition changes with the growth of the technology. Global situation also contribute to alter every aspect of life. Rapid changes of economic and social life cause people to think that education is very important to survive and to compete in globalization era. Unfortunately, there are so many national education problems in supra structure like, regulation often change depends on the regime and infra structure level, like school building and education tools does not qualified.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;Life becomes more individualistic, materialistic and consumptive as result of the western influenced like, liberal paradigm and capitalism system which are accumulated in globalization concept. The bad influenced faded society value, distinctive feature and identity, which have positive influence to balance social life. The impact infects every part of life without exception, including education. If we analysis to John Dewey statement, the condition is very contradictive. People orientation of education is to get certificate, after that working to gain much money become rich people and get happy life with beautiful wife and cute child, the last is died in peace and give much legacy to next generation. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;Nowadays, certificate duplicating is instant way to get education legality to get a job or a promotion. The fact is very ironic, knowledge is a social process which is need to renewal empirically to adapt the social condition. Research is one of the way to renewal knowledge but the reality, scholars ignore it just few people who have progressive paradigm, which have desire to their knowledge capacity and implement what they’ve got like do some research. That is why knowledge progress in this country moving slowly. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;Capitalism system was built to get high profit with less capital. That mindset made businessman with their company exploit the labors or employees and treat them like commodity. They push them to work hard without proper payment and permanent status. That is proved what Thomas Hobbes said that humans become wolf to others (&lt;i style=""&gt;homo homini lupus&lt;/i&gt;). They went from home early in the morning and back to home in the late of night through bad traffic jam and uncomfortable transportation services. Sometimes, in holiday they also have a job, overtime. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;That condition makes people tired and don’t have a time with families moreover to develop their knowledge. People use and give majority of their time and life to the job. So, people life for a job not a job for life. We can say that people or employee become object not subject. How come people that have knowledge through education process trapped in this condition without effort to changes it. That is what Paulo Freire concerned that he captured the Portugal imperialism condition in his homeland, Brazil and which has related to Indonesia’s condition. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;Mass media especially television also has important participation with their film or Indonesia drama series (&lt;i style=""&gt;sinetron&lt;/i&gt;) and celebrities infotainment which gave an ideal life with having much money. They gave poison that makes people have narrows minded, passive and weak of critical and progressive thought. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;Natural characteristic that native have also make influence to the condition. Native characteristic also takes important part for this condition. According to Mochtar Lubis, Indonesians acknowledge characteristically respect, calm, trustworthy, nice, royal, friendly to guests, and gentle. But said, Indonesian people don’t want to think difficult things. They don’t have any idealism, don’t have effort, can’t take decision (Lubis, 1977). One of the vital problems in developing society is laziness of intellectual itself (Alatas, 1988). Some of the characteristics are not relevant anymore, but it can illustrate Indonesians and society in developing country. Honestly, those characteristic is true which are influencing attitude pattern in society.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;" lang="EN-US"&gt;Conclusions&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;The condition must be changed. The important one to do is to change people paradigm of education by education system and the way how educator teaching. Government also must make supporting regulation, facilities and budget to upgrade education quality and to do research activities that involving academics and students. It will take long time, but if implementing gradually could changes the conditions. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;So, is education very important to develop your knowledge become intellectual or intelligence (specialist or professional) or just for a certificate to get a job to survive? That question is back to you how to consider the essence of education.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;References:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 31.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Ahmad Suhelmi, &lt;i style=""&gt;Pemikiran Politik Barat&lt;/i&gt;, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2007.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 31.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 4pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 31.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Mochtar Lubis, &lt;i style=""&gt;Manusia Indonesia; Sebuah Pertanggungan Jawab&lt;/i&gt;, Jakarta: Idayu Press, 1977&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;" lang="EN-US"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 31.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 4pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 31.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Siti Murtinigsih, &lt;i style=""&gt;Pendidikan Alat Perlawanan, Teori Pendidikan Radikal Paulo Freire&lt;/i&gt;, Yogyakarta: Resist Book, 2004.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 31.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 4pt;" lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 31.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Syed Hussein Alatas, &lt;i style=""&gt;Intelektual Masyarakat Berkembang&lt;/i&gt; alih bahasa oleh Bambang Supriady, Jakarta: LP3ES, 1988.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 31.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 4pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 31.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt;"&gt;Wahjosumidjo, &lt;i style=""&gt;Kepemimpinan dan Motivasi&lt;/i&gt;, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1987.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-2526758198758240089?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/2526758198758240089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=2526758198758240089' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/2526758198758240089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/2526758198758240089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/06/social-critic-society-paradigm-of.html' title='A SOCIAL CRITIC; SOCIETY PARADIGM OF EDUCATION'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-7422136718457102005</id><published>2008-06-01T09:18:00.001+07:00</published><updated>2008-06-01T09:20:47.653+07:00</updated><title type='text'>Dimulai Dari Angka Nol</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri; font-weight: bold;" lang="en-US"&gt;Ahmad Fikri Adriansyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 110%; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Anggota Departemen Dakwah dan Ukhuwah Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Tebet Timur&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 110%; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="en-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="en-US" style="font-family:Calibri;"&gt;Dimulai dari angka nol ya pak”, begitulah kira-kira ungkapan dalam iklan salah satu perusahaan minyak di Indonesia yang mulai sering menghiasi layar kaca. Kalau kita perhatikan, isi dari iklan itu merupakan deskripsi itikad dan rencana baik perusahaan pengiklan untuk memberikan layanan yang jujur dan prima kepada masyarakat. Itu semua terwakili dengan pernyataan yang inspiratif: “dimulai dari angka nol”. [Ini bukan promosi lho, cuma sekedar contoh]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="en-US" style="font-family:Calibri;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Secara manusiawi, semua kita pasti—setidaknya—akan mencium aroma kebaikan di balik ungkapan “dimulai dari nol”. Jika kita mengisi bensin dan petugasnya mengucapkan “dimulai dari angka nol”, kita akan termotivasi untuk menyakini kejujuran si petugas dan sistem pengisian bahan bakar yang digunakan. Jika seorang pengusaha sukses mengucapkan “saya memulainya dari nol”, maka akan tergambarkan bagaimana gigihnya ikhtiar sang pengusaha yang tak kenal menyerah dan rela jatuh-bangun sehingga bisa sukses di kemudian hari. Jika kita menimbang sesuatu, maka kita akan percaya dengan hasil timbangan itu jika jarum penunjuknya berawal dari angka nol.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="en-US" style="font-family:Calibri;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pada kenyataannya, konsep “dimulai dari nol” tidak hanya berkorelasi dengan fakta matematis dan konkret seperti di atas. Lebih mendasar lagi, konsep ”dimulai dari nol” pun sudah diisyaratkan dalam al-Quran sehingga konsep ini merupakan nilai universal yang berlaku pada setiap aspek kehidupan kita. Pada ranah yang paling fundamental, konsep ”dimulai dari nol” tercermin dalam kalimat tauhid ”Laa ilaaha illa Allah”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="en-US" style="font-family:Calibri;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Frase ”La ilaaha” dalam kalimat tauhid adalah sebentuk penihilan (an-nafyu) atau me-nol-kan atau mengarahkan jarum penunjuk penghambaan diri kita pada posisi nol. Pe-nol-an ini adalah upaya untuk membersihkan jiwa dan raga kita dari penghambaan yang tidak benar dan menghilangkan semua ketergantungan kepada tuhan-tuhan yang tak layak di sembah. Setelah bersih, baru disambung dengan frase ”illa Allah” (al-itsbaat). Melalui frase ini, jarum penunjuk penghambaan yang sebelumnya berada pada posisi nol/netral diarahkan agar menunjuk pada tujuan yang benar, yakni Allah swt. Pengarahan kepada tujuan yang benar ini tidak berangkat dari angka selain nol, karena pengarahan ini harus terjaga kemurniannya sejak pertama kali ia bergerak. Saudaraku, apakah mungkin kita menyeduh air murni pada gelas yang di dalamnya sudah tercampur bubuk kopi atau teh, atau bahkan gula sekalipun? Bukankah air murni hanya bisa didapatkan pada gelas yang sebelumnya kosong tak berisi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="en-US" style="font-family:Calibri;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Posisi nol pada konteks kalimat tauhid melambangkan pembersihan, penyucian, kejujuran, dan kegigihan seorang hamba untuk memurnikan penghambaan dirinya kepada satu-satunya Dzat yang patut disembah. Padanya terwujud ketenangan hati, seperti—meski tidak sebanding—pembeli yang merasa tenang karena timbangan dari sang penjual benar-benar dimulai dari angka nol. Padanya terwujud kegigihan hati, kepuasan hati dan rasa memiliki yang luar biasa terhadap satu-satunya Tuhan, seperti—meski tidak sebanding—sang pengusaha yang meraih kepuasan batin dan rasa memiliki yang prima terhadap usahanya yang dirintis dengan gigihnya mulai dari nol.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="en-US" style="font-family:Calibri;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="en-US" style="font-family:Calibri;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;”Dimulai dari nol” : langkah pertama dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="en-US" style="font-family:Calibri;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Konsep ”dimulai dari nol” yang nafasnya dihembuskan dari kalimat tauhid seyognyanya menjadi teladan dalam sikap hidup kita, terutama dalam rangka menyelesaikan pelbagai problematika kehidupan. ”Dimulai dari nol” pada hakikatnya adalah pangkal strategi dalam setiap pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Karena itu, langkah pertama yang mesti kita ambil ketika menemukan suatu masalah kehidupan adalah justru dengan tidak melangkah sedikitpun, dengan berhenti sejenak, dengan tidak melakukan apapun pada pertama kalinya; bukan dengan tergopoh-gopoh memikirkan bagaimana solusinya, bukan pula dengan langsung merumuskan urut-urutan tindakan untuk memecahkan masalah tersebut. Berhentilah sejenak dan ”mulailah dari nol”. Hal ini merupakan upaya untuk menenangkan hati, menjernihkan pikiran, dan menyiapkan energi yang cukup untuk beralih ke langkah selanjutnya. Jika demikian, maka upaya perumusan strategi pemecahan masalah insya Allah akan terasa lebih mudah dan keputusan yang diambil cenderung lebih efektif serta efisien karena diawali dengan kemurnian hati dan pikiran yang berada di ”posisi nol” sebelum melesat dengan cepatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="en-US" style="font-family:Calibri;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Jadi, jika Anda menemukan masalah pelik yang terungkap dalam suatu rapat/forum diskusi, janganlah bertindak apapun sebelum Anda luangkan waktu untuk diam sejenak sambil menyunggingkan senyum. Anda tidak hanya berupaya menenangkan hati Anda sendiri, tapi Anda pun berperan untuk menularkan emosi positif kepada orang lain melalui senyuman Anda. Jika seseorang tiba-tiba marah pada Anda, maka sempatkan diri Anda untuk diam sejenak; turunkan emosi Anda hingga ”menunjuk pada angka nol” sebelum Anda memutuskan untuk menanggapi amarah itu. Anda tidak hanya sekedar beritikad untuk menuntaskan kemarahan orang itu, tetapi sebenarnya Anda juga sedang melapangkan hatinya agar tersedia jalan yang cukup lebar bagi Anda berdua menuju solusi terbaik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="en-US" style="font-family:Calibri;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tunggu apa lagi sahabat, mari kita latih diri kita untuk ”memulai dari nol” dari sekarang .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10pt; line-height: 114%; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="en-US" style="font-family:Calibri;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="en-US"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-7422136718457102005?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/7422136718457102005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=7422136718457102005' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/7422136718457102005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/7422136718457102005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/06/dimulai-dari-angka-nol.html' title='Dimulai Dari Angka Nol'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-7881630463087005978</id><published>2008-05-28T08:56:00.002+07:00</published><updated>2008-06-01T09:22:00.356+07:00</updated><title type='text'>GLOBALIZATION – 21st CENTURY, ASIAN WHAT CAN WE DO?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt;Nadia Safitri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt;Simpatisan Muhammadiyah Tebet Timur&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt;The most frequently mentioned word by people around the world over the past few years is globalization. Leaders would have less confidence if they did not include or address globalization in any of their speech, magazines or newspapers would have less pride if they did not donate globalization in their articles and most people prefer to be regarded as global society rather than as local. 21&lt;sup&gt;st&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt;century was more characterized by the greater interconnectedness of events on a global basis which is an era of globalization. Globalization itself is different in every place based on the ability of society and condition of region which its presence can’t be avoided.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;However, globalization is a comprehensive term for the emergence of global society in which economy, political, environmental, and cultural events in one part of the world quickly come to have significant for people in other parts of the world. Therefore globalization refers one world where perspective of it includes certain issues, a process to unite all states interaction and also their citizens. In globalization, there are results of advantages in communication, transportation, information and culture which those things also describe the growing economic, political, technology and culture.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Globalization’s fever occurs not only in west world but also in east world especially in Asia. Globalization had been carried on the back of westernization and it was to be associated uniquely with Americanization. In this case, United States of America as a superpower country has a strong role in spreading globalization throughout the world including Asia. Asia based on its geography devided into six regions such as West Asia, South Asia, Middle Asia, South East Asia, East Asia and North Asia. While all of them are competing with other countries then in the same time they also have to compete among them in this globalization era. However, among these Asia regions then Asia is the foremost region which leading in technology and economy and they known as “Asia Tiger”. Just name it like Japan, China, Korea which had become the leader not only among Asia countries but also in the world. As a prove is the trade friction between Japan and USA since the late 20&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt;century until nowadays.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Another prove of globalization that had been experienced by Asians in economy sector was about the improvement in trade and the movement of capital, stocks, currencies and investments along with the growth of multinational corporations (MNCs) and transnational corporation (TNCs). Besides, there are institutions of globalization which support economically such as International Monetary Fund (IMF), World Bank, World Trade Organization (WTO), Multilateral Development Banks (MDBs) and other International Financial Institution (IFIs). Various kinds of multinational corporations (MNCs) and transnational corporations (TNCs) in Asia especially South East Asia proved that economy globalization had arrived in these regions. Along with the increasing of those corporations then workers from west countries even fellow Asia countries can easily work in Asia regions which means that competition has begun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Economy globalization in Asia especially South East Asia also supported by free market such as AFTA (ASEAN Free Trade Area) as well as BFTA (Bilateral Free Trade Agreement). Those corporation show that globalization has eliminated boundaries among countries (borderless) and because of that foreigners can easily in and out of a country to work and compete with local people. However, as Asians, we must progressively thinking of preparing ourselves with competent capability and potential skills in order to compete and show that Asians are not less professional than them. The difference of racial, tribe, religion or culture are not recognized in this globalization era because only individual ability and skill are needed here.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;The other side effects of globalization also felt by Asians when economy crisis hit Asia few years ago. This crisis had made not only economy unstable but also had affected world economy generally. Globalization made the side effects of Asia economy crisis spread rapidly to the rest of the world. This crisis had invited international society as one global society for their concerns by supporting and helping Asian countries to overcome this crisis. Some of them like IMF, World Bank also fellow of Asian countries that had passed through the crisis faster than others were helping other Asia countries. Globalization has made many countries in the world become one when there is a problem among them especially for Asian countries where the crisis had made the relationship among them closer than before.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Besides economy globalization, other globalizations have affected Asians lifestyle, new way of life and attitude. Having meal in McDonald with a glass of Coca Cola, enjoying global entertainment by watching Hollywood movies and music videos on MTV, tuning in to global channels such as BBC, CNN, HBO or ESPN, communicating with mobile phone, using internet to get latest and fastest information are common things among Asians-young and old, male and female, urban and rural even poor and rich. The bad influences from all above that also affected Asians such as drug addicted, free sex, HIV/AIDS as well as moral degradation. However, positive and negative aspects had been accepted and felt by Asians all at once through knowledge, technology, resources and ethical values also rapid spread of diseases, illicit drugs, crime terrorism and uncontrolled migration. As we called ourselves global society and being part of the global world then we have no reason to avoid globalization because no matter what, it still can not be avoided.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;However, to handle the side effects both good and bad then we must sort out those effects wisely, fortify ourselves with our eastern values, think logic before act and be positive thinkers. Besides, as young and next Asia generation who live in a free world era which has let us get the best education and life experiences to make us as a survivor then we can, surely, make our own choice for our lives. Having well education and skill then we can compete with others professionally and confidently. Also by supporting, cooperating and implementing government’s policies then we can contribute many things in settling problems. Altogether with government, international society, international institutions and the rest of Asians then we can solve any problem as one global society who lives in one world (borderless). If we can show our optimist attitude and think positive then we can do anything from small to big for our nation then be proud as Asians who can determine ourselves in the map of 21&lt;sup&gt;st&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt;century’s globalization. Those are the things that Asia can do in the globalization-21&lt;sup&gt;st&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:12;"&gt;century which is fully supported by all Asians.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-7881630463087005978?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/7881630463087005978/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=7881630463087005978' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/7881630463087005978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/7881630463087005978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/05/globalization-21st-century-asian-what.html' title='GLOBALIZATION – 21st CENTURY, ASIAN WHAT CAN WE DO?'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-1271014189949439967</id><published>2008-05-28T08:51:00.002+07:00</published><updated>2008-05-28T08:54:02.187+07:00</updated><title type='text'>INDONESIA DAN PROBLEMATIKANYA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;div class="Section1"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;    &lt;p class="MsoTitle" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:10;"  lang="en-US" &gt;Mardanih&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoTitle" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:10;"  lang="en-US" &gt;Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Jagakarsa,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="en-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;    &lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  lang="EN-US" &gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Indonesia merupakan negara yang terletak di garis katulistiwa yang memiliki ribuan pulau kecil maupun besar. Secara &lt;i&gt;de jure &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;de facto&lt;/i&gt; Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa banyaknya, tanahnya sangat subur untuk ditanami, sedangkan kekayaan laut dan barang tambangnya melimpah ruah. Namun apa yang terjadi pada kehidupan masyarakatnya hingga kini? Kemiskinan dan kemelaratan masih terus melekat pada bangsa ini. 63 tahun sudah republik ini merdeka namun hingga kini tidak ada kemajuan yang berarti bagi rakyat republik ini, kesulitan dan kesulitan lagi masih terus mengiringi kehidupan masyarakat di republik ini. Salah satu contohnya dapat kita lihat dalam dua bulan terakhir ini (Maret – April) masyarakat sangat terpukul dengan naiknya berbagai macam harga kebutuhan pokok yang melonjak tajam. Di Pekan Baru misalnya&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; harga minyak goreng curah mencapai Rp.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;13&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;.000&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;/&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;g dari sebelumnya Rp.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;11&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;.000&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;/&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;g, sedangkan harga minyak goreng kemasan yang tadinya Rp.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;12&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;.000&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;/&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;g kini telah mencaoai Rp.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;12.500/&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;g, harga cabai merah yang tadinya Rp.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;20&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;.000&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;/&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;g kini mencapai Rp.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;40&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;.000&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;/&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;g, gula pasir yang tadinya Rp.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;6800/&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;g kini menjadi Rp.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;7400/&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;g &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;wapada online&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;edangkan di Bandung harga telur ayam naik dari harga Rp.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;1&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;2.000&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; menjadi Rp.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;12.800/&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;g dan di Yogyakarta harga daging ayam naik dari Rp.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;15&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;.000&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;/&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;g menjadi Rp.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;16.500/&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;g yang mengakibatkan omzet penjualan para pedagang turun sebesar 50&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;%&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;a href="http://www.metrotv-news.com/"&gt;www.metrotv-news.com&lt;/a&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;.&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Hal-hal tersebut merupakan sedikit dari kesulitan yang dialami oleh masyarakat kita yang memiliki tingkat ekonomi menengah kebawah (rakyat kecil), sudah barang-barang kebutuhan pokok harganya melambung tinggi masyarakat kecil juga harus dihadapkan pada kesulitan untuk mendapatkan minyak tanah untuk memasak kebutuhan pokoknya tersebut&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;. H&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;ampir disetiap segmen berita di televisi maupun media lainnya kita diperlihatkan pada antrian masyarakat dalam membeli minyak tanah, yang antriannya melebihi antrian orang yang hendak beli tiket transportasi ketika akan mudik lebaran, dan sialnya lagi banyak diantara mereka yang sudah mengantri berjam-jam lamanya yang akhirnya harus pulang dengan tangan hampa kar&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="EN-US"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;na kehabisan, dan hal tersebut hampir terjadi di seluruh wilayah negeri ini. Kebijakan pemerintah yang mengkonversi pemakaian minyak tanah ke gas justru menimbulkan masalah baru bagi masyarakat, ketika minyak tanah sulit untuk didapatkan dan mahal harganya, gas yang menurut pemerintah merupakan solusi penganti minyak tanah justru harganya meroket dan susah untuk didapatkan, di Jakarta misalnya tabung gas dan isinya yang mencapai 12 kg mencapai harga Rp. 700-750 ribu (&lt;span style=""&gt;Kompas,15-4-08).&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Mahalnya dan sulitnya BBM dan gas yang terjadi sekarang ini jelas salah satu faktor pemicunya ialah karena BUMN-BUMN yang bergerak dalam sektor energi yang jelas-jelas mempengaruhi hajat hidup orang banyak telah dijual oleh pemerintah dengan dalih privatisasi kepada pihak asing (kapitalis). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Kenaikan harga minyak dunia yang saat ini sudah menembus 120 US Dollar/barrel tentu semakin menambah keadaan semakin sulit saja di negeri kita ini. Belum lagi pengaruh krisis pangan yang terjadi di negara-negara di Asia-Afrika yang diakibatkan salah satunya dikarenakan gagal panen para petani dan banyaknya para petani yang menjual dan beralih dari menanam kebutuhan pokok kepada bahan enegi alternatif yang sekarang sedang digembar-gemborkan yang secara otomatis akan memicu kenaikan berbagai macam barang-barang kebutuhan pokok tadi. Walaupun Indonesia memiliki tanah yang subur tetapi pada kenyataannya masih banyak kebutuhan pokok yang kita impor dari luar negeri, misalnya kedelai, beras, daging, dsb.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Kenaikan harga kebutuhan pokok dan BBM semakin membuat masyarakat kecil “tercekik” dan semakin sulit menjalankan roda kehidupannya, karena penghasilan yang pas-pasan atau bahkan kurang harus dipaksakan untuk dapat mencukupi kebutuhannya sampai ia mendapatkan lagi penghasilannya di bulan berikutnya. Oleh karena itu tidak jarang kita temui sekarang ini masyarakat kita yang mengkonsumsi nasi aking dan ubi-ubian sebagai penganti makanan pokok dikarenakan keterbatasan ekonomi tadi dan ketidakmampuan mereka untuk membeli barang-barang kebutuhan pokok yang terus menerus melambung tinggi harganya. Hal tersebut tentu saja membuat kita binggung akan negeri ini yang secara nyata memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah, memiliki tanah yang subur dan merupakan salah satu negara penghasil minyak tetapi pada kenyataannya menjadi negeri yang miskin dan tidak dapat menjamin kesejahteraan masyarakatnya. Pada tahun 1990-an ketika harga minyak dunia mengalami penurunan saat itu Indonesia bersedih akan hal tersebut namun ketika sekarang harga minyak dunia naik melambung tinggi Indonesiapun sedih atas hal tersebut, lalu yang menjadi pertanyan sekarang adalah kapan kita bisa senang atas minyak yang kita miliki?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Melihat kondisi di atas apa yang dilakukan oleh pemerintah justru jauh dari harapan, pemerintah justru berencana menambah hutang luar negerinya. Pemerintah dan Panitia Anggaran DPR menyepakati untuk menambah target hutang luar negeri dalam menutup defisit APBN Perubahan 2008 dari 19.1 trilyun menjadi 26.4 trilyun, yang mana sumber utamanya akan diperoleh dari tiga kreditor utama Indonesia, yaitu &lt;i style=""&gt;World Bank&lt;/i&gt;, Bank Pembangunan Asia dan Jepang. &lt;span style=""&gt;(&lt;a href="http://www.pajak.go.id/"&gt;www.pajak.go.id&lt;/a&gt;)&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;Padahal kalau kita cermati salah satu penyebab ambruknya ekonomi Indonesia yang diawali dengan krisis ekonomi tahun 1997 adalah lilitan hutang luar negeri yang besar, dan anehnya sepertinya pemerintah tidak pernah mau belajar dari pengalaman, sampai dengan sekarang yang saya dapat dari Kompas, 15-4-2008, hutang pemerintah bertambah menjadi &lt;b&gt;Rp. 97.7 trilyun&lt;/b&gt;, dan menurut data yang saya dapat dari Bapak Tjatur Anggota DPR-RI Komisi VII pada saat dialog energi bersama Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dan Dirut PLN Fahmi Muhtar di Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, hutang luar negeri Indonesia saat ini telah mencapai &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;±&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;b&gt;140 milyar US Dollar&lt;/b&gt;. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Astagfirullahaladzim&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; jumlah yang sangat besar sekali ya…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Hal-hal di atas tersebut ternyata belum cukup untuk membuka mata pemerintah akan kesengsaraan yang sedang dialami oleh rakyatnya karena saat ini pemerintah sedang merencanakan untuk menarik subsidi BBM yang tentu saja akan semakin memukul perekonomian masyarakat secara keseluruhan. Apabila hal tersebut terjadi maka kalimat yang tepat untuk masyarakat adalah sudah jatuh tertimpa tangga, karena suka tidak suka, mau tidak mau penarikan subsidi BBM akan memicu kenaikan seluruh harga kebutuhan masyarakat, belum lagi kenaikan harga listrik akan semakin menambah sulit kehidupan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Enam Presiden sudah memimpin Indonesia hingga saat ini, namun pada faktanya tidak ada yang dapat membawa masyarakat dan bangsa ini pada kesejahteraan yang sebenarnya. Pada era Soekarno ia selalu sibuk dengan revolusi bagi Indonesia dan bagaimana cara unrtuk mempertahankan kekuasaannya. Pada era Soeharto ia lebih memprioritaskan pada pembangunan yang dilandaskan pada hutang luar negeri dan KKN pada masa rezim otoritarian ini bukan merupakan hal yang aneh, kemudian pada masa B.J. Habibie kebijakan yang dikeluarkannya menghasilkan lepasnya Timor-Timor dari pangkuan Ibu Pertiwi. Pada masa Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ia hanya sibuk untuk terus melakukan kunjungan keluar negeri yang dalam waktu satu bulan bisa mencapai 2-4 kali yang tentu saja menghabiskan anggaran yang tidak sedikit jumlahnya. Masa Megawati Soekarno Putri banyak BUMN-BUMN yang dijual kepada pihak asing. Masa SBY-JK sekarang ini selain sibuk menjadi artis (penyanyi) dan tebar pesona banyak berbagai macam permasalahan yang tidak bisa mereka tuntaskan dikarenakan tidak adanya ketegasan dan keberanian dari mereka misalnya Lumpur Lapindo, hutang luar negeri dan privatisasi. KKN tetap menjadi permasalahan yang serius yang belum berhasil ditumpas oleh para pemimpin-pemimpin tadi. Mengapa demikian, karena tidak adanya keseriusan dari pemerintah, legislatif dan seluruh penyelenggara negara ini untuk menumpasnya, hal tersebut dikarenakan mereka sendiri merupakan bagian di dalamnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Segala macam permasalahan dan kesulitan yang dialami oleh segenap bangsa Indonesia seharusnya membuat kita harus lebih berkoreksi diri atas apa-apa saja yang telah kita lakukan atau perbuat selama ini, karena tidak mungkin suatu kesulitan itu terjadi atau tercipta apabila tidak ada kesalahan dari bangsa ini sendiri seperti firman Allah dalam surat Al-A’raf: 96:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 36pt; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Andai saja penduduk bumi beriman dan bertaqwa nisaya kami akan menurunkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu sehingga kami menyiksa mereka karena perbuatannya itu. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(Q.S. Al-A’raf:96)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Mungkin kita semua terlalu sibuk akan urusan duniawi yang mengakibatkan kita melakukan segala macam hal yang dilarang oleh Tuhan YME. demi untuk pencapaian dunia kita tersebut. Korupsi, kolusi, dan nepotisme sudah menjadi hal yang biasa, kebejatan moral sudah menjadi suatu barang seni yang dianggap lumrah, kekikiran terhadap anak yatim dan orang tidak mampu telah menjadi hal yang dibiasakan, kemunafikan sudah menjadi kebiasaan, dan penindasan suka menjadi jadual harian yang harus dilaksanakan. Mungkin ini hanya sebagian kecil dari problematika yang sedang dialami oleh bangsa kita yang saya ketahui, semoga kedepan bangsa kita dapat bangkit dari keterpurukan ini dan dapat menjadi negara yang kaya, makmur pada arti yang sebenarnya dan dapat memberi kesejahteraan kepada rakyatnya.&lt;i&gt; Amin Allahuma Amin….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-1271014189949439967?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/1271014189949439967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=1271014189949439967' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/1271014189949439967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/1271014189949439967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/05/indonesia-dan-problematikanya.html' title='INDONESIA DAN PROBLEMATIKANYA'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-4303854369232351084</id><published>2008-04-29T22:53:00.002+07:00</published><updated>2008-04-29T22:57:01.309+07:00</updated><title type='text'>SETETES EMBUN PADA KESEJATIAN YANG TERLUKA</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" lang="en-US"&gt;Ahmad Fikri Adriansyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Anggota Departemen Dakwah dan Ukhuwah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Tebet Timur&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Buat saya yang awam, eksistensi profil pemimpin sejati di negeri Indonesia ini benar-benar menjadi sesuatu yang sangat langka. Apa yang tertulis di media cetak, tergambar dan terdengar dari media elektronik, atau terlihat oleh mata kepala, tak pernah jemu membuat hati kita miris. Hampir seluruh media massa dan realita itu mengisyaratkan, ketika banyak orang yang merana akibat bencana, terlilit kemiskinan dan kebodohan dalam kungkungan “lingkaran setan” struktur sosial-ekonomi yang begitu menjepit, para pejabat negara yang juga (katanya disebut) pemimpin bangsa malah terperangkap dalam intrik-intrik politik yang menyesakkan dada, “ribut-ribut” pembagian kekuasaan, sibuk mengundang para VOC baru untuk menguras kekayaan negeri sendiri, dan memulai manuver-manuver politik untuk menjemput peluang sukses pada pemilu 2009padahal masih banyak problem bangsa hingga tahun 2007 ini yang belum jua terselesaikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Dalam skala dan hierarki yang non-strategis, kita pun tak kalah prihatinnya. Lihat saja bagaimana para pejabat negara tampak tersenyum dalam kemewahan yang di luar kepantasan, tergoda oleh insting dasar manusia yang tak pernah merasa kaya dan puas sehingga kenaikan gaji, komisi, pendapatan, fasilitas, atau apalah namanya itu, dianggap sebuah kewajaran (atau mungkin sebuah keharusan?). Tanpa merasa risih, di antara kenaikan itu ada yang dipertontonkan kepada publik dengan alasan bahwa mereka memiliki tanggung jawab yang besar terhadap tugas-tugas kenegaraan. Sebagian dari mereka bahkan tak kuasa menahan desakan syahwatnya sehingga korupsi pun tak terelakkan. Kita lihat pula, bagaimana aturan protokoler yang menyertai para pejabat digulirkan. Warga sipil dianggap wajar menikmati kemacetan dan efek pemutarbalikan aturan rambu-rambu lalu lintas, tetapi tidak demikian untuk para pejabat setingkat gubernur hingga presiden. Sebab, bagi mereka, semua sudut dan lajur di jalan raya harus menjadi jalan bebas hambatan. Alasannya memang sangat logis : supaya mereka tidak terlambat dalam menunaikan tugas-tugas kenegaraan!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Sebagian besar fenomena di atas mungkin bukanlah suatu kepincangan ketika dipandang melalui kacamata hukum positif dan aturan-aturan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di negeri ini, tetapi jelas, menjadi fakta yang melukai kesejatian sebuah proses kepemimpinan. Pun demikian, setidaknya kita masih layak untuk berbahagia karena di tengah kesejatian yang terluka itu, ternyata ada potret teladan yang mengharukan sekaligus membanggakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Potret yang bagaikan setetes embun segar itu adalah kisah kepemimpinan seorang Hamdan (50), pria lulusan sekolah dasar yang menjadi Kepala Dusun Penyangkak, Bengkulu Utara. Kisah empatik ini ini disuguhkan oleh harian Republika edisi Jumat, 12 Oktober 2007. Kita akan coba ulas lagi kisahnya pada alinea berikutnya. Namun, izinkan saya dahulu untuk sedikit berseloroh : Wahai para pemimpin negeri, tidak perlulah negara merogoh koceknya hingga puluhan juta rupiah hanya untuk biaya &lt;i style=""&gt;training&lt;/i&gt; kepemimpinan Anda. Anda cukup menyiapkan tiket pesawat ke Bengkulu dan menginap beberapa hari di Dusun Penyangkak untuk berguru pada Pak Hamdan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;**&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dusun Penyangkak adalah satu dari sekian banyak daerah yang porak-poranda akibat gempa Sumatera di awal bulan puasa tahun ini. Di dusun ini, banyak rumah warga yang luluh lantak, termasuk rumah Pak Hamdan. Tentu saja setiap warga sangat mengharapkan agar rumah mereka kembali dibangun dan tak mau berlama-lama berteduh di bawah tenda. Meskipun demikian, Pak Hamdan tidak ingin pembangunan rumah keluarganya dinomorsatukan hanya karena ia adalah seorang kepala dusun. “Selesaikan rumah warga dulu, saya belakangan saja”, demikian perintah Pak Hamdan kepada warganya. Tidak hanya masalah rumah, Pak Hamdan pun memilih untuk memastikan bahwa setiap warganya sudah berteduh di bawah tenda sebelum diri dan keluarganya sendiri. Terpal biru yang beliau dapatkan bahkan adalah terpal terakhir dari seluruh terpal yang disediakan untuk warga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Pak Hamdan juga berhati-hati dalam segenap aktivitas pemberian bantuan atau penggunaan fasilitas yang terkait dengan keluarga dan kerabatnya. Kalau diistilahkan secara populer, Pak Hamdan tak ingin terjebak dalam KKN, apalagi di tengah suasana sulit kala itu. “Dia masih keponakan saya, tolong pengurus posko saja yang memutuskan”, pesannya suatu saat ketika mendistribusikan sembako. Pada kesempatan lain, seorang relawan hendak memakai sebilah papan untuk tiang posko. Pak Hamdan pun melarangnya dengan halus, “Jangan bayari papan itu, pak. Karena dia adik saya, apa nanti kata warga. Lebih baik bapak pakai papan warga saja. ”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Pak Hamdan menjadi sosok yang berupaya menjaga harga diri pribadi dan keluarganya dalam kapasitasnya sebagai pemimpin warga Dusun Penyangkak. Ia tidak tergoda untuk memanfaatkan “jabatannya” sebagai alat untuk memuluskan dan memprioritaskan pemenuhan keinginan dan kebutuhan keluarganya, bahkan di tengah-tengah bencana, saat semua orang tanpa terkecuali sama-sama membutuhkan bantuan sandang, pangan, dan papan. Ia berusaha menjaga diri dan keluarganya dari fitnah, karena memang jabatan bisa menjadi sumber fitnah dimanapun dan kapanpun. Pak Hamdan dan keluarganya, berusaha menahan penderitaan lebih lama dari derita para warga. Ia akan mengambil paling terakhir, itupun jika masih ada sisa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Tak hanya untuk diri dan keluarganya, teladan ini ia ajarkan pula kepada warganya. Pada saat, sebagian warga korban gempa di sepanjang jalur Lais hingga Muko Muko mempersempit jalan dengan meminta-minta bantuan, Pak Hamdan melarang keras warganya melakukan itu. “Kalau rezeki kita, pasti tidak kemana. Jangan memaksa orang membantu dengan mengiba-iba. Apalagi memaksa, kemana harga diri kita. Bukannya mereka mau membantu malah segan berhenti memberikan bantuan”, terangnya. Nasihat Pak Hamdan ini berbuah sikap tenang dan bijak para warganya. Meski 90 persen rumah di Dusun Penyangkak hancur total, warga tidak terpancing untuk bertindak anarkis. Pada suatu rapat dengan warga, Pak Hamdan berpesan, “Kita tidak perlu marah pada pemerintah dan bupati. Bukan mereka yang membuat gempa ini. Biar saja, kita urus masalah kita sendiri. Kedatangan pejabat juga tidak akan menyelesaikan masalah. Kita tunggu dengan sabar bantuan pemerintah, sambil kita berusaha bangkit sendiri”. &lt;i style=""&gt;Subhaanallah&lt;/i&gt;...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Kearifan kepemimpinan Pak Hamdan yang diiringi oleh kesabaran dan ikhtiar para warganya, ibarat doa mustajab yang mengetuk pintu-pintu keberkahan di langit. Dusun Penyangkak kebanjiran bantuan dari para donatur. Semua warga dusun sudah mendapatkan lebih dari cukup termasuk keperluan lebaran. Pak Hamdan yang mengetahui kondisi ini berusaha mengingatkan warganya agar tidak bersikap egois. Atas persetujuan dari warga, kelebihan bantuan itu didistribusikan ke desa-desa lain. Pak Hamdan memimpin sendiri pendistribusian bantuan itu hingga ke Serangai (satu jam perjalanan dari Penyangkak)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;“Kami sudah dapat lebih dari cukup hingga lebaran nanti. Saudara kami di desa lain belum tentu mendapat keberkahan sebesar ini. Semoga ini bermanfaat untuk warga bapak”, ujar Pak Hamdan pada tokoh Desa Kembang Manis, Lais.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;**&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Demikianlah cuplikan kisah kepemimpinan Pak Hamdan di tengah suasana pasca gempa Sumatera. Boleh jadi, sebagian dari pembaca yang budiman merasa heran dan tak percaya bahwa masih ada sosok pemimpin seperti Pak Hamdan di negeri ini. Kisah Pak Hamdan bukanlah cerita dalam novel, tetapi memang benar-benar ada dan nyata. Meskipun latar kisahnya adalah suasana pasca bencana, kita patut untuk yakin bahwa keteladanan yang ditunjukkan Pak Hamdan itu merepresentasikan kepemimpinannya pada hari-hari biasa dan normal. Bukankah karakter manusia yang sesungguhnya akan terlihat jelas pada saat-saat terjepit dan menderita?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Para pembaca yang budiman, tulisan ini disajikan bukanlah untuk melebih-lebihkan satu pihak dan kemudian mengabaikan pihak lainnya. Kita perlu optimis bahwa masih banyak Pak Hamdan-Pak Hamdan lainnya di berbagai pelosok negeri ini dan tak mustahil ada pula para pemimpin seperti Pak Hamdan dalam lembaga tinggi dan tertinggi negeri ini. Mereka bukanlah pemimpin yang bebas dari kekurangan dan kelemahan, tetapi mereka adalah pemimpin yang perlahan tapi pasti, terus berjuang dengan kekuatannya untuk mengobati luka pada kesejatian sebuah proses kepemimpinan, mengakui kelemahan mereka agar bisa dilengkapi sehingga menjadi hebat tanpa pakaian keangkuhan, menjiwai intisari kepemimpinan sehingga mereka berjaya karena berusaha membahagiakan semua orang, bukan dengan membahagiakan sebagian orang lantas menindas sebagian lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Siapa pun kita, yang terlibat dalam proses kepemimpinan dimana pun dan kapan pun, perlu mengambil dan mengimplementasikan hikmah dari kisah kepemimpinan orang-orang seperti Pak Hamdan. Tidak mudah menjadi mereka, tapi jejak langkah mereka jelas-jelas merupakan ikhtiar untuk menjadi pemimpin sejati. Semakin sulit menjadi seperti mereka, ketika pangkat dan kekuasaan kita semakin tinggi dan harta kita semakin menumpuk, karena hal-hal inilah yang terus menjadi kendaraan syaithan untuk melesatkan syahwat kita hingga terjerumus ke dalam lembah kecurangan, kepentingan-kepentingan sesaat, pengabaian hak-hak wong cilik, dan bermegah-megahan dalam kemewahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;i style=""&gt;Wallahu a’lam bi ash-shawwaab&lt;/i&gt;...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" face="arial" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;* &lt;span lang="IN"&gt;Percakapan dan sebagian pernyataan dalam artikel ini dikutip dari kolom Lirih bertema “Keteladanan Pemimpin dari Kampung Gempa” di harian Republika, Jumat 12 Oktober 2007.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-4303854369232351084?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/4303854369232351084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=4303854369232351084' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/4303854369232351084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/4303854369232351084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/04/setetes-embun-pada-kesejatian-yang.html' title='SETETES EMBUN PADA KESEJATIAN YANG TERLUKA'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-7793861854611954134</id><published>2008-04-29T22:48:00.001+07:00</published><updated>2008-04-29T22:52:34.633+07:00</updated><title type='text'>MENGOPTIMALKAN ZAKAT</title><content type='html'>Sarana Realiasasi Solidaritas Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhammad Iqbal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-size: 100%;" lang="en-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;" lang="en-US"&gt;Ketua Majelis Pendidikan Kader&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;" lang="en-US"&gt;Pimpinan Cabang Muhammadiyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;" lang="en-US"&gt;Tebet Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;" lang="en-US"&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;"Dan dirikanlah salat dan tunaikan zakat" (Q.S 2:43)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Oleh Allah zakat disebut dalam al-Qur'an sebanyak 30 kali, 27 di antaranya berhubungan dengan salat. Hal ini menunjukkan urgensitas zakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Abu Bakar As-Shiddiq ra. berani mengambil keputusan untuk memerangi mereka yang menahan zakat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Sementara para sahabat lainnya diam. Kalaulah bukan karena posisi zakat. Beliau tak akan memutuskan demikian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Kewajiban zakat yang beriringan dengan salat memiliki karakteristik yang sama. Yaitu sebagai ibadah yang 'wajibnya' disepakati oleh kaum muslimin. Di samping itu ia mempunyai dimensi sosial sebagaimana salat berjama'ah, yaitu menumbuhkan semangat kesatuan dan solidaritas sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Sebenarnya, yang diinginkan Islam adalah agar kekayaan dan sumber daya alam terkumpul dalam satu tempat dalam tatanan sosial. Tak selayaknya bagi mereka yang memperoleh kelapangan ”karena nasib baik” di atas kebutuhan mereka, kemudian puas menumpuk dan menyimpannya. Semestinya mereka berpikir, mengapa ada di antara mereka yang giat bekerja namun karena kurang baik nasibnya, mereka kekurangan. Mereka perlu uluran tangan. Karena seseorang merupakan unsur dari sebuah tatanan sosial. Pun seseorang bisa disebut kaya karena ada fakir dan miskin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;Tatanan sosial dalam suatu komunitas, ibaratnya bagai sebuah bejana berhubungan. Jika suatu bagian naik, maka seyogyanya bagian yang rendah bisa naik. Jalur hubungan antar anggota masyarakat tersebut di antaranya zakat, di samping ada pintu-pintu pendukung, seperti sedekah, hadiah, hibah dan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="FI"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Terbukti sistem kapitalis-materialis hanya sebagai jagal strata bawah. Karena hanya akan memunculkan jurang diskriminasi. Si kaya makin kaya, sedang si miskin makin tercekik dengan bunga hutang yang berlipat dari aslinya. Demikian juga sosialis yang terlalu generalis, menyamaratakan kekayaan dan merampas kepemilikan individu adalah 'perampokan' yang berbahasa halus. Di samping merupakan idealisme yang berlawanan dengan fitrah manusia. Perampokan, pencurian, dan pembunuhan merupakan bukti hilangnya kontrol dan keseimbangan tatanan sosial dalam komunitas masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Pendidikan dan pembinaan Allah terhadap kaum muslimin lewat zakat bukan hanya berdimensi sosial tapi juga berdimensi spiritual atau mental berupa pembersih jiwa (Q.S al-Taubah:103) juga berdimensi latihan administrasi dan pemerataan harta zakat (Q.S al-Taubah:60).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sedikit, kita coba merenungi firman Allah Q.S Ali Imran:180. "Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil (pelit) dengan harta mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, apa yang membuat mereka bakhil? Tak lain adalah sebuah kekhawatiran; jangan-jangan harta mereka akan berkurang atau bahkan habis. Lantas bagaimanakah nasib mereka setelah itu. Pola pikir ini terbentuk oleh kehidupan dan arus meterialis. Maka cara dan pola ukur standar yang digunakan menaksir juga meteri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Memang materi apabila diambil terus akan berkurang. Namun sadarkah mereka bahwa materi ini adalah karunia Allah. Dan hanya di tangan Allah lah hak menambah dan merenungi atau menurunkan berkah dan rahmat-Nya kepada hamba-Nya. Bukankah Allah menjanjikannya? (Q.S Ibrahim:7).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Pola pikir di atas mengkristal karena mareka merasa bahwa merekalah yang mendapatkan kekayaan. Padahal dalam bahasa sunnah Allah, manusia tidak pernah mendapat namun 'menerima'. Mereka hanya menerima pembagian Allah lewat malaikat. Jika logika setiap yang berusaha pasti 'dapat' tentulah tak ada orang miskin dan fakir kecuali yang malas. Sedangkan realita menuturkan bahwa hanya hadh (bagian/nasib) saja yang belum berpihak pada si fakir. Sementara berapa banyak orang kaya karena keturunan, kedekatan, dan persahabatan. Meski ada juga yang start dari titik nol.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Zakat, baik mal (harta) dan fitrah mendidik seorang muslim merasakan nasib saudaranya yang belum beruntug. Setelah ditempa dalam madrasah kesabaran, madrasah perjuangan dan pusat tela'ah al-Qur'an, dan madrasah tahunan 'Ramadhan'.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sarana yang diberikan Allah adalah terjemah nyata berdimensi sosial setelah manusia terbina dari dalam lewat salat, rutinitas harian yang berfungsi komunikasi vertikal dan lewat puasa, rutinitas tahunan sebagai ajang perlombaan dalam kebaikan. Zakat merupakan dimensi amal yang lebih bersifat interaksi keluar (sosial) di samping, tentunya merupakan ibadah. Karena terbukti ada perbedaan antara zakat wajib, sedekah sunah, hibah, hadiah, dll. Semuanya yang membedakan adalah niat dari seseorang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Zakat tak lain, merupakan transfer sumber daya alam sebagian anggota masyarakat yang mampu ke saudaranya yang kurang mampu. Ia ibarat memindah sebagian isi dari genggaman tangan kanan ke tangan kiri yang masih kosong atau ada isinya, namun hanya sebutir atau dua butir. Kedua tangan ini adalah anggota tubuh seorang manusia. Demikian juga kedua nasib anak manusia yang berbeda (kaya/miskin) keduanya adalah satu tubuh dalam tatanan sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Hal inilah yang dijadikan sasaran ibadah zakat, sense of solidarity. Inilah yang hilang dari tatanan masyarakat yang tercekoki mode materialis. Yang mengukur harga manusia lewat pangkat dan jabatan, standar kekayaan dan simpanan di bank, cantik dan tampan, dan strata sosial lewat tingginya pendidikan formal. Jarang yang mau mengukur senyawa manusia yang berupa akhlak dan budi pekerti. Kesalahan individulah yang mampu menahan seseorang untuk tidak menelan harta masyarakat meski saat itu ia hanya berteman bangku-bangku kantor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Zakat adalah model alternatif yang dijadikan masyarakat muslim sebagai refleksi solidaritas yang tidak perlu lagi menggantungkan diri dengan struktur sistem ekonomi ribawi. karena mereka bagaikan satu badan sebagaimana dibahasakan sabda Rasul saw. atau pantulan cahaya ilahi yang membahasakannya lewat Q.S al-Hujurat:10, "sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara". Ikatan imam seorang mukmin dengan mukmin lainnya disamakan dengan ikatan kekeluargaan. Tak heran jika proses berdirinya masyarakat madani di Madinah pertama kali di bangun atas dasar kokohnya ruh ukhuwah (jiwa persaudaraan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;" lang="en-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-7793861854611954134?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/7793861854611954134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=7793861854611954134' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/7793861854611954134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/7793861854611954134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/04/mengoptimalkan-zakat-sarana-realiasasi.html' title='MENGOPTIMALKAN ZAKAT'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-3615632602904555926</id><published>2008-04-29T22:41:00.001+07:00</published><updated>2008-04-29T22:47:39.542+07:00</updated><title type='text'>ENERGY AND LIFE SUSTAINABILITY</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-size: 100%;" lang="en-US"&gt;Zaki Mubarak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;" lang="en-US"&gt;Ketua Umum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;" lang="en-US"&gt;Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;" lang="en-US"&gt;Tebet Timur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;" lang="en-US"&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;One vital element which has important part in civilization development is energy. It has maximizing human being invention and innovation to stimulate development acceleration. From generation to generation, energy consumption has grows and increases adapted with technology and population. Informer times, people were used energy in simple way to full fill their needs. Using of animal in agriculture, human (slave) to lift up the water or rowing a boat, firewood for household needs also wind energy for sailing, proved how important energy in support human life (Yusgiantoro, 2000). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;As time goes by, people were found fossil energy from like, oil, coal and natural gas. That makes people make some explorations to find sources in order to provide need of energy which has increase drastically together with rapid population grow. Based on time variable, energy has two classifications, first, renewable resource for example water, air, sunlight, firewood, etc. Second, non-renewable resource for example oil, coal, natural gas, etc.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;On the other hands, source of energy is limited and utility of energy has made negative impact for animal, human being, plan and environment. Nowadays, those issues are taking global intention. The core problems are, how to full fill need of energy and to reduce negative impact to protect sustainable of life for now and next generation.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;FOSSIL FUELS COME FROM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;There are three major forms of fossil fuels: coal, oil and natural gas. All three were formed many hundreds of millions of years ago before the time of the dinosaurs - hence the name fossil fuels. The age they were formed is called the Carboniferous Period. It was part of the Paleozoic Era. "Carboniferous" gets its name from carbon, the basic element in coal and other fossil fuels. The Carboniferous Period occurred from about 360 to 286 million years ago. At the time, the land was covered with swamps filled with huge trees, ferns and other large leafy plants. The water and seas were filled with algae - the green stuff that forms on a stagnant pool of water. Algae is actually millions of very small plants. Some deposits of coal can be found during the time of the dinosaurs. For example, thin carbon layers can be found during the late Cretaceous Period (65 million years ago) - the time of &lt;i&gt;Tyrannosaurus Rex &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;(www.energyquest.ca.gov, …). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;As the trees and plants died, they sank to the bottom of the swamps of oceans. They formed layers of a spongy material called peat. Over many hundreds of years, the peat was covered by sand and clay and other minerals, which turned into a type of rock called sedimentary. More and more rock piled on top of more rock, and it weighed more and more. It began to press down on the peat. The peat was squeezed and squeezed until the water came out of it and it eventually, over millions of years, it turned into coal, oil or petroleum, and natural gas &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;(www.energyquest.ca.gov, …). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;HISTORY OF ENERGY USED&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Everything we do is connected to energy is one form or another. Energy is defined as &lt;i style=""&gt;the ability to do work&lt;/i&gt;… Energy is measured in many ways. One of the basic measuring blocks is called a Btu. This stands for British thermal unit and was invented by, of course, the English… Energy also can be measured in joules. Joules sounds exactly like the word jewels, as in diamonds and emeralds. A thousand joules is equal to a British thermal unit… The term "joule" is named after an English scientist &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.energyquest.ca.gov/scientists/joule.html" title="This links to a biography of Joule on our Super Scientists page."&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;James Prescott Joule&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;who lived from 1818 to 1889. He discovered that heat is a type of energy… 1,000 joules = 1 kilojoule = 1 Btu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(www.energyquest.ca.gov, …).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Before people, in traditional period, were found fossil energy, they were used natural energy like human and animal energy or water, sun light and wind to support their activities. With those sources, their productivities were low. But people thought were change, based on their experiences, they finally found new energy source and made simple mechanic tools that operated with fossil energy, like coal, in England and then spread to Europe and then exported to Asia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Many invention were created from the expert, one of them is James Watt who was created steam machine. His creation gave significant impact to Industry Revolution. Even though steam machine was used for windmill and water circulation, the core energy was human energy. That was limited industry production capacity. Due to steam machine invention, it was eliminated (Hart, 1989). Coal was use intensively with growing of steam machine since Industry Revolution (1780’s). At the first time, oil was used for engine lubricant (1860’s) become coal competitor, especially after the price was cheaper… However petroleum used for many households light energy… Natural gas take part in market after long distance transportation technology was developed with cheap price in 1930’s (Yusgiantoro, 2000). &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;World industry was growing significantly and need more fossil energy to operate the machines. In the same way, technology bring world to modern era which is need huge energy supply. The reality, energy stock to supply the demand is not able in every country. Energy source especially fuel, which are need for every human and industry activities, available in Middle East countries. Because of that, fuel price is very depends from policy and situation from those countries. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;In 1973, there was energy crisis because Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC), majority members come from Middle East, made embargo for fuel supply. October 17, 1973, Egypt and Syria were succeeded to approach OAPEC, including Arabic countries as OPEC members, made fuel embargo to Israel allies countries. Targets are US, Holland, and European countries as US allies. Those countries were panic and Yom Kippur War was made world energy crisis (Angkasa, 2007). &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;At the end of that year, vehicle drivers in all over the world were queue up in gas station, and crude oil price increase from 3 USD per barrel become more than 13 USD per barrel (Flavin, 1995). In January 1979, Iran Shah was escape from Teheran, after revolution movement for a year by religious leader and secular whose are revolted with corruption by shah’s family and despotic regime (Flavin, 1995). In response to the revolutionary turmoil in Iran, they increased prices again. World oil prices soared from $2.50 to $34 a barrel. The impact on economies around the world was devastating (Roskin, 1994). After that, many oil crisis were happened until the latest oil crisis is today, when the price touch 120 USD per barrel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Based on that fact, many countries had made some research and development for alternative energy to avoid oil dependency. Nuclear energy is alternative energy which is use in many development countries. It was very potential and has bright future, but world was shocked after some nuclear tragedies in some countries. Three serious accidents have affected nuclear reactor for electricity production through the world… : in Windscale (Great Britain) in 1957, Three Mile Island (United State) in 1979, the last in Tchernobyl (Soviet Union) in 1986. The two among those, Windscale and Tchernobyl were had consequences for population and environment (Mandil, 1996). &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;"&gt;ENERGY PLANNING &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Before we decide to make a decision, we must make a comprehensive planning. It is very important because we must know how we can apply. Good energy planning can integrate all energy sub-sector, including village energy sector, and related aspects with energy sector as one unity. The related aspects are social-economic, environment, balance of payments, etc. The important ones that must do in energy planning is identifying group of data which is need to energy demand analysis, examine any sources of energy to fulfill the demand, and developing any balance alternative of energy demand-offer. The analysis result used as basic to take decision in energy policy… In general, principal objective of energy planning is to maximize net benefit for economy (Yusgiantoro, 2000).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Daftar pustaka:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Angkasa, &lt;i style=""&gt;The Yom Kippur War October 1973&lt;/i&gt;, Jakarta: PT. Gramedia, 2007.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Christopher Flavin dan Nicholas Lessen, &lt;i style=""&gt;Gelombang Revolusi Energi&lt;/i&gt; alih bahasa oleh Nicolas Hasibuan dan S. Maimoen, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="FR"&gt;Claude Mandil, &lt;i style=""&gt;L’energie Nucleaire En 110 Questions&lt;/i&gt;, Paris: Le Cherche Midi Editeur, 1996.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Purnomo Yusgiantoro, &lt;i style=""&gt;Ekonomi Energi: Teori dan Praktek&lt;/i&gt;, Jakarta, Pustaka LP3ES, 2000&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="FR"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Michael Hart, &lt;i style=""&gt;Seratus Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah &lt;/i&gt;alih bahasa oleh Mahbub Djunaeri, Jakarta: Pustaka Jaya, 1989&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="FR"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="FR"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Michael G. Roskin (et al.), &lt;i style=""&gt;Political Science: An Introduction&lt;/i&gt;, New Jersey: Englewood Cliffs, 1994. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Internet:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.energyquest.ca.gov/"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; color: windowtext; text-decoration: none;" lang="IN"&gt;www.energyquest.ca.gov&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 100%;" lang="en-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-3615632602904555926?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/3615632602904555926/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=3615632602904555926' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/3615632602904555926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/3615632602904555926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/04/energy-and-life-sustainability.html' title='ENERGY AND LIFE SUSTAINABILITY'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-146751170369989746</id><published>2008-04-13T15:52:00.005+07:00</published><updated>2008-04-16T21:09:18.534+07:00</updated><title type='text'>CITY GREEN OPEN SPACE AND MANGROVES FOREST EXISTENCY</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;  &lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:Calibri;font-size:100%;"  lang="en-US" &gt;Zaki Mubarak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:100%;"  lang="en-US" &gt;Ketua Umum&lt;br /&gt;Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah&lt;br /&gt;Tebet Timur&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:100%;"  lang="en-US" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" lang="id" &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Every second, human activities always move to new level to reach better life quality. In this modern era, people must adapt with quick changes in every part of life. People who lived in capital city, like Jakarta, must be felt that situation. Usually in every capital city, many people from different background and area came to work and reach their dreams. Many villagers come to capital city with that reason. That’s what we called urbanization.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Massive urbanization movement makes a lot of problems for this city. Unbalanced composition between job seekers and field of jobs, high cost life and less income, limited area of residence and huge population, and more, make serious social problems. On the other side, province government, as a side who has power and authority to manage city, trapped in corruption and conspiracy circle. As time goes by, city has complex problems caused by huge population and land abuse. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;One of some problems which have significant correlation with city existence and city resident life quality are green open space and mangroves forest. Are they available with balanced proportion or paradox situation that makes us take a deep breath to realize the reality?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;The Importance of Them&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;City green open space and mangroves forest are not only just for city supplement or aesthetics element, but more important, it for balance element to continuation of life. With that important part, province government, people and all city elements must take part to preserve them. As a city resident, we already felt the consequences from treat them badly, like flood, water crisis, erode the sea’s edge, damaged of animal ecosystem, and more. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;City green open space is part of a city area open spaces which is filled of plants and vegetations to support direct benefit and/or indirect benefit which is produced from green open space in city that are security, pleasure, wealth, and beauty (IPB, 2005).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;City green open space with their soil and trees has multi function to fulfill city resident needs. &lt;i style=""&gt;First&lt;/i&gt;, absorb carbon dioxide and preserve oxygen. That’s very useful to eliminate air pollution like smoke from car, motorcycle, factory, etc. It also can reduce global warming phenomena. &lt;i style=""&gt;Second&lt;/i&gt;, water preserve. When rain fall to earth, they will absorb and keep it deep inside soil. When people need it, they just grave the soil and find a good quality water to consume. &lt;i style=""&gt;Third&lt;/i&gt;, animals and plants ecosystem. With limited area, city is not ideal area for them to life but with green open space&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="EN-US" &gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt; they can survive and growth. &lt;i style=""&gt;Fourth&lt;/i&gt;, recreational place. High activities frequency makes city resident, even adult and child, easy to get stress and depression. One of some solution to release the problems is use the green open space or city forest to do some sport activities like jogging, play football, etc. Also for family, they can use it for picnic and family gathering activities.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Mangroves forest also has significant part to make city save from sea disaster. &lt;i style=""&gt;First&lt;/i&gt;, beach support area. This is very important to reduce wave negative impact and to avoid aberration. &lt;i style=""&gt;Second&lt;/i&gt;, animals ecosystem. Mangroves forest provide place to live for many water animal species and non animal water species, like fish and heron.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;REALITY&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Terrible, that’s one word to express green open space or city forest and mangroves forest latest conditions. We can see how many land abuse happened surround us. Jakarta Province Government explained there are 302 parks with 105,9 hectare. But, Jakarta Gardens Official expressed, around 250 parks location already change the function, that are 42 locations in Central Jakarta, 27 locations in North Jakarta, 48 locations in West Jakarta, 77 locations in South Jakarta, and 56 locations in East Jakarta (Mokoginta, 2006). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Majority, that lands used for residents and economic place activities for long times. Because of that, people who lived there feel that they are owner of the land. Why they can feel like that? They argued that they also pay the tax to government officials. Actually, what they have paid was not tax but &lt;i style=""&gt;toll&lt;/i&gt;. The nearest example is Jalur Hijau in Tebet which already occupied since 1970’s and now more dense become squatter area. Besides that, we can see Hilton Hotel in Senayan was built in green open space or city forest. In academic circle also emerge discussion about base resident legal status in city, that are slum (base, but legal) and squatter (base and lived illegally, usually in neglect land and outskirt of infrastructure way). For second category, province government has a right to condemnation in the name of law without thinking what will happen to the occupants (Herlambang, 2006). In beach area, we can see many mangroves forest areas was reclaimed become luxury residents for the have.&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;SOLUTION&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Those problems must take quick decision and right treatment from province government to reduce negative effects for people and next generation. Every change must take social and economic cost. That is what province government and city resident must face. In reality, many people live in city green open space areas and they won’t go from there. Province government must take quick action and distinct policy, even it not popular, to clean city green open space areas. Condemn and relocate their resident are some of many policy as shock therapy action and to restore city green space core function. It is not only for squatter area but also to luxury resident in beach area. Certainly, that policy must be socialized before execution and also give proper compensation to them.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;To avoid that situation in next time, province government should make comprehensive city development plan, arranged by government side, expert and city stake holders (city resident, businessman, etc). Based on that plan, province government makes a policy to manage city comprehensively and distinctly. Focus to completely remove poverty, environment protecting, and increase city productivity called triangle of sustainability according to Serageldin (Nugroho, 2004), consist of aims interaction economic, social and ecology which is complete another and protect one another (Nugroho, 2004).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;The important one is province government good will to make and implement it and also city resident paradigm changes about life quality for now and next generation&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" lang="EN-US" &gt;, environment preservation &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;and also city continuation. It never started if all elements never realize and do positive things now, from individual to institutional.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Toll : tariff collected without proper legal authority&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" face="arial" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;IPB – Lab Perencanaan Lanskap Departemen Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian, &lt;i style=""&gt;Ruang Tebuka Hijau (RTH) Wilayah Perkotaan&lt;/i&gt;, www.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"  style="margin-left: 31.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Lukman F. Mokoginta, &lt;i style=""&gt;Nasib Taman Kota Jakarta &lt;/i&gt;dalam&lt;i style=""&gt; Politik Kota dan Hak Warga Kota Masalah Keseharian Kota Kita&lt;/i&gt;, Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2006, hal 15.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"  style="margin-left: 31.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Iwan Nugroho dan Rokhmin Dahuri, &lt;i style=""&gt;Pengembangan Wilayah : Perspektif Ekonomi, Sosial dan Lingkungan&lt;/i&gt;, Jakarta : LP3ES, 2004, hal. 224.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"  style="margin-left: 31.5pt; text-align: justify; text-indent: -31.5pt;font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;Soerjono Herlambang, &lt;i style=""&gt;Kisah Lapangan Monas, Politik Kota dan Hak Atas Kota&lt;/i&gt; dalam &lt;i style=""&gt;Politik Kota dan Hak Warga Kota Masalah Keseharian Kota Kita&lt;/i&gt;, Jakarta: PT . Kompas Media Nusantara, 2006, hal. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;xvi&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-146751170369989746?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/146751170369989746/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=146751170369989746' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/146751170369989746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/146751170369989746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/04/city-green-open-space-and-mangroves.html' title='CITY GREEN OPEN SPACE AND MANGROVES FOREST EXISTENCY'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-1763643523474971809</id><published>2008-04-13T15:34:00.003+07:00</published><updated>2008-04-13T20:45:20.363+07:00</updated><title type='text'>Semburat Bahagia di Jalan Dakwah</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;Ahmad Fikri Adriansyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;Anggota Departemen Dakwah dan Ukhuwah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Tebet Timur&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;Apa yang ingin Anda raih dalam kehidupan ini? Inilah pertanyaan mendasar yang seringkali ditanyakan saat kita merenungi makna hidup. Apa kira-kira jawaban Anda? Tidak peduli siapapun Anda; mahasiswa, karyawan, direktur, guru, supir angkot, koruptor, perampok, penjudi, atau apapun predikat yang Anda sandang, saya cukup yakin bahwa jawaban Anda dan kita semua sama pada intinya. Jawaban itu adalah : Saya ingin BAHAGIA. Ya, mahasiswa giat belajar supaya bahagia; karyawan gigih bekerja supaya bahagia; direktur memimpin dengan seluruh jiwa dan raga agar bahagia; supir angkot rela berpeluh ria mengelilingi kota supaya bahagia; koruptor berpikir mati-matian agar dapat meraup duit secara haram tapi elegan, tidak lain supaya bahagia; perampok rela tidak beristirahat di malam hari agar bisa merampok dengan sukses, itu pun untuk mencari kebahagiaan; penjudi juga begitu, ia rela mempertaruhkan sedikit atau banyak uang yang dimilikinya agar meraih uang yang jauh lebih banyak lagi karena ia ingin bahagia. Kita semua, siapapun kita, ingin bahagia…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Keinginan untuk hidup bahagia adalah salah satu wujud fitrah manusia. Semua orang ingin bahagia, karena bahagia itu menyenangkan, jauh dari kesedihan, dan sangat dekat dengan kenyamanan. Namun, sangat disayangkan apabila fitrah manusia yang satu ini dikotori oleh hawa nafsu dan syahwat yang tak terkendali. Kedua hal inilah yang menjadi kendaraan syaithan untuk membawa kita pada kebahagiaan yang semu, membuat kita lupa akan kebahagiaan yang sesungguhnya, dan menjadikan kita merasa cukup dengan kebahagiaan dunia yang akan hancur binasa. Lain halnya dengan orang yang terus berusaha mengendalikan hawa nafsu dan syahwatnya dalam kerangka ketakwaan kepada Allah swt. Dunia menyuguhinya beribu pernik kebahagiaan, tetapi ia tidak memandangnya, melainkan hanya sebagai anak-anak tangga menuju puncak kebahagiaan. Fokusnya adalah meraih puncak kebahagiaan sehingga ia terus berjalan menuju puncak itu. Ia tidak berhenti pada salah satu anak tangga, tetapi terus mendaki dengan susah payah agar sampai pada kebahagiaan sejati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lantas, apakah puncak kebahagiaan itu? Allah telah menggambarkannya dengan indah dalam surat Al-Fajr : 28 dan Al-Bayyinah : 8. Pada kedua ayat ini Allah menjelaskan kondisi orang-orang yang dihadiahi surga sebagai kenikmatan tertinggi, yaitu orang yang ridha kepada Allah dan Allah pun ridha kepadanya. Inilah keridhaan resiprokal yang melahirkan efek berupa kebahagiaan terdahsyat seantero alam semesta! Inilah puncak kebahagiaan itu. Jika anda telah bersuami atau beristri, bayangkan suatu saat Anda berbuat salah kepada suami atau istri Anda. Anda berdua sebenarnya tetap saling mencintai, tetapi boleh jadi saat itu suami atau istri Anda marah kepada Anda karena kesalahan Anda. Pertanyaannya adalah : apakah pada kondisi tersebut Anda berdua bahagia? Saya yakin Anda berdua tetap bahagia. Namun, apakah derajat kebahagiaannya sama dengan kondisi ketika Anda berdua saling mencintai dan tidak marah satu sama lain? Tentu kondisi kedua ini lebih membahagiakan Anda bukan? Inilah analogi sederhana--meskipun jauh dari kesebandingan--dari keluarbiasaan puncak kebahagiaan, yakni ketika Allah ridha pada kita, dan kita pun ridha kepada-Nya. Subhaanallaah...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Meraih puncak kebahagiaan tentu tidaklah mudah, tetapi Allah telah menunjukkan kepada kita jalan menuju puncak tersebut dan bagaimana supaya mampu bertahan dalam perjalanan itu. Segenap aturan yang tercantum dalam al-Quran dan as-Sunnah adalah jalan menuju puncak kebahagiaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lalu, bagaimana caranya supaya kita mampu bertahan dalam perjalanan itu, atau dengan kata lain, bagaimana supaya kita tetap istiqamah dalam menjalankan aturan Allah dan Rasul-Nya? Jawabannya adalah : DAKWAH.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;Mari kita perhatikan dua ungkapan yang terlontar dari lisan para ulama salaf berikut ini. “Seandainya raja-raja dan anak raja itu mengetahui apa yang kami rasakan, pasti mereka menguliti kami dengan pedang untuk mendapatkan kesenangan yang kami miliki.” “Sungguh sengsara sekali orang-orang yang lalai. Mereka meninggalkan dunia ini, tapi mereka belum pernah merasakan kenikmatan yang paling indah di dunia ini.” Hmmm..apa sebenarnya kesenangan yang mereka maksud? Ternyata, kesenangan yang dimaksud adalah DAKWAH. Sungguh menarik sekali, karena ternyata dakwah bagi mereka tidak hanya menjadi sarana untuk mencapai puncak kebahagiaan, tetapi dakwah juga menjadi kebahagiaan itu sendiri. Para ulama salaf itu mengalami saat-saat bahagia yang luar biasa ketika mereka bergelut dalam aktivitas dakwah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;Subhaanallaah...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ungkapan dahsyat para ulama salaf di atas kiranya dapat menunjukkan bahwa dakwah sebenarnya menjadi “puncak” kebahagiaan para da’i di dunia sebelum sampai ke puncak kebahagiaan yang hakiki di akhirat kelak (bertemu langsung dengan Allah sebagai konsekuensi dari keridhaan resiprokal). Lantas, seperti apakah kebahagiaan di jalan dakwah itu? Kita akan coba merenunginya pelan-pelan pada beberapa rangkai uraian berikut ini&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"  style="font-size:130%;"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sebagian dari kita mungkin masih secara sempit mengartikan dakwah sekedar berbentuk ceramah di masjid, kajian al-Quran dan hadits tiap minggu, tabligh akbar di lapangan besar, dan yang sejenis itu. Ketika kita berpikir sempit seperti ini, boleh jadi kita menganggap bahwa dakwah (berikut kebahagiaan di dalamnya) hanyalah milik para kiyai, guru agama Islam, dan para ulama yang memang secara khusus menekuni ilmu agama Islam. Tidak, anggapan ini sangatlah tidak benar. Kesempatan berdakwah adalah nikmat Allah untuk kita semua. Kita semua, apapun latar belakang pendidikan dan profesi kita, berhak berdakwah. Kebahagiaan di jalan dakwah bukan hanya milik mereka yang sering digelari “al-ustadz”. Kita semua yang mengaku muslim, sangat-sangat berhak dan seharusnya merasakan juga kebahagiaan tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Mungkin ada sebagian dari kita yang kemudian bertanya: Bukankah dakwah itu ada aturannya, ada prinsip-prinsip dan pedomannya? Ya, ini benar sekali. Allah dan Rasul-Nya telah memberikan rambu-rambu ini, yang kemudian dirangkum oleh para ulama dalam bab Fiqh Dakwah. Setiap pribadi yang berjalan di jalan dakwah seyogyanya mempelajari dan memahami bab ini. Namun, bagaimana dengan kita yang bahkan membaca bab ini saja belum pernah, apalagi memahaminya,atau merasa belum memiliki ilmu agama yang cukup? Apakah lantas kita merasa tidak perlu atau menganggap diri kita tidak boleh berdakwah? Saudaraku.., semoga kita tidak berpikir seperti ini karena siapapun kita sebenarnya bisa berproses untuk memiliki pemahaman yang komprehensif dan ilmiah tentang dakwah serta terus memperbaiki diri. Hal yang lebih penting dan utama adalah bagaimana kita mengobarkan ghirah (semangat) dakwah dalam diri dan mencintai dakwah itu sendiri. Semangat dan cinta itulah yang selanjutnya memotivasi kita untuk terus berusaha memahami ilmu dakwah dan meningkatkan kualitas penghambaan kita kepada Allah swt. Dan..tahukah engkau wahai saudaraku.., kita akan sangat semangat dan mencintai sesuatu kalau kita paham bahwa sesuatu itu akan sangat membahagiakan kita. Saat kita memahami kebahagiaan berdakwah, semoga semangat dan rasa cinta itu mulai dan akan terus berkobar dalam dada...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dakwah dalam arti luas berarti mengajak orang lain melalui hikmah dan pengajaran yang baik, agar senantiasa mengesakan Allah serta beramal shalih yang dicintai-Nya sekaligus meninggalkan segala bentuk kemusyrikan, sikap dan perilaku yang dimurkai serta dibenci Allah swt. Ketika diniatkan untuk meraih ridha Allah semata dan berlandaskan kesadaran penuh bahwa mengajak kepada kebenaran adalah amanah tiap muslim, maka setiap perbuatan kita yang sejalan dengan pengertian ini, insya Allah, termasuk dalam kerangka dakwah. Jika demikian, seorang polisi yang bekerja mengatur lalu lintas supaya pengguna jalan berlaku tertib pada hakikatnya telah berdakwah; seorang guru yang mengajarkan ilmunya agar anak didiknya sukses pada hakikatnya telah berdakwah; seorang direktur yang memimpin dengan sebaik-baiknya agar etos kerja anak buahnya meningkat pesat pada hakikatnya telah berdakwah; seorang ibu yang merelakan lebih dari setengah waktunya dalam 24 jam untuk mendidik putra-putrinya pada hakikatnya telah berdakwah; seorang mahasiswa yang memotivasi rekannya agar rajin belajar pada hakikatnya telah berdakwah.. Inilah beberapa contoh yang menunjukkan bahwa betapa banyak kesempatan yang Allah berikan kepada kita untuk bergelut dalam aktivitas dakwah, meskipun terkadang tidak kita sadari. Jika kita memanfaatkan kesempatan-kesempatan emas itu, maka peluang kita untuk meraih kebahagiaan di jalan dakwah semakin terbuka lebar sehingga kebahagiaan itu menjadi milik kita semua, bukan hanya milik kiyai semata…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lantas, dimana sebenarnya letak kebahagiaan berdakwah itu? Pada hakikatnya, seluruh bentuk aktivitas dakwah yang kita lakukan dapat membahagiakan kita jika direnungkan dengan sebaik-baiknya. Namun, ada satu hal yang menurut saya menjadi titik pusat kebahagiaan dalam berdakwah. Titik pusat itu adalah “memberi”. Aktivitas memberi dalam kerangka dakwah bukanlah aktivitas memberi yang biasa-biasa saja. Aktivitas memberi tersebut tercakup dalam maksud firman Allah di surat Ash-Shaff ayat 10 dan 11:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;Kalau kita menjual sesuatu, maka kita memberikan barang kepada pembeli lalu pembeli itu memberikan imbalan kepada kita atas barang tersebut. Analogi inilah yang digunakan Allah untuk menggambarkan perdagangan terdahsyat yang pernah ada! Allah yang membeli (dijelaskan lebih eksplisit dalam surat At-Taubah 111) dan kita yang menjual. Imbalan yang Allah berikan kepada kita adalah sesuatu yang tak ternilai dan tak terbayarkan oleh apapun di seluruh jagat raya ini, yaitu surga (Ash-Shaff ayat 12). Wow, kalau imbalannya surga, lantas apa yang kita jual?? Tentunya sesuatu yang juga tak ternilai. Bukankah tidak mungkin kita memberikan sesuatu yang ternilai lalu mendapatkan imbalan berupa sesuatu yang tak ternilai? Hukum jual beli hanya mengakui transaksi yang dianggap setara; sepotong tempe goreng dihargai 250 rupiah, sebuah Mercedes Benz S-Class dihargai hampir setengah milyar atau bahkan lebih, maka sesuatu yang tak ternilai dihargai dengan sesuatu yang tak ternilai pula!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa “perdagangan” yang dimaksudkan Allah pada ayat di atas mencakup aktivitas “menolong agama Allah” yang disebutkan pada surat Muhammad ayat 7 dan Al-Hajj ayat 40. Berdakwah di jalan Allah adalah ikhtiar yang paling nyata untuk menolong agama Allah sehingga dengan sendirinya ketika kita berdakwah, berarti kita tengah terlibat dalam “perdagangan” terdahsyat itu. Dengan demikian, saat kita berdakwah secara ikhlas, kita sejatinya sedang memberikan sesuatu yang tak ternilai untuk hamba Allah untuk mendapatkan sesuatu yang tak ternilai (surga Allah). Dengan kata lain, nasihat dan ajakan kepada orang lain dalam kerangka dakwah adalah suatu pemberian yang tak ternilai! &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;Subhaanallaah...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Betapa bahagianya orang yang bisa memberikan sesuatu yang tak ternilai, sesuatu yang tidak pantas dibayar dengan ucapan terimakasih, uang, pemberian yang serupa, bahkan dengan seluruh isi alam semesta! Ya, inilah pusat kebahagiaan berdakwah, yakni ketika kita memberikan sesuatu yang tak ternilai. Sesuatu yang tak ternilai bukan berarti tidak punya nilai, tetapi kita tidak sanggup menilainya karena terlalu agung. Sesuatu itu menjadi tak ternilai bukan karena harganya yang mahal secara duniawi atau karena jumlahnya yang banyak, tetapi karena diberikan dengan penuh keikhlasan dalam rangka menghadirkan perubahan yang positif. Orang yang ikhlas dalam memberikan nasihat, mengajak orang lain menuju kebaikan, atau berinfak di jalan Allah tidak pernah mengharapkan balasan dari manusia dalam bentuk apapun, karena secara sadar atau tidak, ia menganggap balasan-balasan duniawi itu tidak akan sanggup membayar apa yang telah ia berikan. Menurutnya, hanya balasan Allah berupa keridhaan dan surga-Nya yang setara dengan nilai perbuatannya itu. Dengan demikian, apa yang diberikan orang ikhlas itu telah menjadi sesuatu yang tak ternilai dan hanya bisa dibalas dengan sesuatu yang tak ternilai pula!.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lalu bagaimana dengan orang yang tidak ikhlas dalam berdakwah? Orang-orang yang tidak ikhlas dalam berdakwah boleh jadi memberikan hal yang sama dengan orang yang ikhlas. Namun, sayang sekali, ia sendiri (dengan bantuan syaithan) yang menurunkan derajat pemberiannya itu yang seharusnya tak ternilai menjadi ternilai. Hal ini disebabkan ia “menerima” dengan senang hati penilaian manusia terhadap pemberiannya itu. Na’udzubillah min dzaalik...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;Saudaraku...,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;Sekali lagi, titik pusat kebahagiaan dalam berdakwah berada pada pemberian yang tak ternilai dan ketidakternilaiannya itu hanya bisa diraih dengan keikhlasan. Dari titik pusat itu, keluarlah jari-jari kebahagiaan yang akan membentuk lingkaran keberkahan hidup. Lingkaran itu terus meluas selama kita istiqamah di jalan dakwah. Jari-jari kebahagiaan yang sekarang terlihat mungkin tidak banyak, tetapi kita harus sadar bahwa jari-jari itu sebenarnya berjumlah tidak terhingga, karena titik-titik yang membentuk keliling lingkaran juga tidak berhingga jumlahnya. Semakin luas lingkaran keberkahan, maka secara otomatis jari-jari yang tak berhingga itu pun semakin banyak. Jari-jari kebahagiaan itulah yang membentuk kekayaan hakiki di dunia dan akhirat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Itulah perumpamaan sederhana tentang melimpahnya keberkahan hidup selama kita berada di jalan dakwah. Keberkahan itu di alam dunia berbentuk keterjagaan dalam keshalihan, ketenangan hati, dan kelapangan rizki. Insya Allah, berbagai bentuk kebahagiaan “kecil” di dunia selama kita berada di jalan dakwah akan membawa kita kepada kebahagiaan “besar” di kampung akhirat kelak. Kebahagiaan “besar” itu adalah keridhaan resiprokal dan surga-Nya yang teramat tinggi. Allaahumma Innaa nas-aluka ridhaaka wal jannah, wa na’uudzubika min sakhatika wa an-naar...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;Wallahu a’lam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-weight: bold;font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;Daftar Pustaka :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt; *Al-Quranul Kariim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;*Katsir, Ibnu.Tafsir Ibn Kathir (digital format)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;*Madjid, Nurcholish.Pesan-Pesan Takwa.2000.Jakarta:Paramadina&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;*Mahmud.Ali Abdul Halim Mahmud.Dakwah Fardiyah: Metode Membentuk Pribadi Muslim.1995.Jakarta:Gema Insani Press&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;*Marpaung, Parlindungan. Setengah Isi Setengah Kosong.2005.Bandung:MQS Publishing&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;*Nursani, Muhammad.Berjuang di Dunia Berharap Pertemuan di Surga.2005.Jakarta:Tarbawi Press&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;*Setyawan, Palgunadi T. Daun Berserakan Sebuah Renungan Hati.2004.Jakarta:Gema Insani Press&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;*Yasmin, Ummu. Materi Tarbiyah.2003.Solo:Media Insani Press&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;Taushiyah di lingkungan Keluarga Remaja Islam Salman (Karisma) ITB&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span lang="id"  style="font-size:130%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span lang="id"  style="font-size:130%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span lang="id"  style="font-size:130%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Calibri;font-size:130%;"  lang="en-US" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span lang="id"  style="font-size:130%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-1763643523474971809?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/1763643523474971809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=1763643523474971809' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/1763643523474971809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/1763643523474971809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/04/semburat-bahagia-di-jalan-dakwah.html' title='Semburat Bahagia di Jalan Dakwah'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7248415220456364162.post-8201516643860189638</id><published>2008-04-13T15:01:00.002+07:00</published><updated>2008-04-13T15:52:51.769+07:00</updated><title type='text'>Smart Card, Solusi atau Masalah ?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoAccentText7" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;Andhika Saputra&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoAccentText7" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Calibri; font-weight: normal;" lang="en-US"&gt;Ketua Departemen Pengkaderan, Pengembangan SDM dan KOKAM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoAccentText7" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Calibri; font-weight: normal;" lang="en-US"&gt;Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Tebet Timur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="id"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 114%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="float: left; clear: left; font-size: 40pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: normal; font-weight: normal;" lang="id"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt;Saat ini bangsa Indonesia mengalami berbagai macam cobaan dan ujian yang datang terus-menerus. Keterpurukan menyelimuti bangsa ini dan hampir di setiap lini kita mengalami kesulitan mulai dari bencana alam sampai kebijakan pemerintah yang tidak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic;" lang="id"&gt;pro &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt;kepada rakyat. Awal Maret, kita dikagetkan dengan adanya kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang semakin menyulitkan perekonomian rakyat. Ditambah lagi, naiknya harga minyak mentah dunia yang berada dikisaran lebih dari 100 Dollar (AS) per barel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 114%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt;Naiknya harga minyak mentah dunia terdapat efek samping cukup besar yang akan dirasakan rakyat Indonesia. Pemerintah tidak sanggup lagi mensubsidi secara penuh BBM, karena harga minyak jauh dari perkiraan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2008. Perlu diketahui nilai subsidi BBM tahun anggaran 2008 sebesar 45,8 triliun, kemudian diadakan perubahan APBN 2008 menjadi 102,1 triliun. Menurut Kepala Divisi RITEL BBM Pertamina, Djaelani Sutomo mengatakan, “Saat ini konsumsi nasional pertamax dan pertamax plus baru sekitar 0,5 juta kiloliter/tahun. Bandingkan dengan pemakaian premium yang mencapai 17 juta kiloliter/tahun.” (KOMPAS, 2007). Dari hasil analisis ini, pemerintah harus berupaya keras mengatasi masalah tersebut agar tidak membebani keuangan negara (menghemat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt; anggaran subsidi BBM) dan juga tidak menimbulkan gejolak di masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27.75pt; line-height: 114%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt;Beberapa solusi serta opsi muncul di kalangan pemerintah, yang pada akhirnya solusi yang diambil adalah membatasi volume pemakaian BBM jenis premium dan solar. Menurut Menteri Koordinator Perekonomian, Boediono, “Pembatasan penggunaan premium adalah langkah efektif yang mungkin bisa diterapkan saat ini.” Untuk membatasi penggunaan BBM jenis premium dan solar adalah dengan cara penggunaan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic;" lang="id"&gt;Smart Card&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt; (kartu pintar).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 114%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 114%;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 114%; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;; font-style: italic; font-weight: bold;" lang="id"&gt;Smart Card&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 114%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic;" lang="id"&gt;Smart card&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt; (kartu pintar) adalah stiker yang memiliki kode angka (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic;" lang="id"&gt;barcode&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt;) diperuntukkan bagi kendaraan pribadi yang menggunakan BBM bersubsidi. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic;" lang="id"&gt;Smart card&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt; ini ditempel di kaca kendaraan dan bersifat permanen. Sehingga tidak dapat dipindahtangankan atau dicopot. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic;" lang="id"&gt;Smart card&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt; menggunakan teknologi digital yang semua data-data kendaraan pibadi sudah termuat di dalam komputer dan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic;" lang="id"&gt;online&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt; 24 jam. Dengan alat kendali ini, pengguna sepeda motor, mobil dan kendaraan umum tidak bisa lagi membeli bensin semaunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 114%; text-align: justify;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 114%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt;Reporter SCTV, Jasmine Valentine melaporkan, Rabu (13/02) kemungkinan alokasi premium yang akan diterima konsumen adalah pemakai motor 0,5-1 liter/hari, mobil 4-5 liter/hari dan kendaraan umum disubsidi penuh. (Liputan 6.com, 2008). Jika jatah pembeli hanya 5 liter perhari maka ketika membeli 10 liter harus membayar sisa 5 liter dengan harga lebih mahal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 114%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt;&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;Total target penghematan penggunaan BBM sebesar 10 triliun dengan pembatasan konsumsi premium dan solar sekitar 7-8 triliun dan untuk minyak tanah sekitar 2-3 triliun. Sedang biaya yang diperlukan untuk &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic;" lang="id"&gt;smart card&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt; sebesar 250 milyar. Rencananya program ini akan berjalan pada bulan Mei atau Juni 2008 di wilayah Jabodetabek dan selanjutnya mencakup seluruh Jawa dan Bali hingga akhir 2008. Sebenarnya ide pembatasan BBM dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic;" lang="id"&gt;smart card&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt; berasal dari Inggris. Ini dimulai tahun 1998 ketika harga BBM naik, di Inggris &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic;" lang="id"&gt;smart card&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt; digunakan untuk mensubsidi rakyatnya yang menderita &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic;" lang="id"&gt;Fuel Poverty&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic;" lang="id"&gt;Fuel Poverty &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt;adalah rumah tangga yang menggunakan lebih dari sepertiga pendapatan untuk membeli BBM (untuk listrik, masak dan alat penghangat). Tapi karena kompleksnya masalah, pemerintah Inggris berharap pada 2016 keputusan yang diambil tepat pada sasaran. Dengan begitu, Inggris butuh waktu 18 tahun untuk mengatur semuanya agar subsidi tidak meleset, mengatur infrastruktur dan mencegah kemungkinan penyelewengan dengan segala macam aturan dan ancaman-ancaman hukuman bagi pelanggarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 114%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 114%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-weight: bold;" lang="id"&gt;Kontradiksi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic; font-weight: bold;" lang="id"&gt;Smart Card&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 114%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt;Diterapkannya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic;" lang="id"&gt;smart card&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt;, sedikit banyak akan menimbulkan gejolak di masyarakat. Apalagi jika tidak ada sosialisasi pastinya akan ada kekacauan. Sepintas &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic;" lang="id"&gt;smart card&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt; memang memberikan jalan keluar, tapi sifatnya mancari upaya penghematan BBM jangka pendek. Rencana ini harus diperhitungkan, jangan sampai aksi jangka pendek ini tidak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic;" lang="id"&gt;nyambung &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt;dengan kondisi jangka panjang. Ini bukanlah langkah bijaksana, banyak masalah yang akan timbul dari diterapkannya sistem ini. Jika perencanaan tidak matang dan pengawasan tidak ketat pastinya banyak terjadi kebocoran dan kecurangan, misal, bisa saja petugas SPBU berbuat curang dengan memberikan BBM bersubsidi lebih dari kuota yang ditetapkan untuk kendaraan. Selain itu distribusi barang-barang kebutuhan pokok dan lainnya dipastikan terhambat serta ruang gerak pelaku ekonomi jadi terbatas. Sehingga akan terjadi penyeludupan atau pasar gelap premium dan solar dan berbagai macam penipuan atas penggunaan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic;" lang="id"&gt;smart card&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 114%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ketua umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sofjan Wanandi melihat pembatasan ini akan berdampak pada perkembangan industri. “Masyarakat akan semakin selektif dalam berbelanja. Mereka akan lebih mengalokasikan uangnya untuk kebutuhan BBM.” (Koran SINDO, 2008). Di Inggris membutuhkan 18 tahun&lt;span style=""&gt;             &lt;/span&gt;untuk mengimplementasikan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic;" lang="id"&gt;smart card&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt;, bayangkan di Indonesia yang dalam kurun waktu kurang dari setahun akan menerapkan sistem ini. Sepertinya pemerintah masih terpesona dengan keajaiban Loro Jonggrang yang bisa membangun Candi Prambanan hanya semalam. Hampir dipastikan kebijakan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic;" lang="id"&gt;smart card&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt; akan bernasib sama bahkan lebih kacau dibanding kebijakan Pemda DKI (Perda Antirokok), Bantuan Langsung Tunai (BLT), POLRI (penggunaan lampu bagi pengguna motor), dll. Semuanya hanya seumur jagung dan menjadi kebijakan “3M” : Menggagas, Melaksanakan dan Menghilang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 114%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="en-US"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt;Sekretaris Jenderal Komite Indonesia untuk Pengawasan Energi (KIPPER), Sofyano Zakaria, menilai bahwa konversi BBM ke gas lebih efektif daripada pembatasan BBM.“Pengalihan penggunaan BBM ke gas mempunyai dampak sosial lebih kecil daripada pembatasan BBM.” Sehingga selain menghemat anggaran juga mengurangi polusi kendaraan bermotor. Muncul gagasan lain, pemerintah harus menyediakan jasa angkutan umum yang aman, nyaman dan tepat waktu. Jika kita memiliki transportasi publik seperti yang diharapkan, maka kemacetan akan berkurang, menghemat BBM dan udara Jakarta lebih bersih. Ada juga gagasan pemberlakuan pajak BBM bagi pemilik kendaraan lebih dari satu seperti yang sudah diterapkan di Malaysia. Sebenarnya banyak ususlan dari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt; kalangan masyarakat dan DPR tetapi pemerintah kita tidak akomodatif terhadap usulan-usulan tersebut. Sekarang masyarakat tinggal menunggu apa yang akan terjadi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Segala upaya patut dicerca dan dimaki, tapi juga patut kita apresiasi sebagai bukti kesungguhan pemerintah dalam mengusahakan keberlanjutan hidup kita di masa yang akan datang. Pemerintah harus tegas menentukan pihak yang mengimplementasikan dan mengontrol pelaksanaan kebijakan ini agar dapat menghindari praktik manipulasi. Mudah-mudahan segala yang dilakukan pemerintah benar-benar untuk rakyat dan rakyat harus mendukung program-program yang dilakukan pemerintah demi kemaslahatan kita semua. Juga segala krisis yang menimpa bangsa ini dapat segera berakhir dan tuntas. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri; font-style: italic;" lang="id"&gt;Wallahu‘alam bisshawab…&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 114%; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;;" lang="id"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 114%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 114%; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;;" lang="id"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: black; font-weight: bold;" lang="id"&gt;Daftar Pustaka : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: black;" lang="id"&gt;KORAN SINDO, Pembatasan BBM Menyeluruh, Jumat, 08 Februari 2008.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: black;" lang="id"&gt;KOMPAS, Sabtu, 1 Desember 2007.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: black;" lang="id"&gt;Liputan 6.com, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: black; font-style: italic;" lang="id"&gt;smart card kartu BBM bersubsidi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Calibri; color: black;" lang="id"&gt;, 2008.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="id"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 114%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 114%; font-family: Calibri;" lang="id"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 114%; font-family: &amp;quot;Franklin Gothic Book&amp;quot;;" lang="id"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="" lang="id"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7248415220456364162-8201516643860189638?l=pcpm-tebettimur.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/feeds/8201516643860189638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7248415220456364162&amp;postID=8201516643860189638' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/8201516643860189638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7248415220456364162/posts/default/8201516643860189638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pcpm-tebettimur.blogspot.com/2008/04/smart-card-solusi-atau-masalah.html' title='Smart Card, Solusi atau Masalah ?'/><author><name>pcpm-tebettimur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02045998478762564164</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://bp0.blogger.com/_9jITEpZXM88/SAHETSxoEEI/AAAAAAAAAAM/AoGDTRXpKps/S220/Pemuda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
